Berdaulat dalam Kebudayaan, Berdikari Melalui Sumber Daya Alam

0
718

Cigugur, Kuningan—Indonesia merupakan sebuah Negara yang sangat kaya raya akan Sumber Daya Alam (SDA). Itulah yang kemudian disadari oleh para founding father, dan membuat UUD 1945 yang mengatur sumber daya tersebut agar dapat memakmurkan rakyat.

Sebagai wilayah, alam memiliki efek sosial terutama terhadap budaya atas manusia yang menempatinya. Di mana hal ini dapat dilihat dari beberapa ritual yang dijalani masyarakat setempat.

Inilah yang melatarbelakangi diadakannya diskusi antara masyarakat adat dan korban terkait dengan SDA, pada Sabtu (26/10), di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kuningan. Hal ini sesuai dengan tema besar Seren Taun 1946 saka sunda “Berdaulat dalam Kebudayaan, Berdikari melalui Sumber daya Alam”.

Di mana pada realitasnya sering terjadi konflik antara rakyat dan pihak yang akan atau sedang mengeksplorasi wilayah baik di darat ataupun di laut. Terutama barang tambang tak tergantikan yang akan habis apabila dipakai terus-menerus.

“Hubungan antara budaya itu sangat erat dengan sumber daya alam dari segi sosial. Oleh karena itu konflik- konflik yang terjadi atas alam, akan mengakibatkan dampak sosial yang besar,” ungkap Surti Handayani, warga Banyuwangi yang membagi pengalamannya terkait konflik tambang emas di Tumpang Pitu, Banyuwangi.

Hal tersebut, lanjut Surti, berarti menandakan ada sebuah ketimpangan dalam kedaulatan atas Negara terhadap perusahaan, untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai dengan UUD 1945 pasal 33.

“Ini sebuah lampu kuning bagi Indonesia, karena sekarang ini sumber daya alam itu rasa-rasanya tidak lagi dikuasai Negara. Sudah mulai dikuras dengan satu nafsu kerakusan,” tutur Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Wiranto, SH, ketua umum partai Hanura. (Diaz)