IKHTIAR MEMBANGUN PERDAMAIN

0
844

Manusia memiliki dua fungsi kehidupan dalam bermasyarakat, yang pertama manusia sebagai individu yaitu manusia memiliki identitas sebagai personal yang memiliki hak-hak secara personal juga, kedua manusia sebagai makhluk sosial, artinya manusia tidak berdiri sendiri, ada orang lain yang memiliki identitas yang berbeda tetapi sama-sama memiliki hak, kedua fungsi ini tidak bisa dipisahkan, keduanya melekat, saling berhubungan.

Sebagai individu, kita menyadari bahwa ada individu lain yang berbeda dengan kita, baik secara jenis kelamin, bahasa, etnis, daerah, latar belakang pendidikan, hobi, sampai ideologi. Perbedaan-perbedaan ini biasanya direspon berbeda-beda oleh kita, tetapi kecenderunannya membentuk kelompok yang memiliki kesamaan fisik, misalnya kelompok dari sekolah tertentu, kelompok hobi, kelompok etnis, sampai organisasi kemasyarakatan, yang biasanya kelompok-kelompok ini homogen, yaitu dari jenis yang sama, seperti orang-orang yang memiliki hobi jeprat-jepret menggunakan kamera, akan membentuk kelompok fotografi, atau sekedar satu sekolah yang sama.

Wajar saja membentuk kelompok berdasarkan persamaan, asalkan kelompok tersebut tidak dijadikan alat untuk menciptkan jarak antar kelompok, bahkan mendiskriminasi ataupun melakukan kekerasan terhadap kelompok lain. Bukankah negara ini didirikan oleh para tokoh bangsa yang memiliki beragam identitas, ada Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dengan etnis yang beragam pula baik Jawa, Sunda, Batak, dan Cina. Tetapi mereka dengan kesadaran keberagamannya bersatu untuk memerdekakan bangsa, Indonesia merdeka.

Lain dulu lain sekarang, dulu perbedaan dijadikan kekuatan untuk memajukan negara-bangsa, sekarang ini banyak sekali konflik kekerasan, tawuran, saling mengejek, bullying antar kelompok karena satu kelompok dianggap berbeda oleh kelompok yang lain. Seolah-olah kita sudah kehilangan akar kebangsaan kita yang menjunjung tinggi perdamaian.

Walaupun situasi tersebut banyak terjadi di sekeliling kita, bukan berarti tidak ada yang bisa kita lakukan, terutama kita sebagai remaja. Ya, remaja adalah tonggak penerus bangsa, bangsa kita harus berjalan dalam damai, beragam jenis kelamin, suku, etnis, bahasa justru menjadi kekuatan untuk bergandengan tangan. Kita mesti damai dalam perbedaan.

Atas dasar itulah, Setaman (Sekolah Cinta Perdamaian) bermaksud mengajak para remaja untuk menjadi penggerak perdamaian di lingkungan masing-masing, dari lingkungan terkecil menebarkan damai, yang jika terus menerus dilakukan akan semakin luas perdamaian kita harapkan.

    

SEKILAS SETAMAN

Setaman adalah singkatan dari Sekolah Cinta Perdamaian, yaitu wadah bagi para remaja dengan rentang usia 16-20 tahun untuk saling mengenal, memahami, dan belajar tentang keberagaman, kebhinekaan, dan perdamaian, bagaimana mengelola perbedaan, keberagaman, kebhinekaan menjad kekuatan untuk mewujudkan perdamaian.

Setaman diinisiasai oleh para anak muda yang tergabung dalam Pelita dan Fahmina Institute, yaitu organisasi non-pemerintah dan non-profit yang bergerak pada isu-isu membangun perdamaian, kajian agama, sosial, dan penguatan masyarakat.

Tujuan dari Setaman ini adalah mempertemukan remaja-remaja dengan latar belakang yang beragam saling sharing pengalaman keberagaman di lingkungannya; Memberikan kesadaran tentang pentingnya membangun damai dalam lingkungan yang beragam; Mengajak para remaja sebagai penggerak lingkunga yang berani mempromosikan perdamaian.

Setaman ini dikepalai oleh seorang kepala sekolah yang akan mengelola berjalannya aktivitas penguatan remaja untuk perdamaian diwilayah Cirebon yaitu Alifatul Arifiati.