Kamis, 10 Oktober 2019

Debat Nasi Goreng : Santri Tekstual Vs Kontekstual

Oleh: KH. Husein Muhammad

Baca Juga

Waktu sudah mendekati tengah malam. Sekitar pukul 23.00 WIB. Keadaan di luar rumah telah sepi. Pengajian kitab “Adab al-Dunya wa al-Din”, karya Imam al-Mawardi”, usai sudah. Para peserta pengajian pulang ke tempatnya masing-masing. Perutku terasa kosong. Aku lalu minta tolong seorang santri (A) membelikan “Nasi Goreng” di pasar, 100 m dari rumah. Tak lama ia pergi, anaku minta dibelikan juga Nasgor. Aku juga minta tolong santri lain (B) membelikan “Nasi Goreng” pula, di pasar yang sama.

Setelah menunggu cukup lama keduanya datang hampir bersamaan, dengan wajah seperti khawatir atau cemas. Lalu masing-masing menceritakan pengalaman menjelajah pasar dan menelusuri tempat-tempat penjual Nasi Goreng yang biasa mangkal. Tetapi mereka tak menjumpai satupun penjual Nasgor. Mereka hanya menemukan seorang perempuan tua yang sedang menunggui “Nasi Jamblang” di depan toko yang sudah tutup, di pertigaan jalan.

Santri A menemuiku sambil memohon maaf, karena tidak membawa pulang nasi pesananku. Sementara santri B membawa “Nasi Jamblang”, sambil mohon maaf karena telah menyalahi pesananku. Aku tersenyum saja, dan menyampaikan terima kasih kepada mereka, sambil mengatakan : Jazakumullah Khairan’. Semoga Allah membalas kalian dengan lebih baik. Begitu keduanya menghilang, aku dan anakku segera menyantap “Nasi Jamblang” dengan lahap. “Alhamdulillah”.

Malam berikutnya, aku menceritakan kisah di atas kepada para peserta pengajian dan menanyakan : “bagaimanakah pendapat kalian tentang peristiwa itu, siapakah di antara A dan B yang paling benar”. Dan merekapun berdebat sedikit sengit. Aku membiarkan saja. Menarik sekali. Sebagian membenarkan si A, sebagian menyetujui si B dengan argumentasi nya masing-masing.

Nasi goreng hanyalah simbol dari makanan. Nah, nasi Jamblang juga makanan. Bukankah yang penting makanan yang dengannya aku jadi tidak kelaparan pada tengah malam itu. Jadi si B berpikir substantif, kontekstual dan Maqasid.

Aku lalu berkomentar. Si A adalah santri tekstual. Dia benar, karena memahami kata-kataku : “Nasi Goreng”, bukan selain itu. Betapa jelasnya kata itu. Jika dia membeli nasi Jamblang atau Warteg, dia akan merasa salah. Dia memahami makna lahiriahnya, makna tekstual. Tetapi si B juga benar. Meski membeli nasi Jamblang, bukan nasi goreng. Dia memahami bahwa aku lapar. Nasi goreng hanyalah simbol dari makanan. Nah, nasi Jamblang juga makanan. Bukankah yang penting makanan yang dengannya aku jadi tidak kelaparan pada tengah malam itu. Jadi si B berpikir substantif, kontekstual dan Maqasid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak sama sekali ! Justru yang...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme pertama-tama bukan bicara soal persamaan,...

Populer

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 1)

Oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda, Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, CirebonPerkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya,...

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Artikel Lainnya