Silviana Rohmah: Dari Penasaran Hingga Ingin Menebar Cinta Kasih Tuhan

0
122
Silviana Rohmah (Kedua dari Kanan) bersama-sama dengan pemuda lintas iman saat mengunjungi Gereja Katolik Santa Theresia Kecamatan Ciledug Kab. Cirebon.

Oleh: Ida Ad’hiah

Silviana Rohmah merupakan salah satu remaja yang aktif dalam Forum Komunikasi Lintas Iman (Forkolim) remaja di Cirebon Timur. Keaktifannya di Forkolim remaja ini tidak ujug-ujug hadir di tengah keberagaman remaja-remaja dari latar belakang yang berbeda, baik agama, etnis, suku dan budaya. Namun melalui proses yang cukup panjang. 

Dari rasa penasaran ingin mengenal pemeluk agama lain, tetapi sisi lainnya ada rasa kekhawatiran mendapatkan judgement dari lingkungan dan teman-teman sekitar, karena memang berinteraksi dengan “yang lain” merupakan hal baru bagi dirinya. Ditambah, orangtua acapkali berkomentar agar Silvi (panggilan akrabnya) tidak terlalu dekat dengan pemeluk agama lain. 

Namun dirinya tetap bertekad untuk terus belajar bagaimana mengenal agama lain. Belajar bagaimana menghargai keyakinan orang lain dan ingin berjuang untuk menyampaikan pesan-pesan damai. Karena baginya, cinta kasih Tuhan tidak terbatas sekalipun dengan pemeluk agama lain.

Muncul Rasa Penasaran

Silvi merupakan anak kedua yang terlahir dari keluarga muslim dan komunitas yang homogen (Islam). Usai lulus Sekolah Dasar (SD), ia pun ingin mendalami pengetahuan keislamannya di salah satu Pondok Pesantren Buntet, Astanajapura Kabupaten Cirebon. Kisaran 6-7 tahun, Silvi mondok di sana. Tentu setiap harinya bercengkrama dan berinteraksi dengan orang muslim.

Lalu suatu ketika terbesit rasa penasarannya. “Bagaimana sih pandangan mereka (non muslim)?” Lalu, “Apa ya isi di tempat ibadah umat lain? Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul, hingga Silvi timbul rasa ingin sekali berinteraksi dengan pemeluk lain. Kisaran semester satu, ia pun memutuskan untuk berhenti mondok. Tapi ia tetap melanjutkan pendidikan perguruan tinggi keagamaan Islam di Buntet.

Suatu hari, ada event Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Kecamatan Greged. Disana-lah, Silvi dipertemukan dengan Devi Farida, yang belakangan baru diketahui kalau Devi adalah Ketua Pengurus Cabang (PC) Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Cirebon dan aktif di kegiatan Fahmina Institute. Hari itu merupakan hari yang sangat disyukuri, karena pada saat itu ia seperti diberikan jalan untuk mengenal orang-orang yang berbeda dengannya melalui Devi, “Tuhan telah pertemukan aku dengan Mbak Devi. Karena dari dia, aku bisa mengenal teman-teman dari pemeluk agama lain, seperti Rico, Marcel, dan lainnya.” ucap perempuan kelahiran dari Desa Hulubanteng, Kecamatan Pabuaran. 

Pengalaman Pertama ke Tempat Ibadah 

Karena pertemuannya dengan Devi setelah moment MTQ, Silvi  semakin intens berkomunikasi dengan Devi, hingga akhirnya ia diajak ke salah satu acara “waktu itu saya diajak mbak Devi, tapi gak tau mau kemana, mbak Devi enggak bilang secara jelas” ungkap Silvi, pada saat itu ia mengikuti acara Cap Go Meh di klenteng Tek Hay Kiong di pertengahan Juni 2022, di saat itulah Silvi merasakan kaget sekaligus senang dan exited (bersemangat) dengan acara tersebut dimana ia bisa bertemu dan berinteraksi secara langsung dengan banyak orang yang berbeda “aku seneng banget diajak ke acara itu, aku lihat mbak Devi juga ikut gotong dewa-dewa, pokoknya excited banget pada saat itu” sambungnya.

Tak hanya itu, karena Silvi terlihat merasakan ketertarikan, saat acara Helaran Budaya Cai di Raga” Coet Tanah Liat yang Hampir Tak Terlihat” pada bulan Agustus 2022, ia juga  ikut berpartisipasi di dalamnya, di moment ini pula Silvi menemukan sesuatu yang baru “pada waktu itu aku bertemu dengan orang yang bermata sipit, memakai kacamata seperti orang Cina kak Putra namanya, aku kira dia non muslim, ternyata di muslim” ceritanya, Silvi pada saat itu mempunyai pemahaman bahwa orang yang bermata sipit seperti keturunan Tionghoa itu bukanlah beragama islam. Semenjak itu Silvi jadi semakin tertarik ingin mendalami toleransi hingga pada akhirnya ia meminta untuk selalu dilibatkan pada kegiatan-kegiatan keberagaman atau forum-forum lintas iman.

Salah satu rangkain acara dari helaran budaya tersebut, Silvi juga mengikuti Dialog Interaktif Kebangsaan bertajuk “Anak Muda dan Keberagaman” yang diselenggarakan oleh Fahmina Institute dan Joint Initiative for Strategic Religious Action (JISRA). Dalam forum ini, Silvi semakin banyak wawasan tentang apa itu keberagaman? Berbagai pandangan budaya, agama, keyakinan, tradisi dan lain sebagainya. 

Dari pengalaman dan pemahaman inilah, Silvi pun semakin aktif terlibat dalam Forkolim Remaja dan kegiatan lainnya terutama berkaitan dengan isu toleransi dan keberagaman. Bahkan saking akrabnya berinteraksi, Silvi pun sering diantar jemput oleh temannya dari Katolik, Rico dan yang lainnya. 

Ketertarikan Nya di isu keberagaman dan toleransi membuat Devi ingin mengajak kembali Silvi dalam kegiatan-kegiatan lainnya, sehingga di salah satu moment Silvi diajak untuk berkunjung ke salah satu rumah ibadah dalam kegiatan Wisata Rohani yakni Gereja Katolik St. Theresia, Ciledug. Inilah pengalaman pertama Silvi ketika berkunjung ke tempat ibadah lain. Pengalaman ini membuat Silvi bukan malah merasa takut, akan tetapi ia merasa takjub sekaligus penasaran akan apa yang ada di dalam rumah ibadah tersebut. Ia juga merasa terkesan atas penyambutan dari pihak klenteng yang begitu terbuka dan ramah “saat aku berkunjung ternyata mereka welcome banget sama kita yang muslim, walaupun disitu aku belum kenal sama mereka. Tapi luar biasa penyambutannya, saya jadi penasaran apa yang dipikirkan mereka ke kita (umat muslim)” tuturnya.

Sempat Ditentang 

Komunikasi antar remaja ini pun membuat Silvi tak sungkan-sungkan untuk mengajak teman non muslim untuk bermain di rumahnya. Bahkan ia pun mengenalkan temannya itu kepada keluarganya. Suatu ketika, Silvi pun sempat ditentang oleh orang tuanya untuk tidak bermain dengan orang non muslim. Orangtua khawatir anaknya memiliki rasa suka kepada temannya yang berbeda agama. Lebih jauh lagi tertarik pada agama non muslim. “Kalau gak kuat, mending nggak usah,” kata Silvi ketika mengingatkan kembali ungkapan pertentangan dari salah satu anggota keluarganya itu.

Tentu sangat wajar ketika keluarga mengingatkan hal seperti ini. Kenapa? Karena memang setiap harinya, keluarga Silvi berinteraksi dengan satu komunitas saja, yakni muslim. Bagi keluarganya, memandang agama lain itu dianggap “tabu”. Jangankan berinteraksi dengan orang non muslim, mengenalinya saja dianggap sebuah pantangan. Kecurigaan-kecurigaan semacam inilah jika tidak diurai, maka bisa berakibat bagai bara dalam sekam.

Bukan hanya keluarganya saja yang memberi kesan kurang nyaman ketika ia memiliki teman dari agama lain. Termasuk teman satu kampusnya yang berada di lingkungan pondok. Ketika Silvi mengajak teman-temannya berkunjung ke rumah ibadah agama lain, teman sebayanya itu merasa gak enak hatinya. Bahkan temannya itu berucap bahwa tidak diperbolehkan sebagai muslim/ muslimah masuk rumah ibadah orang lain. 

Lantas Silvi pun memperkuat apa dari pandangan temannya itu. Silvi tegaskan, kunjungannya ke tempat ibadah ini hanya silaturahmi, melihat tempat ibadah umat lain, tidak sampai ikut ibadah dengan mereka. Bukankah urusan iman yang tahu kita sendiri dengan Tuhan. Nah lain halnya dengan urusan sosial, kita mesti mengenal mereka meski berbeda agama sekalipun. Karena memang, Indonesia bukan hanya muslim/ muslimah saja, tapi ada agama lain. “Kita jangan sampai terpecah belah, konflik gitu. Makanya kita perlu satu sama lain untuk mengenali mereka untuk menghapus kecurigaan yang tiada landasannya ini,” tegasnya.

Terbuka

Oleh karenanya, tirai-tirai ini perlu diurai. Hal semacam inilah yang dilakukan Silvi kepada keluarganya. Ia pun tidak langsung membantah ketika orang tuanya menentang, tetapi ia memberikan pemahaman sedikit demi sedikit untuk mengenal pemeluk agama lain. Bagaimana tradisinya, ritualnya, dan tentu bagaimana sikap kita sebagai warga Indonesia yang sama-sama memiliki hak untuk hidup layak dan aman dalam hal apapun, termasuk soal ibadah.

Apalagi Silvi mendapatkan wawasan dan pengalaman yang luar biasa ketika mengikuti Pesan Trend Damai yang digelar Fahmina Institute. Tentu hal-hal semacam ini, ia sharing kepada keluarganya, termasuk pada temannya saat mondok dan lingkungan sekitarnya.

Dari dialog yang intens, akhirnya orangtua yang awalnya sempat menentang itu pun perlahan-lahan mulai terbuka. Tidak lagi berpandangan sebelah mata terhadap agama lain. Termasuk temannya, meski tidak terbuka sepenuhnya paling tidak ada pintu untuk melihat, mengenal, dan menghargai dengan orang yang berbeda.

Jadi baginya, pentingnya komunikasi untuk menghapus kecurigaan-kecurigaan. Caranya, satu sama lain saling mengenal, tidak memberikan stigma buruk. Biarkan mereka berpegang teguh pada keyakinannya, termasuk Silvi sendiri yang semakin memperkuat spiritual agamanya. Tak lain, ini berkat interaksi yang lekat dengan orang yang berbeda.

Keterlibatannya di Forkolim Remaja membuat ia terus belajar. Hingga suatu waktu, ia mendapatkan kepercayaan untuk menjadi moderator secara live (IG) di acara diskusi terbuka dalam rangka memperingati hari pahlawan nasional “Merajut Asa Untuk generasi Muda dalam Menjaga keutuhan Indonesia” dengan narasumber Ketua PC IPPNU, Devi Farida, Ketua Pemuda Katolik Kabupaten Cirebon, Frederico Oktakanis (Rico), dan Khalani Aldiansyah (Muhammadiyah).

Dari beragam momen dan pengalaman berharga berkutat dengan teman-teman non muslim. Akhirnya ia berpandangan bahwa “Cinta kasihnya Tuhan itu tidak diberikan lewat kita yang sesama muslim saja. Bisa kita rasakan juga dengan sesama orang non muslim.” Perkataan ini pun diperkuat oleh kakaknya, dengan repost tulisannya dan dibagikan di salah satu media sosial yakni instagram. Kakaknya menyatakan: “Karena puncak beragama adalah cinta yang menebarkan kepada semua makhluk tanpa terkecuali kepada mereka yang berbeda keyakinan dengan orang lain.”

Dari sinilah, ia bersama teman-temannya di Forkolim Remaja bertekad untuk terus melakukan silaturahmi dengan tokoh-tokoh agama, kepercayaan dan masyarakat adat. Kemudian membangun komunikasi dengan anak-anak muda dengan persepsi bahwa keberagaman bagian dari kekayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Tentu perjalanan dalam memperjuangkan keberagaman, mempunyai hambatan dan tantangan tersendiri, minimnya keterlibatan anak-anak muda dari berbagai agama menjadi tantangan baginya, semisal Wilayah Cirebon Timur, khususnya Losari, Ciledug dan Pabuaran kurangnya keterlibatan anak muda yang aktif dan konsisten dalam menggaungkan moderasi beragama serta sumber daya manusia (SDM) anak muda yang terbatas dari lintas iman, “ingin sih sebenarnya terus menjalin silaturahmi dengan teman-teman di berbagai lintas agama dan juga mengadakan kegiatan bersama (kolaborasi), tapi baru sebatas wacana karena teman-teman juga mempunyai kesibukan lain” jelasnya.

Oleh karenanya penting untuk meningkatkan komunikasi antar umat beragama, membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya umat beragama. Hal itu semua bisa terbangun ketika silaturahmi antar kelompok intens. Artinya silaturahmi penting untuk menciptakan kawasan yang toleran dan saling menghargai satu sama lain. []