Blakasuta Radio Gelar Diskusi dan Pemutaran Film Turah

0
833
Puluhan orang mengikuti diskusi dan pemutaran film Turah di Gedung Gus Dur Kompleks Fahmina, Senin malam (8/5) (foto;dev)

Fahmina.or.id, Cirebon. Blakasuta Radio bekerjasama dengan komunitas Cinema Cirebon dan DEMA ISIF Cirebon menggelar diskusi dan pemutaran film Turah produksi Fourcolours Films di gedung Gus Dur Kompleks Fahmina Institute Cirebon, Senin malam. (8/5).

Film besutan sutradara  Wicaksono Wisnu Legowo itu, menghadirkan potret kehidupan masyarakat Kampung Tiram sebuah daerah di pesisir pantai utara di  Tegal Jawa Tengah. Terdapat dua tokoh sentral Turah dan Jadag meraka melakukan bentuk perlawan terhadap saudagar lalim yang memanfaatkan tenaga mereka dengan tidak adil hanya  untuk mendulang kekayaan di atas tanah timbul yang mereka diami.

Film yang diputarkan langsung melalui saluran Blakasuta Radio 106.9 FM itu mendapatkan apresisasi positif dari para penonton dan pendengar. Abdullah,  salah satu penonton mengungkapkan kekagumannya karena setting tempat yang begitu alami dan melibatkan masyarakat lokalnya sebagai pemerannya yang jarang dialkukan film lain.

“Saya mengapresiasi film Turah ini dengan konsep desa banget, pemeran asli orang situnya. Jarang film lain  melibatkan sosok asli desanya dan ini bisa terjadi setahu saya di luar negeri,  tapi di film ini membuktikan ada,” katanya.

Menurut Lala koordinator  Cinema Cirebon, mengatakan  tokoh Turah dan Jadag itu simbol perlawanan di desanya.  Kampung Tiram yang memang benar adanya bahkan sampai sekarang kampung itu masih terisolir.  Film ini tidak menempatkan instrumen musik sama sekali sepanjang adegannya dan menjadi ciri khas tersendiri.

“Film ini tidak ada storing musik sama sekali, semua suara alami. Ini menunjukkan kesan kampung orang terbuang bahkan menyalakan listrik menggunakan lampu pijar,” katanya.

lain halnya Marleni, ia menilai film ini sangat menarik dan perlu diputarkan di kampung-kampung untuk menyegarkan dan mengingatkan pentingnya perlawanan terhadap ketidak adilan.

“Film ini perlu diputar semisal layar tancap yang di putarkan di acara masyarakst seperti nadran, kita bisa belajar dari film” harapnya..

Selain itu Devida, mengatakan,  proses pendokumentasian kegiatan dan gerakan itusangat penting, menurutnya banyak sejarah perlawanan tidak terdokumentasikan sehingga seolah tanpa perlawanan terhadap penindas.

“Terutama Cirebon kelemahan kita soal dokumentasi, banyak sejarah perlawanan tanpa dokumentasi. Kita kemana-mana tapi gk punya data. Film ini berbicara sesuatu apa adanya hasil dari pendokumentasian perlawanan itu,” katanya.

Dalam kesempatan itu ia menyampaikan Blakasuta Radio selain mendokumentasikan hal-hal yang jarang tersentuh orang sekaligus menyuarakannya kembali kepada masyarakat, seperti pemutaran film kali ini. Blakasuta Radio memiliki program live streaming setiap malam Minggu diskusi sosial Komunitas Ghuraba Circle dan Setiap Hari Senin Pelatihan Jurnalistik. ada juga program Mindra Budaya yang akan mengulas seputar kebudaayaan lokal yang menghadirkan praktisi budayanya.

“Kita berangkat dari kesadaran untuk memyalurkannya ilmu disampaikan kepada  masyarakt bukan donimasi kapitalisme global semata. Film ini juga memberikan inspirasi untuk kemanusiaan sebagai mana moto kami,” tukas direksi program Blakasuta Radio

Sebelumnya Film Turah menyabet berbagai penghargaan, seperti Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival, Special Mention dalam Singapore Internasional Film Festival 2016 dan sukses di pemutaran film di 9th Bengaluru Internasional Film Festival 2017, India. (Zen AB)