Isra dan Mi'raj; Malam Perjumpaan Dengan Sang Kekasih

0
824
27 Rajab, lima belas abad yang lampau, sebuah peristiwa agung dan spektatuler muncul dalam sejarah manusia. Tak pernah ada dalam sejarah manusia, lampau, kini dan nanti menyaksikan peristiwa ini. Ia adalah Isra’ dan Mi’raj, sebuah perjalanan Nabi yang agung Muhammad Saw pada malam hari yang bening dari Makkah menuju ke Masjid yang terjauh (al Mmasjid al Aqsha) di Palestina dan diteruskan ke Sidrah al Muntaha (sebuah pohon Bidara di puncak di langit tertinggi. Menurut sumber-sumber Islam, Isra dan Mi’raj ini terjadi selama periode Nabi di Makkah yang terakhir, beberapa hari menjelang kepindahannya (hijrah) ke Madinah, tanah airnya yang kedua, tempat di mana kemudian beliau diistirahkan untuk selama-lamanya. Sumber-sumber sejarah juga menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi sesudah Nabi kehilangan orang-orang yang dicintainya dan ketika kaum kafir Quraisy terus menggempurnya. Para ahli sejarah menyebutnya “Am al Huzn”. Isra dan Mi’raj merupakan peristiwa paling menarik dari perjalanan hidup seorang manusia pilihan, melebihi peristiwa yang lain.

Peristiwa isra ini diabadikan dalam al Qur’an : “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda keagungan Kami. (Q.S. al Isra, 17:1). Sementara Mi’rajnya disebutkan dalam sejumlah hadits di samping merujuk pada ayat-ayat dalam surah al Najm. Ibnu Ishaq, dalam Sirahnya menggambarkan peristiwa isra’ dan Mi’raj itu dengan cara yang menggetarkan hati :

“Seorang yang dipercaya telah meriwayatkan kepadaku dari Abu Sa’id bahwa ia telah mendengar Nabi bertuturkata : “Setelah aku melakukan apa yang perlu aku lakukan di Yarussalem, aku dibawakan sebuah tangga dan aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah selain itu. Itulah sesuatu yang menjadi pandangan orang-orang mati pada Hari Kebangkitan. Sahabatku, Jibril, membuatku dapat memanjat sampai kami mencapai salah satu gerbang langit yang disebut Gerbang Garda. Di sana 1.200 Malaikat bertindak sebagai pengawal”.

Sudah lama para sarjana Islam berbeda pendapat mengenai apakah isra’ dan mi’rajj tersebut secara fisikal-ruhani atau hanya ruhani saja. Dari sisi ini peristiwa ini memang kontroversial. Para sarjana Sunni meyakini yang pertama. Al Thabari, ahli sejarah Islam klasik terkemuka, berpendapat bahwa “Allah telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari” dan bukan “Allah memperjalankan jiwa hamba-Nya”. Pandangan ini tentu saja sangat sulit diterima kaum rasionalis. Doktrin Kaum Sunni tidak pernah meragukan kekuasaan  Allah atas segala hal yang tidak dapat dicapai akal pikiran manusia.

Terlepas dari perdebatan di atas yang tidak perlu diteruskan, peristiwa ini disambut  seluruh kaum muslimin dunia dan diperingati setiap tahun dengan beragam cara. Dalam tradisi Indonesia, Isra’-Mi’raj disambut dengan suka-cita, seperti har-hari besar Islam yang lain. Setiap tanggal 27 Rajab kaum muslim, terutama kalangan Nahdlatul Ulama, membaca Barzanji, dan nyanyian-nyanyian sanjungan kepada Nabi yang agung ini, di samping acara-acara yang lain. Peristiwa ini juga telah diperingati di masjid-masjid dan pondok-pondok pesantren bahkan di istana negara. Sementara sebagian kaum muslimin yang lain, terutama para pengikut Wahabi, menganggapnya sebagai  perbuatan “bid’ah”, kesesatan atau penyimpangan agama, hanya karena ia tidak pernah dilakukan oleh Nabi. Ini menurut saya adalah pandangan keagamaan yang sangat dangkal, kering, dan pikiran yang tidak pernah tersentuh oleh pendekati keagamaan dalam perspektif esoterik, sufistik.

Di Turki, malam Mi’raj diperlakukan sama dengan malam kelahiran Nabi. Di masjid-majid lampu-lampu yang dibungkus ornamen-ornamen kaligrafis yang indah dinyalakan, malam menjadi terang benderang. Anak-anak yang lahir malam itu seakan-akan memperoleh berkah. Mereka diberi nama Mi’raj al Din, Mi’raj Muhammad dan lain-lain.

Di Kasymir, India, isra’-mi’raj disambut dengan nyanyian rakyat (folklor) yang berisi ucapan selamat datang dan penghormatan kepada Nabi yang selalu dirindui:

Para Malaikat menyambutmu : “Selamat Datang”
Berkata pula para penghuni sorga ;
“Selamat Datang, seratus kali selamat Datang!”

Sementara masyarakat umum merayakannya dengan menyelenggarakan ceramah tentang peristiwa isra-mi’raj, para penyair dan sufi besar mencipta puisi-puisi indah. Salah seorang mistikus dan sufi bersar, Farid al Din Attar, melantunkan gubahan puisinya yang menggetarkan nurani :

Pada malam hari datanglah Jibril
Dan dengan suka cita ia berseru :
“Bangunlah, Duhai pemimpin dunia!
Tinggalkan tempat gelap ini dan pergilah kini
Ke Kerajaan Abadi Tuhan
Langkahkan kakimu menuju ‘di mana tiada tempat’
Dan ketuklah pintu tempat suci itu
Dunia bersuka cita karena engkau

Di Masjid al Aqsha Nabi menjadi Imam para Nabi. Di Sidrah al Muntaha Nabi bertemu Tuhan. Dia begitu dekat : “Qaba Qauwaini aw adna”. Ini menggambarkan hubungan Dualitas Tuhan dan Nabi yang saling menatap dengan cinta dalam jarak yang sangat dekat. Nabi melihat-Nya tanpa tabir, mungkin bagai dipisahkan oleh kaca tembus pandang. Hati Nabi mengharu biru, jiwanya seakan hilang lenyap di hadapan Sang Maha Agung dan Maha Indah (dzu al Jalal wa al Jamal). Pertemuan yang sangat mengesankan itu membuat beliau enggan kembali ke bumi. Tetapi umat menanti kehadirannya. Beliau menyayangi ummatnya lebih dari yang lain. Maka Nabi meminta apa yang bisa dilakukannya dan oleh ummatnya jika ingin menjumpai Tuhan. Allah lalu memintanya Shalat. Ya, Shalat adalah Mi’raj orang-orang beriman.

Jalaluddin Rumi, sufi dan penyair muslim terbesar merumuskan rahasia shalat dalam puisinya yang terkenal :

Shalatnya tubuh, terbatas
Shalatnya ruh, tak terbatas
Ia tenggelam dan tak sadarnya ruh
Hingga segenap bentuk tetap berada di luar
Ketika itu tak ada lagi ruang yang memisahkan
Meski bagi Jibril sang ruh suci itu

Ketika Nabi gundah-gulana, beliau meminta Bilal azan. Nabi mengatakan : “Ju’ilat Qurratu ‘Aini fi al shalah” (mataku berbina-binar jika aku shalat). Kapanpun beliau mendambakan untuk kembali ke hadirat Ilahi dan meninggalkan ruang dan waktu dunia yang pengap, beliau segera bergegas shalat. Lalu segalanya menjadi damai, tenang dan sumringah. Shalawat dan Salam untukmu Wahai Rasulullah. Adrikni Ya Habibi.

Cirebon, 20 Juli 2008
Husein Muhammad