Jumat, 11 Oktober 2019

Forum Titik Temu Ajak Manusia Perkuat Persaudaraan dan Perdamaian

Baca Juga

Nurcholis Madjid Society, Ma’arif Institute, Wahid Foundation, Jaringan Gusdurian dan Yayasan Terang Surabaya menggelar forum titik temu. Forum tersebut dihadiri 200-an peserta di salah satu hotel Jakarta, Rabu, 10 April 2019.

Dalam forum bertajuk persaudaraan insani, hidup damai dan hidup berdampingan itu, Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA membacakan dokumen persaudaraan manusia. Dokumen tersebut merupakan hasil kesepakatan Imam Besar Al Azhar, Sayyed Ahmed al Thayeb dengan Pemimpin Gereja Dunia, Paus Fransiskus di Abu Dhabi awal Februari lalu.

Inti dokumen itu menegaskan umat manusia di seluruh dunia agar senantiasa membina persahabatan, menjalin persaudaraan, dan saling menghormati. Serta tidak mempolitisasi agama untuk kepentingan politik praktis, sehingga memecah belah persaudaraan seluruh umat manusia, sebangsa dan setanah air.

Ketua Nurcholish Madjid Society, Muhammad Wahyuni Nafis mengatakan, langkah kemanusiaan ini tentu saja bukan hanya tanggung jawab satu umat atau satu negara. Namun kerja bersama semua umat manusia di dunia, termasuk Indonesia.

“Dalam usaha meneruskan seruan ini dan demi mengingatkan penguatan toleransi dan mencegah peningkatan eskalasi kebencian dan permusuhan diantara warga bangsa. Kami menggelar forum titik temu,” kata M. Wahyuni Nafis melalui pesan tertulis yang diterima Mubadalahnews.

Ia menjelaskan, forum ini hendak mengajak seluruh umat manusia untuk mengecam segala bentuk teror, ekstremisme kekerasan, baik fisik maupun verbal. Termasuk setiap bentuk keburukan yang merusak harmoni dan kedamaian hidup bersama

“Forum titik temu ini (kami) mengingatkan penguatan toleransi dan mencegah peningkatan eskalasi kebencian dan permusuhan di antara warga bangsa,” ucapnya.

Untuk itu, pentingnya usaha-usaha memperkuat lembaga-lembaga pendidikan dan mendorong mereka untuk mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan. Seperti toleransi, budaya saling menghormati, dan kebebasan tanpa perbedaan.

“Intinya forum ini bertujuan untuk terus memperkuat persaudaraan dan perdamaian,” tegasnya.

Masalah terbesar adalah kebencian, bukan perbedaan

Sementara itu, Koordinator Jaringan Nasional Gusdurian, Alissa Wahid menambahkan, forum titik temu ini penting untuk menyampaikan pesan bahwa masalah terbesar manusia adalah kebencian, bukan karena perbedaan.

“Di era dunia mengglobal ini, kita tak dapat menghindari keberagaman dalam hidup bersama,” ucap putri sulung dari Presiden ke-4.

Menurutnya, kebencian antar kelompok akan membawa kehancuran. Untuk itu, antar kelompok harus membangun jembatan-jembatan persaudaraan, dengan terus memupuk kepercayaan dan toleransi antar sesama.

“Selalu ada ruang hidup bersama dalam persatuan dan kedamaian,” kata Mbak Alissa, sapaan akrabya.

Untuk diketahui, sejumlah tokoh hadir dan menyampaikan pesan perdamaian melalui pidatonya, antara lain Pendiri Maarif Institute, Ahmad Syafii Ma’arif. Istri almarhum Abdurrahman Wahid, Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, dan istri almarhum Nurcholish Madjid, Omi Komaria Madjid.

Selain tiga tokoh tersebut, forum ini juga dihadiri tokoh-tokoh lain seperti Muhammad Mahfud MD, Siti Musdah Mulia, Komaruddin Hidayat, Ignatius Suharyo, Dr HC KH Husein Muhammad, HS Dillon.

Selain itu ada Ruhaini Dzuhayatin, Oman Fathurrahman, Ulil Abshar Abdalla, Sudhamek AWS, Banthe Dammasubho, Chandra Setiawan, Arief Harsono, Pendeta Gomar Gultom, dan Rommy Mandang. (RUL)

 

Sumber: Mubaadalhnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak sama sekali ! Justru yang...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme pertama-tama bukan bicara soal persamaan,...

Populer

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 1)

Oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda, Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, CirebonPerkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya,...

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Artikel Lainnya