ilustrasi hawaa

Oleh: Abdul Rosyidi

Berhala itu kini bukan patung-patung itu. Tapi dia ada di dalam pikiran kita. Apa yang pernah disebutkan dalam Al-Quran sebagai ‘hawaa’. Sebuah hasrat.

Manusia memuja Dia Yang Maha Kuasa. Sebagai kekuatan yang tiada tara, Adi manusia. Karena begitu luhurnya, Dia tak terjamah dan tercerna akal.

Manusia itu terbatas dan nisbi. Penilaiannya terhadap sesuatu tak pasti, tak mutlak dan tak ajeg. Hanya Tuhan yang mutlak benar.

Tapi manusia tak kuasa diam dalam ketiadaan Tuhan. Mereka pun mencipta patung-patung sebagai media mendekatiNya. Sebagai alat untuk selalu bersama. Sebagai media untuk sampai kepadaNya.

Lambat laun, patung sebagai media itu menggantikan Tuhan sebenarnya. Tanda-tandanya jelas, patung sebagai ciptaan manusia lebih dimuliakan dibandingkan manusia yang merupakan ciptaan Tuhan.

Manusia dibunuh dan direndahkan demi melestarikan pemujaan berhala. Ini sudah keliru.

Manusia kembali menyembah pada yang sebenarnya Tuhan saat dia kembali pada kodrat kemanusiannya. Memuliakan manusia sebagai ciptaan Tuhan.

Manusia lupa pada kodrat kemanusiaannya.

Para Nabi mengingatkan kita untuk kembali padaNya. Perlakuan kepada manusia pun kembali pada jalan mulia. Derajat orang-orang fakir, miskin, dhuafa, para jompo, perempuan dan siapapun yang terpinggirkan kembali terangkat.

Manusia kembali menyembah pada yang sebenarnya Tuhan saat dia kembali pada kodrat kemanusiannya. Memuliakan manusia sebagai ciptaan Tuhan.

Tapi sepeninggal Nabi, semua ajarannya mandeg dan membeku menjadi doktrin. Manusia setelahnya menciptakan konstruksi sendiri tentang Tuhan.

Lama kelamaan, konstruksi ini menjadi berhala baru. Menggantikan patung-patung tempo dulu.

Konstruksi manusia tentang Tuhan menggantikan Tuhan. Konstruksi itulah yang memperdaya kita dan seringkali menjadi alasan untuk membunuh sesama manusia.

Berhala itu kini adalah ideologi kita yang picik. Mengaku benar sendiri dan mengkafirkan yang lain.

Kata-kata Tuhan digunakan untuk kebohongan, melukai orang, menghina orang, dan merendahkan orang lain. Saat itulah kita sedang menyembah berhala. Hawaa.

Berhala itu kini bukan patung-patung itu. Tapi dia ada di dalam pikiran kita. Apa yang pernah disebutkan dalam Al-Quran sebagai ‘hawaa’. Sebuah hasrat.

Berhala yang tak terlihat ini lebih berbahaya dibandingkan patung-patung itu. Dia akan bisa kita kenali saat ada kata-kata Tuhan diucapkan tapi justru kekerasan yang dipertunjukkan.

Kata-kata Tuhan digunakan untuk kebohongan, melukai orang, menghina orang, dan merendahkan orang lain. Saat itulah kita sedang menyembah berhala. Hawaa.

Ayo introspeksi, jangan-jangan kita sendiri adalah para penyembah berhala. Bukan mereka yang kita tuduh-tuduh itu.[]