Islam Rahmatan lil 'Alamin

0
713
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada 29 Juli–1 Agustus akan kembali punya hajat besar berskala global yaitu International Conference of Islamic Scholars (ICIS). Pertemuan yang ketiga ini masih tetap mengusung tema Islam rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Dalam konteks peradaban hari ini,pertemuan yang akan dihadiri para intelektual,ulama,politisi, dan beberapa pemimpin dunia itu benar-benar relevan. NU sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di dunia, tentu saja sangat layak untuk memfasilitasi perbincangan tema krusial tersebut.

Perbincangan tentang Islam rahmatan lil ‘alamin memang teramat signifikan bukan hanya bagi kepentingan NU dan Indonesia,tetapi juga bagi dunia Islam pada umumnya.Terlebih dewasa ini hubungan antaragama masih cukup menegangkan dan kekerasan atas nama agama masih sering terjadi. Islam pun sempat menanggung citra buruk bahkan fobia di tengah masyarakat Barat karena berbagai aksi kekerasan yang dikaitkan dengan Islam.

Terlepas dari alasan-alasan atau motif yang melatarbelakanginya, kekerasan terhadap manusia,tetap saja tidak dapat dibenarkan oleh normanorma agama apa pun dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Manusia, menurut Alquran, adalah ciptaan Tuhan yang terhormat dan Dia sendiri menghormatinya. Saya tidak pernah bisa mengerti kalau agama, apa saja, menganjurkan aksi kekerasan.

Kekerasan hanya bisa dipahami dalam konteks perang.Teks-teks keagamaan Islam, yang bicara tentang aksi-aksi kekerasan terhadap “orang lain”, dalam pandangan saya hanya terjadi dalam situasi perang dan tidak pernah dalam situasi damai. Jika ada yang memandang bahwa saat ini sedang terjadi perang ideologi,kebudayaan, atau pemikiran agama, maka perlawanan terhadapnya seharusnya juga dilakukan dengan cara yang sama,bukan dengan aksi-aksi fisik yang brutal.Dan hanya dengan dialog segala permusuhan bisa diakhiri.

Islam sebagai Agama Rahmat

Islam adalah agama yang diturunkan Tuhan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Pesan kerahmatan (baca: kasih sayang) dalam Islam benar-benar tersebar di dalam teks-teks Islam,baik Alquran maupun Hadis.Kata rahmah, yang berarti welas asih, berikut derivasinya disebut berulang-ulang dalam jumlah yang begitu besar, lebih dari 90 ayat di dalam Alquran.

Bahkan rahman dan rahim, dua kata yang diambil dari kata rahmat dan selalu disebut-sebut kaum muslimin setiap hari adalah nama- nama Tuhan sendiri.Nabi Muhammad SAW pernah bersabda,”Sayangilah siapa saja yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan menyayangimu.” Alquran, sumber Islam paling otoritatif, menyebutkan misi kerahmatan ini: “wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin”, Aku tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.

Ibnu Abbas, ahli tafsir awal,mengatakan bahwa kerahmatan Allah meliputi orangorang mukmin dan orang-orang kafir. Alquran juga menegaskan rahmat Tuhan meliputi segala hal (QS 7:156).Para ahli tafsir sepakat bahwa rahmat Allah mencakup orang-orang mukmin dan orang-orang kafir,orang baik (al-birr) dan yang jahat (al-fajir) serta semua makhluk Allah.

Fungsi kerahmatan ini dielaborasi oleh Nabi Muhammad SAW melalui pernyataan “Aku diutus Tuhan hanya untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” Akhlak luhur adalah moral dan nilai-nilai kemanusiaan, seperti kejujuran, keadilan, keikhlasan, menghormati dan menyayangi orang lain, dan sebagainya.Kekerasan, kesombongan, dan kezaliman adalah berlawanan secara diametral dengan al-akhlak al-karimah.

Tuhan telah memberikan kesaksian- Nya terhadap kepribadian Nabi SAW yang agung itu: “Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya” (QS 3: 159). Tuhan juga berfirman, ”Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) kecuali dengan cara yang lebih baik” (QS 29: 46).

”Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tibatiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia”(QS 41:34). Kerahmatan Islam juga berarti menghormati orang lain, termasuk yang berbeda agama,bukan hanya ketika dia masih hidup, bahkan ketika sudah mati. Sahl bin Hanif dan Qais bin Sa’ad,dua sahabat Nabi,mengatakan, suatu saat ada jenazah melewati Nabi.Beliau tiba-tiba saja berdiri.Nabi diingatkan bahwa jenazah tersebut adalah seorang Yahudi.

”alaisat nafsan (bukankah ia adalah manusia?)”, jawab Nabi. Terma rahmatan li al ‘alamin juga berarti mengapresiasi pluralisme. Ada orang yang menganggap bahwa mengakui pluralisme, toleransi (tasamuh) dan dialog antaragama sama artinya dengan mengakui kebenaran agama lain, sama dengan menyamakan agama atau bahkan sama dengan sinkretisme.

Pandangan ini tentu saja sangat naif dan ditolak bukan hanya oleh Islam, tetapi juga oleh pemeluk semua agama. Sikap Islam dalam hal ini adalah jelas: ”Agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku.” Pengakuan atas pluralisme, toleransi dan dialog antaragama sesungguhnya adalah sikap mengakui fakta dan realitas akan eksistensi agama- agama yang dipeluk dan penghargaan terhadap pemeluknya.

Dr Aisyah al-Manna’i, Dekan Fakultas Syari’ah dan Studi Islam Universitas Islam Qatar dalam seminar dialog antaragama yang diselenggarakan di Qatar baru-baru ini mengatakan,” Adalah kekeliruan besar bahwa dialog antaragama adalah pengakuan terhadap orang lain (beragama lain) dan penerimaan terhadap agamanya.

Dialog antaragama tidaklah berarti membenarkan atau merestui keyakinan (agama) orang lain, tidak pula membenarkan atau merestui cara-cara ritual mereka.Akan tetapi ia adalah menghargai keyakinan atau agama orang lain dan tidak merendahkannya”. Sebelumnya Al-Manna’i berkata,” Dialog antaragama dalam rangka kemanusiaan adalah suatu keutamaan dalam Islam.

Universalisme Islam mengharuskan kita untuk bekerja sama secara damai dengan semua komponen masyarakat manusia. Islam adalah agama dialog, agama saling memahami,agama damai,toleran dan cinta.Islam tidak pernah menjadi agama perang atau agama pedang. Banyak sekali ayat-ayat Alquran yang menegaskan hal-hal seperti ini” (Baca: surat kabar Al Alam al Islamy,No 2.021,Senin,31 Maret 2008,hlm 4).

Kerahmatan dan Pembebasan dari Kezaliman

Kerahmatan Islam pada sisi lain ditempuh dengan cara membebaskan manusia dari belenggu-belenggu penindasan manusia atas manusia. Sejarah kenabian Muhammad mencatat bahwa penindasan manusia atas manusia telah berlangsung cukup lama.Alquran diturunkan untuk mengkritik sekaligus mendekonstruksi praktik kebudayaan tersebut.

Alquran menyebut begitu banyak ayat tentang kewajiban setiap orang beriman agar bertindak membebaskan penindasan yang disebutnya sebagai al-zhulmataukezaliman itu.Secara umum al-zhulmberarti pengingkaran terhadap kebenaran,keadilan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang lain. Kezaliman adalah penentangan terhadap kerahmatan Islam. ”Sepanjang ’orang lain’ tidak menyerang dan mengusirmu,kalian harus tetap berbuat baik dan berlaku adil,”kata Alquran.

Tuhan sendiri telah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya. Pernyataan menarik dikemukakan Seyyed Hossein Nasr, salah seorang cendekiawan muslim kontemporer terkemuka. Katanya, ”Jantung atau inti Islam adalah penyaksian ke-Esa-an Tuhan, universalitas,kebenaran, dan kemutlakan tunduk pada kehendak Tuhan, pemenuhan segala tanggung jawab manusia dan penghargaan terhadapseluruhmakhlukhidup.

Jantung atau inti Islam mengisyaratkan kepada kita untuk bangun dari mimpi yang melalaikan. Ingat tentang siapa diri kita dan mengapa kita ada di sini,tidak lain untuk mengenal serta menghargai agama-agama yang lain.” Begitulah teks-teks Islam bicara tentang kerahmatan bagi semesta.

Kini sudah saatnya kita semua,terutama para pemimpin dan tokoh agama,duduk bersama dalam suasana hati yang tenang dan pikiran jernih tanpa prasangka untuk merumuskan kembali agendaagenda bersama dalam kerangka menciptakan relasi manusia yang harmonis, damai,dan menyejahterakan alam semesta.

Pertemuan yang diselenggarakan olehP BNUs elamat iga hari ini tentu diharapkan akan dapat melahirkan rekomendasi- rekomendasi mendasar dan strategis bagi setiap hubungan—baik antarkelompok keagamaan dalam Islam maupun antarpemeluk agama-agama. Umat manusia senantiasa mendambakan kedamaian dan kesejahteraan untuk hari ini maupun hari esok yang panjang. Dunia menunggu dengan “berdebar-debar”peran organisasi para ulama yang besar tersebut.Selamat untuk NU.(*) sumber: Koran SINDO


Penulis adalah Pengasuh Pesantren Dar Al Tauhid Arjawinangun, Cirebon