Haji, Perempuan yang Berkorban untuk Kemanusiaan

0
659

Ibadah haji baru usai. Kewajiban Islam yang terakhir telah ditunaikan. Saya berharap para anggota jemaah haji akan senantiasa mengenang satu momen penting dalam haji yang sering luput dari permenungan banyak orang, yaitu sai. Ibadah sai menyimpan sejarah pengorbanan perempuan. Allah mengabadikan pengorbanan ini sebagai salah satu rukun haji.

Secara literal sai berarti berusaha sungguh-sungguh. Secara terminologis berarti berjalan kaki, kadang berlari kecil, pergi-pulang dari bukit terjal satu (Shafa) ke bukit terjal lainnya (Marwah) sebanyak tujuh kali.

Al Quran menyebut prosesi ini sebagai simbol yang menunjukkan kebesaran Tuhan, ”Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah satu dari sekian tanda kebesaran Tuhan.” (QS Al-Baqarah, 158). Sai wajib dilakukan oleh setiap orang yang berhaji.”
Sai sengaja dihadirkan Tuhan dalam rangka menghidupkan kembali sejarah seorang perempuan yang berjuang untuk kehidupan. Meski Tuhan tidak menyebut nama ”sang pejalan kaki” itu secara eksplisit, para ahli tafsir Muslim sepakat ia adalah Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, bapak para nabi.

Sejarah menceritakan, sesudah Ibrahim menikahi Siti Hajar, ia pergi meninggalkannya dan menempatkan dia di lembah gersang, dekat ”Rumah Tuhan” (Kabah). Al Quran menyebut, Bi wadin ghairi dzi zar’in ‘inda baitika al-muharram (di lembah yang gersang di samping rumah yang dimuliakan).”

Siti Hajar kemudian mengandung dan melahirkan anak laki-laki, Ismail. Dalam suasana masih diliputi kebahagiaan, Hajar tiba-tiba mendengar tangisan sang bayi. Tangisan itu menggetarkan hatinya dan dia segera berdiri, melangkahkan kaki sambil bergegas. Dia membiarkan untuk sementara anaknya sendirian menangis.

Dia terus melangkah dan kadang berlari-lari kecil menuju bukit Shafa dan terus lari ke bukit Marwah. Dari Marwah kembali lagi ke Shafa. Berulang-ulang tujuh kali. Tujuannya hanya satu: mendapatkan air bagi anaknya.

Dia tak hentinya memohon pertolongan Tuhan dengan hati yang luruh dan penuh. Dan Tuhan Maha Mendengar. Kaki Ismail yang meronta-ronta tiba-tiba memancarkan air.

Ibnu Katsir, penafsir besar, menyampaikan sejarah ini. ”Pada mulanya adalah Hajar, seorang perempuan, yang pergi-pulang antara bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air bagi anaknya. Tuhan kemudian memberinya pertolongan dengan memancarkan air dari bawah tanah yang disebut ”tha’am tha’m (makanan orang yang kelaparan)” dan ”syifa saqam (obat bagi penyakit)” (Ibnu Katsir, Tafsir, I/199).

Air itu di kemudian hari disebut air zamzam. Ia adalah sumber mata air yang bersih dan tak pernah kering sepanjang masa. Ia telah menghidupi bermiliar manusia dari seluruh dunia selama berabad-abad sampai hari ini.

Perempuan tabah

Dari sejarah ritual sai tersebut, kita melihat dengan jelas sosok perempuan tabah, sabar, dan tanpa kenal lelah berjuang menghidupi seorang anak manusia. Menarik mengapa Tuhan memilih manusia bernama Hajar. Ia tentu manusia istimewa dalam pandangan Tuhan.

Sosok Hajar menyimpan sejumlah identitas. Ia perempuan, hamba sahaya, dan berkulit hitam dari Etiopia. Ali Syari’ati mengidentifikasi Hajar dengan sejumlah identitas sosial lebih lengkap, ”Hajar adalah perempuan yang bertanggung jawab. Ia ibu yang mencinta, sendirian, mengelana, mencari, dan menanggungkan penderitaan dan kekhawatiran, tanpa pembela dan tempat berteduh, terlunta-lunta, terasing dari masyarakatnya, tidak mempunyai kelas, tidak mempunyai ras, dan tidak berdaya. Ia budak kesepian, korban seorang asing yang terbuang dan dibenci”(Ali Syari’ati, Haji, hal 47).
Melalui Hajar, Tuhan tengah memperlihatkan pembelaan kepada perempuan. Oleh masyarakat manusia, Hajar dicampakkan hanya karena jenis kelamin dan identitas sosialnya.

Seluruh identitas Hajar adalah rendah dalam banyak pandangan kebudayaan manusia, tetapi tak bagi Tuhan. Dia justru menghargainya. Tuhan mengabadikannya dalam ritual penting itu. Melalui ritual ini, Dia tampaknya sedang menunjukkan sekaligus ingin mengingatkan manusia bahwa perempuan juga manusia. Ia wajib dihargai seperti manusia berjenis kelamin laki-laki, berkulit putih, dan berkebangsaan lain.

Bagi Tuhan, semua manusia sama dan tak ada manusia yang paling terhormat, kecuali yang mencintai-Nya.
Tuhan mendengar suara perempuan. Dia mengabulkan doa Hajar. Dia memberinya air. Air adalah anugerah paling berharga bagi manusia dan makhluk hidup. Dari air, semua makhluk menjadi hidup, subur, dan berkembang. ”Wa ja’alna min al-ma kulla syai-in hayy” (dan Kami jadikan dari air segala yang hidup), kata Tuhan.


Tuhan membela perempuan

Perempuan juga ibarat air, menghidupi dan mengembangkan. Namun, dalam banyak kebudayaan manusia sejak dulu sampai hari ini, perempuan kerap distigmatisasi sebagai makhluk Tuhan kelas dua, sering tidak difungsikan sebagai manusia yang bermartabat dan memiliki kemampuan.

Perempuan adalah manusia yang dalam konstruksi sosial zaman kuno, dan hampir dalam segala zaman, harus dikorbankan untuk kepentingan jenis kelamin yang lain, terutama untuk kesenangan biologis-seksual.

Pengorbanan perempuan yang luar biasa ketika menjadi ibu: melahirkan, menyusui, mendidik, memasak, dan bekerja sejak pagi sampai malam untuk memenuhi keperluan rumah tangganya, acap tidak dihargai hanya karena dia perempuan. Perempuan dipaksa berperan ganda: reproduksi dan produksi.

Sejarah Siti Hajar dan pembelaan Tuhan tampaknya mengkritik sistem budaya sosial-budaya patriarkhis.
Kritik Tuhan ini seharusnya menyadarkan kita semua untuk senantiasa menghargai manusia tanpa melihat jenis kelaminnya dan identitas sosialnya. ”Tuhan tidak menghargai karena tubuh dan wajah kamu, tetapi menghargai karena amal dan hatimu,” kata Nabi.

Karena itu, seseorang sama sekali tidak layak disubordinasikan dan dimarjinalkan hanya karena dia berjenis kelamin perempuan atau beridentitas rendah. Mereka patut dihormati hak-haknya dan diperlakukan adil.


KH Husein Muhammad Komisioner Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan
Sumbee: www.kompas.com, edisi 22 Desember 2008