KH Husein Muhammad: Homoseksual dalam Islam

0
1529

wwc-buyaOurvoice berkesempatan mewawancarai K.H Husein Muhammad, pemimpin pondok pesantren Dar At-Tauhid Arjawinangun Cirebon, Jawa Barat. Selama ini beliau vocal dalam berbicara tentang kesetaraan gender. Dalam perbincangan yang kurang lebih 30 menit ini, K.H Husein mengungkapkan pendapatnya tentang homoseksual dikaitkan dengan kajian agama Islam. Berikut hasil wawancara Hartoyo dan Rikky (Ourvoice) dengan K.H Husein Muhammad.

Apa pandangan Kyai mengenai homoseksual?

“Sebelum berkomentar tentang homoseksual saya ingin menjelaskan dulu kalau ada pandangan yang mungkin tidak tersosialisasikan dengan baik atau belum tepat. Saya menilai banyak berpandangan bahwa homoseksual hampir sama dengan Sodom. Tapi selama saya mendengar dan mengikuti pertemuan-pertemuan tentang seksualitas ternyata homoseksual adalah orientasi seksual yang sejenis.

Menurut saya hasrat seksual itu adalah sesuatu yang alami. Secara umum memang orientasi seksual adalah heteroseksual. Tetapi ada fakta bahwa ada orang yang memiliki hasrat seksual sejenis, yaitu homoseksual. Karena itu hasrat seksual yang alami yang given tidak bisa dilepaskan dari pribadi seseorang. Maka saya kira kita perlu menghargainya perbedaan itu. Kita tidak akan menganggapnya itu hubungan seks yang salah. Apalagi dianggap hubungan seks yang menyimpang. Saya kira istilahnya homoseksual itu tidak umum saja. Karena menyimpang itu berbeda sekali dengan yang tidak umum.”

Bagaimana homoseksual dikaitkan dengan kajian agama?

“Saya menemukan bahwa “tidak ada pandangan keagamaan sejak masa klasik hingga saat ini yang mengapresiasi terhadap hubungan seks sejenis itu. Bahkan itulah yang muncul ditengah pikiran masyarakat secara umum di dunia Islam. Homoseksual sama dengan liwat. Perbuatan kaum luth. Ketika disebut homoseksual maka asumsinya adalah sodomi. Karena itu maka hukuman terhadap mereka dalam tafsir-tafsir maupun fiqih  itu sangat luar biasa beratnya. Bahkan konon justru lebih berat daripada hubungan perzinahan heteroseksual.”

Bagaimana kajian sejarah Luth terhadap homoseksual?

“Nyatanya bahwa cinta sejenis itu banyak ditemukan dalam sejarah manusia dimanapun. Pada masa Nabi sendiri, ada laki-laki yang berpenampilan dan berprilaku seperti perempuan, terus mencintai sesama jenis apalagi di kerajaan-kerajaan di dinasti-dinasti sejak awal Islam, cerita seperti itu banyak sekali. Tetapi yang tidak menonjolnya adalah disana ada kasim-kasim, mereka adalah laki-laki yang dikebiri untuk kepentingan itu.”

Lalu bagaimana pandangan K.H. Husein terhadap orientasi seksual yang given?

“Saya kira kalau dasarnya adalah orientasi seksual yang given/alami. Saya kira itu harus dihormati. Berbeda dengan orang yang karena kepentingan tertentu seperti mencari uang dari hubungan homoseksual bukan karena cinta.  Dan saya kira di banyak tempat itu ada hubungan sejenis itu.

Ada manusia yang mempunyai orientasi yang berbeda dengan dominannya. Jadi pada suatu saat bisa saja saya senang dengan laki-laki. Tapi itu bisa sesaat, nanti bisa hilang lagi. Misalnya budaya mairil di pesantren. Budaya mairil tidak melakukan sodomi jadi hanya melakukan hubungan sex di paha dan juga melakukan sayang-sayangan seperti pacaran. Kemana-mana bersama bahkan ada yang memposisikan sebagai laki-laki mendampingi yang lain. Di pesantren hubungan seperti itu ketahu banyak orang, teman-teman dikalangan pesantren juga tahu kalau ada mairilan.”

Apa yang harus dilakukan oleh tokoh agama dalam memandang kelompok homoseksual?

“Saya kira memang harus ada pengetahuan awal bagi tokoh agama untuk memahami bahwa di dunia ini ada kelamin jenis ketiga, ada orientasi seksual yang berbeda sebagai sesuatu yang nyata. Jadi kalau pengetahuan dasar ini tidak dipahami, maka selalu akan muncul sikap tidak empati bahkan cenderung menyalahkan dan seterusnya. Saya kira, minimal tidak menstigmastisasi terlebih dahulu.

Maka harus diberikan pandangan tentang realitas itu sendiri bagi tokoh agama. Saya terus terang saja belum ada keberanian yang cukup untuk secara vokal terlibat di dalam komunitas itu. Meskipun beberapa kali ada teman-teman yang meminta saya, tetapi karena ada hal lain saya menolaknya. Saya sebenarnya cukup vokal untuk beberapa isu tetapi dalam kaitan relasi perempuan dan lak-laki bukan pada homoseksual. Saya sering mengatakan andai kata ini direalisasikan, maka seluruh dari bangunan gagasan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan ini akan hancur. Saya kira di dalam dunia Islam sendiri tokoh-tokoh yang vokal dalam berbicara kesetaraan antara laki-laki dan perempuan saya kira belum berani berbicara secara terbuka soal homoseksual”

Bagaimana aturan fiqih tentang sholat soal homoseksual ini?

“Saya kira orientasi seksual itu banyak sekali, tetapi itu dipahami secara kabur. Jadi ada istilah Khunsa yaitu  orang yang memiliki dua alat kelamin,alat kelamin pria dan alat kelamin perempuan. Yang dipermasalahkan banyak pihak (ulama) adalah mukhonnas, yaitu laki-laki yang berprilaku seperti perempuan. Sedangkan yang disebutkan di fiqih-fiqih adalah khunza tadi. Sedangkan Khunza dalam aturan sholat di posisikan sebelum perempuan.  Artinya kalau urutannya,laki-laki dulu kemudian anak-anak, kemudian khunza, lalu perempuan. Jadi sebenarnya dalam Islam khunza sudah diakui.”

Apa ada kasus yang Kyai temui soal Khunza ini?

“Saya kira tersembunyi sekali ya. Kemungkinan itu ada tetapi tidak pernah terlihat kepada publik. Dan kalaupun muncul maka segera dilakukan proses pemisahan jenis kelamin. Saya kira selama ini banyak yang melakukan praktek seperti itu.”

Di akhir wawancara K.H Husein Muhammad mengungkapkan bahwa seharusnya negara melindungi semua warganya. Harus dipahami bahwa negara didirikan untuk melindungi semua warga negaranya apapun latar belakang sosial dan latar belakang kehidupan pribadinya. Yang terpenting fungsi negara memberi ruang bagi semua orang.”[] 

Sumber: http://agama.kompasiana.com