100 Tokoh Cirebon Merefleksikan Pemikiran dan Aktifitas Gus Dur

0
645

 

Merefleksikan Pemikiran dan Aktifitas Gus Dur

Meninggalnya tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, tidak hanya menjadi sebuah ajang refleksi bagi warga NU di Cirebon. Tepat tujuh hari meninggalnya, 100 tokoh Cirebon dari berbagai latar belakang agama dan budaya berkumpul untuk merefleksikan sosok pejuang kemanusiaan itu. Acara bertajuk “In memoriam Gus Dur: Refleksi 100 Tokoh Cirebon Atas Pemikiran dan Aktifitas Gus Dur untuk Indonesia”, ini digelar Ikatan Sarjana Nahdhotul Ulama (ISNU) bekerjasama dengan BEM IAIN Syekh Nurjati Cirebon, di Aula IAIN Syekh Nurjati Cirebon Jl Perjuangan, Bay Pass, Kota Cirebon (1940-2009), pada Kamis, 7 Januari 2010.

Dipandu moderator, Marzuki Wahid, Direktur Fahmina-Institute Cirebon, para tokoh tersebut satu per satu mulai merefleksikan pemikiran dan aktifitas Gus Dur selama hidupnya. Refleksi para tokoh tersebut beragam sesuai dengan pengetahuan, pengalaman, dan latar belakang agama dan budayanya. Seperti refleksi Pengasuh Pesantren al-Mizan Majalengka, kiai Maman Imanul Haq, dengan singkat dia mengungkapkan kekhawatirannya tentang uforia yang berkembang seputar orang-orang yang tiba-tiba banyak memuji sosok Gus Dur, termasuk mereka yang selama ini memusuhi Gus Dur, tiba-tiba berkata baik tentang Gus Dur.

“Saya hanya ingin mengatakan mari kita lihat Gus Dur sebagai manusia biasa, di mana dia menangis, dimana dia melakukan hal-hal sederhana tetapi bermakna. Dari Cirebon inilah saya mengenal Gus Dur, persis ketika fahmina mengadakan acara di Jamrud. Gus Dur hanya mengatakan satu hal, bahwa kegagalan kita adalah ketika kita tidak menyadari bahwa kita manusia biasa,” ungkap kiai Maman di depan seluruh tokoh lainnya

Pengalaman berbeda diungkapkan, KH Syarif Usman Yahya, atau yang biasa disapa abah Ayif. Meski mengaku paling kurang pantas untuk mengatakan tentang Gus Dur, namun beliau mengaku memiliki sejumlah pengalaman berharga ketika dalam beberapa hal sering berdiskusi dengan Gus Dur. Baginya, apa yang disampaikannya kepada Gus Dur tentang kondisi sosial masyarakat, selalu memberikan inspirasi kepada Gus Dur untuk bisa merefleksikan keinginannya di tengah bangsa.

“Satu kasus yang paling menonjol adalah ketika datang ke rumah, berkali-kali saya katakan bahwa saatnya kita punya lembaga politik. Saat itulah Gus Dur membentuk apa yang namanya forum demokrasi. Dari forum itulah, terjadi apa yang terjadi berikutnya. Yaitu adalah bahwa Indonesia harus kembali ke dasar kehidupannya yaitu kehidupan Binneka Tunggal Ika dengan dasar demokrasi. Yang ingin saya sampaikan apa yang disampaikan oleh Gus Dur, menjadi tonggak kehidupan bersama di dalam kehidupan selanjutnya,” paparnya.

Pernah juga, lanjut dia, suatu waktu dia dan Gus Dur bertemu di Makkah. Pada waktu itu dia di Madinah sendirian. Kemudian bertemu dengan orang Irak dan terjadi pembicaraan singkat tentang Islam. Hal inilah yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama. Bahwa menurut orang Irak tersebut, Islam itu tidak ada, Indonesia itu tidak ada. Sehingga dari situlah, abah Ayif menyampaikan, bahwa sebenarnya Arab itu sudah ketinggalan zaman. Arab hanya berbicara di tingkat teks, tapi tidak pernah melihat realitas sosial, realitas kehidupan manusia di dunia. Sehingga orang Arab merasa paling Islam, sementara orang Indonesia, dianggap manusia muallaf. “Saat itu saya ditemani teman dari Malaysia, Prof Sulaiman, kata dia, bahwa hanya Indonesia-lah dan hanya Gus Dur-lah orang yang bisa membangun Islam ke depan, sementara itu di Negara Arab akan menjadi masyarakat yang tertinggal dalam hal pemahaman keagamaan karena sangat terikat dengan teks.”

Pengalaman berbeda diungkapkan oleh Sulaiman, dari Jemaat Ahmadiyah. Dia mengaku, sebagai kelompok yang termarjinalkan, benar-benar kehilangan Gus Dur. “Sehingga timbul tanda tanya, jika suatu saat nanti timbul permasalahan lagi, siapa yang akan membela kami, maka kami benar-benar kehilangan. Figur Gus Dur tidak akan hadir selama bertahun-tahun. Mungkin 20 tahun ke depan juga belum bisa hadir sosok seperti Gus Dur. Tapi yang terpenting bagi kita, bagaimana mengejawantahkan dan merealisasikan berkenaan dengan pluralisme, demokrasi dan lain-lain,” ungkapnya.

Dia juga menceritakan pengalamannya ketika diserang di Kuningan, Gud Dur lah yang pasang badan untuk menjaga rumah-rumah Allah. “Yang terahir, di bulan puasa kemarin, Ibu  Shinta Nuriah  datang ke Manis Lor, beliau mengatakan kepada kami, bahwa beliau datang atas perintah Gus Dur. Padahal beliau tidak harus tahu dan datang ke desa kecil itu.”

Dukungan Gus Dur sebagai pahlawan

Dukungan pemberian gelar pahlawan nasional terhadap almarhum Presiden ke-4 RI, ini juga terus disuarakan para tokoh yang hadir dalam acara tersebut. Acara refleksi tersebut juga sekaligus dukungan terhadap Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Selain dukungan yang berasal dari penyataan langsung yang diungkapkan 100 tokoh, di akhir acara dilanjutkan dengan acara tanda tangan dukungan Gus Dur sebagai pahlawan. Tanda tangan dukungan juga dilanjutkan di sepanjang jalan Bay Pass depan Kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Sehingga tanda tangan dukungan tersebut tidak hanya ditanda tangani para 100 tokoh Cirebon saja, tetapi juga para mahasiswa dan masyarakat umum yang melintas di Jalan tersebut.

Sementara salah satu ungkapan dukungan dari 100 tokoh, diungkapkan Pdt Sugeng Haryadi, salah satu Pendeta dari Protestan. Menurutnya, kita perlu memiliki semangat bersama, karena dia mengaku sempat kaget. Ketika beberapa hari lalu ada media massa yang mengatakan tidak setuju Gus Dur menjadi pahlawan nasional. “Justru itu dari muslim. Menurut saya Gus Dur perlu diangkat sebagai pahlawan nasional. Meskipun Gus Dur tidak ingin dianggap sebagai pahlawan. Tapi negara kita perlu itu, dengan demikian ada tanggungjawab moral bagi negara, dan bagi kita semua untuk meneruskan demi keutuhan bangsa.”

Sementara itu, salah satu Pastur Gereja Katolik Cirebon, Pdt. Sunu, mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok Gus Dur dengan menyebutkan salah satu teori evolusi Darwin yang mengungkapkan bahwa manusia itu berasal dari binatang. “Terlepas dari kontroversi, teori ini hanya pada fisik, padahal evolusi manusia yang terjadi itu bukan hanya fisik, melainkan juga evolusi kesadaran. Maka dalam benak saya, yang terjadi pada Gus Dur itu adalah evolusi kesadaran,” ungkapnya.

Relasinya dengan tuhan dan sesama, lanjut Pdt Sunu, itu luber (penuh) untuk kebaikan sesama. Gus Dur benar-benar sosok yang mengalami evolusi kesadaran itu. Maka Gus Dur, sebagai umat manusia yang sungguh telah menerima evolusi kesabaran. Inilah yang disebut sebagai evousi kesabaran. Nanti bangsa kita ini akan membuat film tentang Gus Dur. Jangan hanya satu teks bahasa Indonesia, tapi juga bahasa Inggris. Karena bukan hanya orang Indonesia yang menonton, tapi juga masyarakat seluruh dunia. Judulnya itu adalah “An Awarness Evolution Gus Dur”.(a5)