Kitab Nabiyurrohmah (kiri) dan Mambaussa'adah (kanan).

Mubaadalahnews.com,- Pengasuh Ma’had Tunas Cendekia, KH Affandi Mukhtar, memandang penting untuk terus melestarikan ijazah kitab sebagai tradisi khas pesantren, di samping kegiatan ngaji kitab, marhabanan saat maulid, dan tradisi-tradisi lain.

Dalam kegiatan Muludan Milenial yang digagasnya bersama elemen-elemen lain, 12-14 Desember 2018, salah satu rangkaian kegiatanya adalah ijazah kitab khassah dan ‘ammah untuk Kitab Nabiyurrahmah dan Manba’ussa’adah, oleh penulisnya langsung, Ustadz H. Faqihuddin Abdul Kodir, Lc. MA.

“Ijazah kitab adalah pernyataan restu seorang kyai atau guru kepada santri-santrinya untuk mengamalkan suatu amalan, dzikir, atau pembelajaran dan pengajaran suatu kitab. Ijazah ini sekaligus menjadi silsilah yang menyambungkan antara guru dan murid”, kata Kyai Affandi.

Ijazah khassah, yang khusus untuk guru-guru pesantren, dilakukan pada sore hari jam 16.00, Kamis 13 Desember 2018. Sementara ijazah ‘ammah, yang umum untuk seluruh santri dan guru-guru, dilakukan setelah selesai pengajian selesai, jam 01.20 dini hari.

“Kita bangga, ijazah khassah pada sore hari ini, dihadiri langsung oleh penulis kitab. Ijazah ini penting, tidak hanya sebagai tradisi  pesantren, tetapi untuk menyambung ikatan emosi dan akademik, serta keberkahan, antara penulis kitab dan guru atau santri pembaca kitab tersebut”, kata Kang Fandi.

Kitab Nabiyurrahmah

Kegiatan utama dari rangkaian acara Muludan Milenial adalah Ngaji Kitab “Nabiyurrahmah” Semalam Suntuk, mulai jam 20.00 sampai jam 01.30, di halaman depan MTs dan MA Tunas Cendekia, Pesantren Babakan.

Kitab Nabiyurrahmah berisi ayat-ayat Qur’an, teks-teks Hadis, kata-kata Sahabat dan ulama klasik tentang prinsip kasih sayang Islam, baik kepada diri, keluarga, tetangga, masyarakat umum, hewan, binatang, lingkungan, dan semesta alam.

Kitab ini ditulis oleh Ustadz H. Faqihuddin Abdul Kodir sepulang mengikuti Seminar Internasional di Universitas Azhar Cairo Mesir, dan bertemu dengan ulama perempuan, penulis kitab-kitab ensiklopedis, Syaikhah Dr. Khadijah Nibrawi.

Hadir sebagai pembaca (qurra’) kitab di acara Ngaji Semalam Suntuk ini adalah KH Husein Muhammad, Nyai Hj. Maryam Abdullah, Nyai Hj. Awanillah Amva, dan sesi terakhir diisi oleh Ustadz Mumu Muhyiddin.

Acara Ngaji ini dihadiri lebih dari 500 hadirin yang datang dari berbagai penjuru Pesantren Babakan Ciwaringin, dan pesantren lain di Cirebon serta masyarakat umum. Acara ini ditutup dengan ijazah ‘ammah oleh penulis kepada seluruh peserta yang menghadiri acara.

Kitab Manba’ussa’adah

Kitab lain yang diijazahkan penulis pada ijazah khassah sore hari, di kediaman KH Affandi Muchtar adalah Manba’ussa’adah, yang berarti telaga kebahagiaan.

Kitab ini berisi tentang prinsip dan perilaku kesalingan dan kerjasama dalam relasi pasangan suami istri. Kitab ini menjelaskan bahwa rumah tangga, pegurusan dan pendidikan anak, termasuk pengelolaan urusan publik harus memperhatikan kerjasama dan kebahagiaan bersama antara suami dan istri.

“Kitab Nabiyurahmah ini tersambung dengan ulama perempuan bernama Khadijah Nibrawi, sementara Manba’ussa’adah isinya terinspirasi dari diskusi diskusi yang aku ikuti di Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) yang dipimpin Ibu Hj. Sinta Nuriyah Wahid”, kata Ustadz Faqih ketika ijazah khassah sore hari.(MIM)

Sumber: mubaadalahnews.com