Intoleransi dan Diskriminasi dalam Perayaan 10 Muharram di Cirebon

0
981
Meski Orde Baru telah lama berlalu, namun pelarangan kegiatan pengajian rupanya masih berlangsung di kota Cirebon. Bagaimana tidak acara pengajian peringatan 10 Muharram yang akan diselenggarakan atas kerjasama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Forum Komunikasi Muslimin Cirebon, mendapatkan pelarangan dan pembatasan dari pihak kepolisian kota Cirebon.

Peringatan 10 Muharram yang rencananya dilaksanakan Rabu malam 07/01/2009 bertempat di Islamic Center kota Cirebon, terpaksa dipindah tempatkan karena ada surat larangan dari Polresta Cirebon. Disebutkan dalam surat pelarangan tersebut bahwa acara yang tadinya akan diselenggrakan di Islamic Center tersebut dilarang diselenggarakan di seluruh wilayah hukum kota Cirebon. Aan, panitia dari PMII, menunjukkan dengan jelas, bahwa dalam pelarangan tersebut tanpa mengemukakan argumen dan alasan yang jelas.

Karena dilarang diselenggarakan di tempat semula, maka kemudian acara dipindah tempatkan oleh panitia ke Keraton Kasepuhan. “Kami mendapat izin dari Sultan Sepuh menggelar acara ini di Mande Mastaka Keraton Kasepuhan” kata M. Akbar, Sekretaris Panitia Haul, kemarin.

Meski acara dipindah, para peserta yang hadir mencapai ribuan. Ada banyak santri dan ustadz serta anak-anak kyai Babakan Ciwaringin hadir, Kempek dan pesantren-pesantren lainnya juga hadir. Banyak ibu-ibu dan anak-anak hadir juga. Hadir juga PCNU kab. Cirebon, KH. Wawan Arwani, pengurus MUI Kota Cirebon, KH. Mahfudz Bakri, pengurus KMNU, pengurus PC Lakpesdam, pengurus PC Anhsor Cirebon, Banser, ISNU dan kalangan muda nahdhiyin lainnya.

Sayangya kegiatan yang dihadiri oleh ribuan orang ini, terganggu oleh kedatangan segerombolan orang berjubah dengan mengendarai sekitar 20 sepeda motor. Untungnya keadaan segera terkendali, karena kesiapan panitia dan banyaknya barisan Banser yang mencoba mengamankan suasana.  

Tidak sampai di situ, pada pkl. 22.00 WIB Kapolresta datang ke tempat acara, dan menyatakan kekecewaannya, karena merasa tertipu oleh panitia. Kapolresta Cirebon. AKBP Ary Laksmana sempat meminta panitia untuk membubarkan haul itu. Menurutnya, panitia telah dianggap menipu kepolisian karena dalam ajuan izin mencantumkan Peringatan Tahun Baru Islam, namun dalam pelaksanaanya acara yang digelar adalah Haul Sayidina Husein. Meski demikian, acara tetap berlangsung dengan damai, kondusif sampai selesai.

Kang Said Menyayangkan Sikap Aparat

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agil Siradj, yang kebetulan adalah penceramah dalam acara tersebut, memprotes keras Kepolisian Resor Kota Cirebon yang melarang acara peringatan 10 Muharram ini.

“Acara 10 Muahrram adalah merayakan Haul Sayidina Husein, memperingati tragedi di Karbala, sebuah tragedi kemanusiaan yang tidak hanya boleh diklaim sebagai milik Syiah, tetapi juga milik umat Islam tanpa mengenal mahzabnya dan milik umat manusia,” kata Kang Said—begitu panggilan akrabnya—usai memberikan ceramah.

Ia juga mengingatkan, peristiwa yang menewaskan 18 keluarga Rasulullah dan 54 sahabat Rasulullah oleh pasukan Muawiyah pada 70 Hijriah merupakan tragedi kemanusiaan yang luar biasa. “Kalau saja saat itu ada badan dunia seperti PBB, pasti akan dikutuk seluruh manusia di dunia,” kata Kiai dari Pesantren Gedongan, Kabupaten Cirebon,  itu.

Ia menyayangkan orang yang menganggap Syiah bukan Islam karena sebenarnya Syiah merupakan salah satu sekte dari agama Islam. Sejarah telah mencatat pemimpin Syiah yang membangun berbagai negeri seperti Yaman, Maroko dan Mesir.
“Ada sepuluh raja di Mesir yang beraliran Syiah termasuk yang membangun Kota Kairo, jadi itu sebuah sejarah yang tidak bisa dinafikan,” katanya. Kang Said menegaskan, NU juga mengambil beberapa hal yang dipraktikkan Syiah seperti tawasulan dan salawatan. “Saya jadi aneh kalau ada orang yang berpandangan sempit bahwa memperingati peristiwa Karbala sebagai sebuah aliran Syiah,” katanya.[]