Salahsatu peserta berbagi pengalaman di depan forum perempuan pegiat perdamaian di Kwali, Kenya, Sabtu, (17/11). (foto:alif)

Oleh: Alifatul Arifiati

Di halaman anak-anak bermain bersama ada yang berkejaran, sekadar ngobrol atau bermain tanah. Salah satu anak perempuan berlari meninggalkan teman-temannya. Matanya nanar menahan lapar, tak tau tujuan, pandangannya menangkap sebuah warung sangat sederhana.

Perutnya yang lapar menuntun kaki-kaki kecilnya menuju warung mendatangi laki-laki sebaya Ayahnya. “Beri aku 100, aku lapar”,mohon sang gadis mungil. Laki-laki menjawab kepada anak10 tahun itu, “saya beri kamu 100, tapi tidur dengan  saya”.  

Kenya Negara Penderita HIV/AIDS Terbanyak di Afrika

Bagaimana perasaanmu dan apa yang kamu fikirkan ketika membaca sepenggal cerita tersebut? Aku sungguh tidak bisa menahan tangis, bahkan saat menuliskannya, jantung berdegub keras karena marah. Apalagi saat pertama kali mendengarkan cerita ini dari Ibu-Ibu di Kwali, salah satu counties (daerah) di Kenya, Afrika. Cerita ini bukan hanya satu, tapi puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan dari skeian banyak kekersan dan pelecehan terhadap perempuan dan anak di sana.

Inilah yang menyebabkan banyak sekali kasus kehamilan pada anak di Kenya, terutama di Kwali, tempat saya dan 3 teman dari Indonesia, 1 Pakistan, dan 1 dari Belanda, mendengarkan berbagi pengalaman para perempuan pegiat perdamaian di Kenya. Seperti yang kita tahu bahwa Afrika termasuk dalam 5 (lima) negara penderita HIV/AIDS terbanyak versi WHO, dan Kenya masuk dalam 5 terbanyak di Afrika.

Persoalan kehamilan pada anak ini menjadi isu yang sangat meresahkan para perempuan pegiat perdamaian ini, saya menyimpulkan demikian, karena ketika diminta berbagi pengalaman tentang persoalan-persoalan perempuan dan anak. Kehamilan pada anak inilah yang pertama mereka sampaikan. Hampir setiap orang yang hadir memiliki pengalaman yang miris terkait penanganan dan pendampingan kehamiilan pada anak. Dari 20 perempuan yang hadir, 2 diantaranya adalah politisi (anggota parlemen di counties).

Seperti halnya di Indonesia, hukum positif Kenya tidak membolehkan aborsi. Tetapi aborsi tetap dilakukan dengan cara yang tidak aman sama sekali, mereka datang ke orang yang dianggap ‘bisa’ melakukan aborsi tanpa ada kepastian keamanan dan kesehatan. Seringkali para perempuan meregang nyawa di ruang aborsi. Para perempuan penggerak ini, mereka datang ke pemerintah, hampir setiap hari berteriak tentang daruratnya kehamilan anak di daerah mereka, namun belum ada solusi dari pemerintah.

Kehamilan pada anak ini adalah salah satu akibat dari lemahnya kesejahteraan ekonomi masyarakat, juga tentu saja ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan. Banyak sekali anak-anak di Negara ‘Horn of Africa’ ini yang ditinggalkan oleh orang tuanya sampai beberapa hari tanpa makanan dan tanpa uang. Ayah entah pergi kemana sedangkan Ibu pergi mencari kerja di tempat yang jauh, karena tempat mereka tinggal tidak ada yang dapat menerima mereka menjadi pekerja, karena pendidikan bagi perempuan juga sangat sulitnya aksesnya.

Sedangkan untuk bekerja, mereka harus ‘berpendidikan’ setidaknya pendidikan dasar. Salah satu perempuan penggerak berucap, “bahkan untuk menjadi pekerja rumah tangga, mereka harus bisa baca tulis, karena para majikan menginginkan anaknya bukan sekadar dirawat tetapi dibimbing”. Jika begitu, perempuan miskin mana yang bisa mendapatkan pekerjaan?.

Salah seorang temanku berujar, “kenapa para perempuan itu tega meninggalkan anaknya?”, aku pun merespon pertanyaannya dengan marah “tega?”, apakah masih disebut tega, jika tidak ada situasi yang mendukung perempuan untuk mendapatkan pekerjaan sekadar untuk makan dia dan anak-anaknya? Jika keahlian yang dia dapatkan dari alam tidak dianggap sebagai keahlian untuk bekerja, alam yang memberi dia dan keluarganya makan telah dirampas oleh para pengusaha? Masihkah disebut tega. Justru kita yang telah tega menuduhnya..

Cerita tentang Kenya tidak hanya cerita tentang sedih, selain pemandangannya yang sangat indah, terutama tempat dimana kami tinggal, di salah satu penginapan di Pantai Diani, Ukunda. Orang-orang di sini juga sangat ekspresif. Mereka menyampaikan kegembiraan, kemarahan, kesedihan dengan kuat. Jadi ketika mendengarkan cerita mereka, kita juga seolah ikut larut dalam dunia mereka.

Mereka juga sangat ramah, mudah diajak ngobrol dan juga tersenyum. Temanku bilang persamaan orang Indonesia dengan orang Kenya itu satu, apapun kondisi mereka walaupun mereka sedang tidak punya pekerjaan, tidak bisa makan, mereka tetap tersenyum.

Judge a book by its cover

Dalam satu forum yang sama ada 2 assatidzah (pendakwah). Dua-duanya memakai gamis longgar dan panjang menutup kaki yang lain memakai burqah (cadar). Setelah selesai acara  saya baru tahu, sebenarnya dua-duanya bercadar, hanya saja, perempuan yang satu ketika di forum dia membuka cadarnya.

Ketika pertama kali melihat mereka di ruangan, pikiran negatifku muncul. Dua perempuan bercadar ini mungkinkah mereka memiliki keberpihakan pada perempuan, jangan-jangan mereka menjadi bagian dari kelompok-kelompok fundamentalis. Bahwa perempuan tidak berhak setara dengan laki-laki. Duh, belum apa-apa, aku sudah gemes dibuatnya.

Ternyata, saya masih judge a book by its cover, belum bisa adil sejak dalam pikiran. Apa yang saya pikirkan sama sekali berbeda dengan apa yang saya dengarkan dari suara lantang mereka berdua. Prasangka terhadap mereka hilang tak berbekas ketika salah satu dari mereka katakan harus memberikan pendidikan dan pengalaman yang seluas-luasnya kepada perempuan. Maka lingkungan mereka juga akan cerdas. bukan hanya perempuannya saja.

Ya, kalimat yang disampaikan oleh dua perempuan itu sering saya dengar, tetapi kenapa terlihat sangat merdu di telinga pada saat itu ya? “mendidik satu perempuan, artinya mendidik satu generasi”. Saya yakin dan optimis untuk masa depan generasi muda Kenya, terutama untuk Kwali, karena para perempuan yang saya temui, terkhusus dua perempuan ini, yang saya lupa namanya.