Geliat Pemuda Gaungkan Moderasi Beragama Dari Bincang Keragaman Hingga Berbagi dengan Sesama

0
55

Oleh: Zaenal Abidin

“Perdamaian itu sikap saling menghargai, mau berbaur, dan tidak anti perbedaan”

Dalam rangka memperingati hari perdamaian dunia yang jatuh pada tanggal 21 September, sejumlah pemuda yang tergabung dalam organisasi PC. Kopri Kabupaten Kuningan dan Forum Komunikasi Lintas Iman (Forkolin) Cirebon Timur mengadakan kegiatan bincang keragaman dan berbagi dengan sesama lintas agama. Senin, 21 September 2021.

Kegiatan bincang keragaman yang digagas PC. Korpri dilakukan dengan kunjungan ke Gua Maria Sawer Rahmat di Desa Cisantana, Cigugur Kuningan. Bagi umat Katolik goa yang terletak di lereng Gunung Ciremai pada ketinggian 700 Mdpl ini merupakan gambaran prosesi jalan salib yang dilakukan oleh Yesus.

Jalan salib di sini terdapat 16 tempat perhentian. Tiap-tiap perhentian mengisahkan riwayat Yesus, mulai dari ketika Dia dijatuhi hukuman hingga dimakamkan. Pada tiap perhentian itu pula dibangun altar yang digunakan umat untuk berdoa dan menyalakan lilin.

Para peserta yang terdiri dari pemuda muslim, Katolik dan Hindu ini menyusuri anak tangga sambil berbincang mengenai potret keragaman yang ada di Kuningan.

Di areal ini juga terdapat komplek pemakaman umat Katolik dan umat Islam, dapat dilihat dari ciri khas bentuk nisannya. Hal ini menggambarkan keharmonisan umat beragama di Kuningan.

“Perdamaian itu sikap saling menghargai, mau berbaur, dan tidak anti perbedaan,” ungkap Sri Melynda kordinator kegiatan.

“Pertemuan  ini selayaknya sebuah lingkaran perkawanan yang menepis  segala perbedaan dengan menjaga adab dan toleran pada  sesama,” pungkas Melynda.

Forum komunikasi lintas iman berbagi dengan sesama

Di tempat berbeda, pemuda  yang tergabung dalam Forum Komunikasi Lintas Iman (Forkolin) Cirebon Timur, melakukan cara yang berbeda untuk memaknai hari perdamaian dunia kali ini.

Mereka mengisinya dengan kegiatan sosial, yakni berbagi makanan kepada warga di sekitar Kelenteng Lok Pin Tong yang terletak di Desa Ciledug Kulon, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon.

“Kami ingin adanya kami (Forkolin) dalam keberagaman ini berdampak positif untuk masyarakat khususnya sekitar kelenteng dengan berbagi sedikit apa yang kami punya,” ungkap Kordinator Forkolin, Devi Farida.

Setelah pembagian paket makanan, Devi dan anggota lainnya berbincang bersama dengan umat Budhis dan warga Tionghoa yang sedang memperingati hari Cap Go atau biasa disebut Sembahyang Kue Bulan.

“Kami pun dijelaskan tentang setiap ornamen yang ada diklenteng. Setiap ornamen yang ada baik patung ataupun lainnya merupakan simbol yang menjadi tolak ukur mereka dalam penghambaanya kepada Tuhan. Bukan berarti simbol-simbol tersebut Tuhan yang disembah,” pungkasnya.

Acara ini dihadiri belasan pemuda dari berbagai organisasi seperti IPPNU, IPNU, IPM, AMSA, OMK, Warga Tionghoa Ciledug dan Pemuda Protestan.

Para pemuda di dua kabupaten ini merupakan alumni Sekolah Moderasi Beragama yang digelar oleh Fahmina Intitute bekerjasama dengan PC. Korpri Kabupaten Kuningan dan PC. IPPNU Kabupaten Cirebon yang dilaksanakan secara daring pada bulan Agustus yang lalu. []