Jumat, 11 Oktober 2019

Kita Semakin Membutuhkan Cinta

Baca Juga

Oleh: Dr. (Hc) KH. Husein Muhammad

Suatu hari, di hadapan para santri dan para mahasiswa sebuah perguruan tinggi, di Cirebon, aku pernah mengatakan : “Kemarahan, amuk, kebencian, kecemasan, kegalauan dan frustasi yang tengah berlangsung pada bangsa ini boleh jadi merupakan “ayat”, tanda, simbol dari jiwa-jiwa yang dilanda situasi yang bisa disebut skizofrenia. Sebuah gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang memengaruhi fungsi otak manusia, mengusik fungsi normal kognitif, emosional dan perilaku.

Nah, jika begitu keadaan kita hari-hari ini, maka kita harus bisa dengan segera membebaskan situasi kejiwaan yang akut ini. Jika tidak, masa depan kita adalah kengerian-kengerian yang mungkin tak tertanggungkan. Kita memerlukan cahaya, pencerahan intelektual dan kebeningan spiritual. Lalu aku menekankan : “Kita makin membutuhkan cinta”.

Dan aku mengutip kata-kata indah Maulana Jalaluddin Rumi :

ان الحب هو الذى يحول المر حلوا والتراب تبرا والكدر صفاء والالم شفاء والسجن روضة وهو الذى يلين الحديد ويذيب الحجر ويبعث الميت وينفخ فيه الحياة.

Cintalah yang mengubah pahit menjadi manis, tanah menjadi butir-butir permata, yang keruh menjadi bening, yang sakit menjadi sehat, penjara menjadi taman bunga.

Cintalah yang mampu melenturkan besi, menghancurkan bebatuan, menghidupkan yang mati dan mengembuskan ruh kehidupan.
(Rumi)

Aku juga mengingat kembali kata-kata Martin Luther King Jr. :

علينا أن نتعلم العيش معاً كإخوة، أو الفناء معاً كأغبياء.

“Kita harus belajar hidup berdampingan bagai saudara
Atau (jika tidak), kita akan hancur bersama sebagai manusia-manusia dungu”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak sama sekali ! Justru yang...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme pertama-tama bukan bicara soal persamaan,...

Populer

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 1)

Oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda, Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, CirebonPerkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya,...

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Artikel Lainnya