Cerita Fadlan: Perubahan Sosial Butuh Kerja Tim yang Solid dan Inovatif

0
146
Cerita Fadlan: Perubahan Sosial Butuh Kerja Tim yang Solid dan Inovatif

Oleh: Omen Sandriyanie

Fadlan, anak muda yang tumbuh dalam kultur Nahdliyin. Di kampungnya, Bangodua Kecamatan Klangenan, kultur yang mengakar kuat dalam keseharian warga rata-rata ditunjukkan melalui amaliah Ahlussunnah Wal Jamaah di langgar warga atau dikenal juga Musholla. Letak kampung Bangodua sendiri berjarak radius 5 kilometer dari pusat administrasi Kabupaten Cirebon.

Kampung Bangodua, bagi Fadlan, memiliki kekhasan yang unik, terutama perihal relasi sosial antar warganya dalam urusan keagamaan. Pada satu sisi, terlihat adanya dinamika antara sebagian warga yang taat dalam urusan keagamaan dan sebaliknya, sementara pada sisi lain, situasi tersebut tidak menimbulkan jarak dan ketegangan dalam kehidupan sosial.  Bahkan pada banyak hal justeru terjadi pembaruan yang begitu kuat. Relasi sosial yang harmonis, dianggap punya dukungan pada pembentukan karakter pada diri Fadlan. Menurutnya, lingkunganlah yang membentuk karakternya dewasa ini yang cukup luwes.

Pada aspek pengajian keagamaan, di Bangodua, ditemui pola yang masih cukup mempertahankan nilai tradisional. Melalui kelas-kelas yang dibuat secara harian, mingguan dan bulanan, pengajian secara alternatif diajarkan di rumah pemuka agama. Tak jarang, proses tersebut juga dilakukan di langgar warga. Ruang-ruang semacam itu jadi alternatif tersendiri, bagi remaja yang menempuh sekolah formal. Seperti juga Fadlan, yang sejak kecil sampai remaja menghabiskan nyaris sebagian waktu untuk aktivitasnya di sekolah. Kehadiran kelas belajar alternatif agama punya peran signifikan dalam menanamkan ajaran dasar agama, tanpa meninggalkan bangku sekolah.

Adalah Ustadzah Shofuroh, satu di antara sekian orang dari pemuka agama yang membuka kelas alternatif di kediamannya, di Kampung Bangodua. Sosok ini, seperti yang terekam dalam ingatan Fadlan, adalah pribadi yang tekun, gigih dan punya pandangan terbuka. Sosok ini juga, yang kemudian, membawa ingatan-ingatan pada masa kecil Fadlan dengan suasana belajar mengaji saat bakda Magrib dan Isya. Suasana di mana kehidupan adalah tentang keriangan dan kebahagiaan tanpa henti bersama kawan-kawan satu kelas pengajian. Serta melalui sosok ini juga, Fadlan dihubungkan dengan kerja-kerja Fahmina.

Melalui training anak muda untuk gotong royong dalam isu perdamaian yang diselenggarakan pada Agutus 2019 silam adalah momentum kali pertama Fadlan dipertemukan dengan Fahmina. Ia didelegasikan sebagai perwakilan dari kampung Bangodua. Selama tiga hari mengikuti pelatihan, terdapat hal-hal baru yang didapatnya, meliputi pengalaman, pengetahuan dan jejaring pertemanan. Di sanalah juga, Fadlan mendapat dorongan untuk merefleksikan setiap proses kehidupan yang telah dan akan dilewati ke depan.

Dari sekian proses dalam traning, ada hal yang dianggap paling membekas bagi Fadlan. Ia melihat untuk remaja seusianya, sesi ice breaking dan games lebih mudah terinternalisasi sebagai sebuah metode pembelajaran. Ia menceritakan kembali dari keseluruhan materi yang didapat selama training, terdapat banyak hal yang menguatkannya, betapa membangun kerja-kerja sosial dalam isu perdamaian membutuhkan kerja tim yang solid dan inovatif. Aspek pada dua hal itu, dilihatnya sebagai gerbang awal membentuk karakter kepemimpinan. Saat seseorang mampu mengonsolidasikan kerja tim lalu berusaha merumuskannya dalam kerja-kerja yang inovatif di situlah jiwa kemimpinan seseorang mulai terbentuk.

Keragaman latar belakang peserta, baik dari aspek identitas gender, suku, wilayah dan organisasi keagamaan dijumpai saat pelaksanaan training. Perjumpaan dengan ragam identitas adalah kesempatan pertama bagi Fadlan. Perjumpaan tersebut, selain memang memperkuat pengetahuannya mengenai dasar-dasar kepemimpinan anak muda, materi mengenai perdamaian dan gotong royong, juga mendorong tumbuhnya sikap toleran berupa penghargaan kepada yang liyan. Itu termanifestasikan melalui komunikasi aktif oleh Fadlan bersama peserta dari kelompok lain seperti Kristen dan komunitas Ahmadiyah.

Pengalaman adalah guru terbaik. Begitulah pepatah lama yang terus punya makna sepanjang zaman. Pengalaman Fadlan berproses selama tiga hari pada training kepemimpinan anak muda untuk gotong royong jadi ikhtiar awal keluar dari ‘zona nyaman-nya’ sebagai anak muda yang sebelumnya pasif terhadap isu sosial menuju sikap yang lebih aktif terhadap pentingnya bekerja untuk kemanusiaan. Beberapa bulan setelah perjumpaan dengan kegiatan Fahmina, ia misalnya, terlibat dalam mengorganisir pertemuan warga desa yang mendiskusikan soal pendidikan kesehatan repdoksi dan problem lain yang dihadapi warga meliputi pengolahan sampah.

Mengenai praktik pendidikan perdamaian, Fadlan bertekad membuat semacam ruang alternatif anak muda di kampungnya, Bangodua, melalui instrumen seni dan budaya. Aktivitasnya yang tergabung dalam pengurus Ikatan Remaja Masjid (Irmas) di Bangodua, membulatka tekadnya itu bahwa kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan di langgar warga dapat didorong untuk terlibat dalam pendidikan perdamaian. Peran-peran yang penting dilakukan komunitas keagamaan adalah menyuaraikan mengenai isu kemanusiaan dan kebangsaan. Dan melalui seni-budayalah, suara-suara itu lebih mudah tersampaikan. Ruang yang, masih dalam tahap perancangan tersebut, kendati masih direncanakan implementasi di tahun depan, merupakan produk ide yang dihasilkannya setelah mengikuti training bersama Fahmina.