Kamis, 10 Oktober 2019

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Baca Juga

Oleh: Abdul Rosyidi

Islam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada kesan ‘bosan’ untuk membahas tema yang ini lagi, ini lagi. Tapi tidak untuk obrolan semalam. Sepertinya saya tidak bosan bahkan tak beranjak sedetik pun selama kurang lebih 4 jam dialog, dari jam 9 hingga jam 1 tengah malam.

Ya, semalam saya ikut mendengarkan dua guru panutan, Dua Buya, Buya Husein Muhammad dan Buya Syakur Yasin, membincangkan tema itu di Kedai Kopi, Kaliwadas. Mereka didampingi lima panelis, yang kesemuanya anak-anak muda. Di antaranya Kang Ubay Baequni dan Kang Akbarudin Sucipto.

Dari dulu saya mengamati, selalu ada mispersepsi saat menyebut kata “budaya.” Banyak orang yang beranggapan ia adalah (hanya) seni. Parahnya, ada yang mempersempit dengan menganggapnya hanya seni tradisional. Padahal, budaya lebih luas dari itu. Ia bukan artefak atau warisan orang terdahulu.

Saya setuju, budaya itu apa yang dikatakan Buya Syakur sebagai kehidupan sehari-hari. Atau dalam istilah Gus Dur kehidupan sosial manusiawi (human social live). Jadi, kebudayaan itu sangat luas, seluas kemanusiaan itu sendiri. Budaya ada bersama manusianya. Dan seni berada di dalamnya. Menjadi bagian kecil darinya.

Saya masih meyakini, membincangkan kebudayaan, kesenian, kesusastraan, atau bahkan sejarah dan hubungannya dengan keislaman, akan menjadi tidak bermakna jika kita tidak berhasil membuatnya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari atau kemanusiaan hari ini.

Buya Syakur menjelaskan yang sehari-hari itu dengan amat baik. Beliau mencontohkan tentang bagaimana orang Indonesia tidak membedakan peran laki-laki dan perempuan di ruang publik. Hal itu bisa dilihat dari bahasa yang digunakan. Orang Indonesia menyebut kamu, dia, tanpa pandang itu laki-laki dan perempuan.

Sementara di Arab, laki-laki dan perempuan dibedakan berdasarkan panggilannya, dia laki-laki (huwa), dia perempuan (hiya), kami laki-laki (anta), kami perempuan (anti), dan sebagainya. Di Barat pun sama, panggilan untuk lelaki dan perempuan dibedakan.

Kearifan yang lain, orang-orang di Cirebon, atau bahkan seluruh Indonesia, tidak pernah memanggil orang, siapapun, dengan langsung menyebut namanya. Untuk orang yang lebih tua, atau yang kita anggap tua, atau siapapun yang kita hormati, biasanya kita memanggil dengan Kang, Ang, Mas, Mba, Teh, dll.

Untuk hubungan kekeluargaan kita akrab dengan panggilan seperti Uwa, Bibi, Mamang, Mama, Mimi, dan sebagainya. Belum lagi untuk orang terhormat seperti kiai, kita mempunya banyak sekali pangggilan, Abah, Kang, Abi, Ajengan, Gus, Cak, dan sebagainya.

Kita pun tak pernah memangggil Nabi dengan namanya saja: Muhammad seperti yang orang-orang Arab lakukan. Bahkan sahabat sekalipun, mereka langsung menyebut nama: Ya Muhammad. Sementara kita menyebutknya Gusti Kanjeng Nabi Muhammad.

Dalam tulisan “Orang Menyebutnya Gusti dan Kanjeng”, saya menceritakan kisah di kampung bagaimana praksis kearifan lokal ini biasa digunakan oleh orang-orang setempat untuk mengeliminir pengaruh pemikiran-pemikiran bercorak “purifikasi Islam” di pelosok-pelosok desa.

Kisah ini menurut saya amat menarik dan semakin menguatkan bahwa kearifan lokal itu ada dan bertebaran di tengah-tengah kehidupan. Hanya saja selama ini kita terlalu terpukau pada artefak yang mati tanpa bisa menjelaskan relevansinya bagi kehidupan kita hari ini.

Pengetahuan atau kearifan lokal yang sudah menjadi laku sehari-hari seringkali lupa untuk diangkat dan diproduksi kembali. Dan menjadi nilai-nilai yang diajarkan kepada generasi seterusnya lewat gaya pendidikan modern, lewat bangunan epistemologis yang kukuh.

Saya tidak mengatakan sistem “cantrik” yang dipraktikkan pesantren dan pedalangan tidak relevan. Tapi harus diakui sistem pendidikan kita sekarang berkiblat ke metode klasikal, meniru akademia khas Yunani. Gaya nyantrik pelan-pelan mulai ditinggalkan.

Oleh karena itu, kearifan lokal, sekarang perlu untuk tidak hanya menjadi pengetahuan “yang dilakukan”, tapi juga yang bisa “diamati”, “diteliti”, “dipelajari”, “diteorisisasikan”, dan selanjutnya “diajarkan” untuk bisa menjadi “laku” kembali.

Saat sudah berada di tahap ini, selanjutnya kita perlu menyandingkan kearifan lokal dengan pengetahuan sosial kontemporer seperti kesetaraan gender, pluralisme, kelestarian lingkungan, ras, dan sebagainya. Mempertemukan yang tradisi dengan pengetahuan kontemporer ini sangat penting.

Karena jika tak mampu menjawab masalah hari ini, kebudayaan hanya akan menjadi mumi.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak sama sekali ! Justru yang...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme pertama-tama bukan bicara soal persamaan,...

Populer

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 1)

Oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda, Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, CirebonPerkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya,...

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Artikel Lainnya