In Memoriam: Napak Jejak Gus Dur di Cirebon

0
2176

“…SAYA AKAN BANGGA JIKA DI PUSARA MAKAM SAYA DITULIS PEJUANG KEMANUSIAAN….”

Itulah kalimat yang saya ingat dari Gus Dur yang kini memiliki relevansi dengan peristiwa duka pada penghujung tahun 2009 ini. Indonesia menangis. Hujan malam 30 Desember 2009 bukan saja air hujan, tetapi hujan air mata. Air mata ratusan juta rakyat Indonesia yang berduka mendengar dan menyaksikan wafatnya tokoh besar Indonesia.  KH Abdurrahman Wahid—yang biasa disapa Gus Dur, mantan Presiden Indonesia RI keempat (1999-2001), mantan Ketua Umum PBNU 1984-1999, pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Guru Bangsa—tadi malam jam 18.45 WIB telah menghembuskan nafas terakhirnya di RSCM Jakarta.

Tak seorang pun menyangsikan ketokohan Gus Dur. Saya bersama temen-teman INCReS (Institute for Culture and Religions Studies) Bandung pernah menulis buku Beyond the Symbols: Jejak Antropologis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur (2000) menemukan sosok Gus Dur sebagai orang yang serba bisa. Saya belum menemukan seseorang sehebat Gus Dur dalam penguasaan berbagai teori dan disiplin ilmu. Mulai dari kelihaian dalam memperbarui pemikiran keislaman, Gus Dur pun melalui tulisan-tulisannya yang berjumlah lebih dari 500 judul sangat layak disebut seorang antropolog, sosiolog, ideolog, politikus, dan budayawan, bahkan juga seorang pengamat sepak bola dan humoris ulung.

Bagi orang Cirebon, Gus Dur bukan orang asing. Puluhan—bahkan ratusan—kali Gus Dur singgah dan bermalam di Cirebon: kongkow-kongkow ala pesantren bersama kyai-kyai. Cirebon boleh dibilang daerah terfavorit yang sering dikunjungi Gus Dur. Tidak saja karena ada “ulama langitan” Almaghfurlah KH. Abdullah Abbas Buntet yang menjadi penasehat spiritual Gus Dur, tetapi banyak kyai pesantren Cirebon yang memiliki genealogi keilmuan—hubungan santri-kyai—dengan dan menjadi karib Gus Dur.  Sebut saja misalnya, Almaghfurlah KH. Abdullah Syathori Arjawinangun, Almaghfurlah KH Masduqi Ali Babakan, Almaghfurlah KH. MA. Fuad Hasyim Buntet, KH. AR Ibnu Ubaidillah Arjawinangun, Almaghfurlah KH. Yahya Masduqi, KH. Syarif Usman Yahya, KH. Husein Muhammad Arjawinangun, dan KH Mukhlas Gedongan.

Cirebon memiliki sejarah tersendiri bagi Gus Dur. Adalah Buntet Pesantren, tempat pertama kali para kyai, ulama NU, dan tokoh politisi lintas partai menyuarakan Gus Dur untuk dicalonkan menjadi Presiden RI pada tahun 1999. Padahal posisi Gus Dur saat itu baru saja terserang stroke. Suara Buntet akhirnya menjadi kenyataan dan diamini oleh mayoritas suara MPR hasil Pemilu 1999.  Jadilah, Gus Dur menjadi Presiden pertama dari kalangan pesantren, kaum sarungan, dan penjaga Ahlussunnah Wal Jama’ah di bumi Nusantara.

Jauh sebelum itu, Cirebon pun pernah menjadi tempat ujian intelektual Gus Dur. Pada paruh akhir 1980-an, kyai-kyai se-Jawa kumpul di Pondok Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun untuk meminta pertanggungjawaban intelektual Gus Dur atas beberapa soal kontroversial yang dikeluarkannya. Di antaranya adalah usulannya untuk mengganti Assalamu’alaikum menjadi “Selamat pagi”, “Selamat siang”, atau “Selamat sore”, pemikirannya tentang pribumisasi Islam, kebolehan mengucapkan Selamat Natal kepada kaum Nasrani, dan lain sebagainya.

Dari Cirebon-lah, penjelasan-penjelasan intelektualisme Gus Dur tersampaikan kepada publik Indonesia. Cirebon pernah menjadi juru bicara pembaruan pemikiran-pemikiran keislaman brilliyan dari Gus Dur. Lebih dari itu, lewat sejumlah pesantren dan lembaga sosial independen, Cirebon terus berusaha keras membumikan pemikiran Gus Dur menjadi kenyataan. Islam yang damai, humanis, rahmatan lil ‘alamin, toleran, menghargai pluralitas, bertujuan pada terciptanya keadilan dan kesetaraan sosial, termasuk keadilan dan kesetaraan gender adalah cita-cita sosial yang hendak diwujudkan Gus Dur.

Kini, Guru Bangsa itu, Pembaru Pemikiran Islam itu, dan pejuang demokrasi dan hak asasi manusia itu telah tiada, mendahului kita. Sungguh tidak percaya, Gus Dur pergi demikian cepat dalam usia 69 tahun. Namun, kita yakin bahwa Allah telah mengatur segalanya. Semoga Gus Dur – Gus Dur baru lahir dari bumi Cirebon.

Selamat jalan Gus… Selamat jalan kyai… Selamat jalan Presiden… Selamat jalan pejuang kemanusiaan… Selamat jalan pahlawan NKRI…


Penulis, Marzuki Wahid adalah santri Gus Dur, Direktur Fahmina-institute Cirebon.