DKUP Menjadi Harapan Pembibitan Kader Ulama Perempuan di Indonesia

0
278
Temu alumni Dawrah Kader Ulama Perempuan (DKUP) pada Senin-Selasa (07-08/02/2022) bertempat di Semarang. Jawa Tengah.

Semarang, Fahmina.or.id. Fahmina Institute menggelar temu alumni Dawrah Kader Ulama Perempuan (DKUP) pada Senin-Selasa (07-08/02/2022) bertempat di Semarang, Jawa Tengah. Pertemuan ini sebagai bentuk refleksi gerakan para ulama perempuan dalam merealisasikan ilmu-ilmu yang diperoleh dalam acara DKUP Muda dan DKUP Pengasuh.

Dawrah Kader Ulama Perempuan sendiri merupakan pengkaderan yang dilakukan oleh Fahmina Institute sebagai salah satu penguatan kapasitas dan menguatkan jaringan bagi ulama perempua.

Acara ini dihadiri beberapa lembaga yang bekerja sama dengan Fahmina Institute untuk melakukan pengkaderan. Seperti Lembaga PP Dafa Besongo, PSAP, PW Fatayat NU Jateng, Madrasah Damai, PSGA IAIN Kudus, PC Fatayat NU Kab. Cirebon, ISIF, Mubadalah, Ma’had Aly Kebon Jambu, dan PP Bapenpori,

Para peserta refleksi alumni DKUP sangat antusias dalam menyambut acara tersebut. Terbukti dari banyaknya perubahan yang didapat setelah mengikuti DKUP.

“Dapat lebih memahami kesetaraan gender, menjadi lebih tajam dalam membuat perspektif. Hal tersebut karena banyaknya ilmu pengatahuan yang terserap di setiap peserta sehingga menghasilkan keberagaman dalam berpendapat,” ungkap Siti Aminatuz Zuhriah alumni DKUP Muda Jawa Tengah.

Tidak hanya pengetahuan saja, akan tetapi sudah banyak generasi DKUP yakni dari lingkungan Bu Nyai dan Ning di pesantren yang sudah melakukan aksi dalam membangun gerakan di berbagai komunitasnya.

Beberapa perubahan disampaikan oleh para Bu Nyai di dalam forum yang dibagi menjadi dua kelompok. Setiap kelompok menyampaikan hal yang tidak jauh berbeda, yakni bagaimana cara pandang para Bu Nyai dalam menyikapi setiap permasalahan, seperti bagaimana menjalani kehidupan yang lebih hidup, menjalankan kehidupan dengan perspektif mubadalah, memaknai dunia dengan menjadi kader penyinar kehidupan, bagaimana memanfaatkan jaringan gagasan untuk lebih terealisasi dalam menyikapi keragaman kultur budaya.

“Ada Bu Nyai yang fokus dalam isu penanganan kasus kekerasan seksual. Meskipun demikian, kiprah para Bu Nyai di dalam masyarakat sangat kompleks. Beliau menerapkan ilmu dan gerakan nyata di dalam kehidupan sehari-hari dalam merealisasikan ilmu-ilmu yang didapatkan,” kata Siti Amina

Tentu harapan ke depan sangatlah besar dari para peserta baik untuk para kader DKUP selanjutnya, maupun untuk generasi DKUP sekarang yang tengah berjuang. Banyak sekali harapan-harapan yang diungkapkan tidak jauh dari tindak lanjut setelah adanya pertemuan refleksi alumni DKUP.

Beberapa Bu Nyai mengusulkan untuk membuat DKUP yang tidak hanya dari kalangan Bu Nyai dan Ning saja, akan tetapi perlahan membuat kerjasama dengan lembaga maupun aktivis di berbagai daerah yang masih satu frekuensi.

Peserta mengusulkan terkait setiap agenda DKUP didokumentasikan beserta nama untuk menjadi kader KUPI. Selain itu, sedikit kesamaan dari para Bu Nyai dan Ning untuk memperkuat penguasaan ilmu untuk melakukan pengkaderan di masing-masing komunitas.

“Tentu harapan besar DKUP menjadi tonggak kebangkitan ulama perempuan Indonesia, tidak terlepas bagaimana strategi untuk menyiapkan kader-kader terbaik di berbagai komunitas maupun lembaga sebagai bentuk penguatan kader di masa yang akan datang. Bu Nyai dan Ning untuk terus mengkampanyekan hal-hal positif termasuk dalam memperkenalkan DKUP di berbagai lingkungan masyarakat,” pungkas Siti Amina.

Fahmina Institute juga akan kembali mengundang para ulama perempuan di Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk mengikuti DKUP yang akan dilaksanakan pada tanggal 20-22 Februari 2022 di Jawa Tengah. []