Kamis, 10 Oktober 2019

Spiritualitas Syattariyah dalam Lirik Lagu Tarling

Baca Juga

Oleh: Abdul Rosyidi

Gambarane wong urip ning alam dunia
(Gambaran manusia hidup di dunia)

Lir upama wayang kang lagi cerita
(Seperti wayang yang sedang memainkan cerita)

Ora daya lan ora upaya
(Tidak ada daya dan upaya)

Terserah dalang kang duwe kuasa
(Terserah dalang yang punya kuasa)

***
Bait di atas bukan puisi, bukan pula senandung lirih para salik. Ia adalah lirik lagu tarling. Iya, tarling. Lirik yang dinyanyikan bersama alunan gitar, suling, dan seperangkat alat musik lainnya.

Musik tarling dangdut yang berkembang di wilayah Cirebon, Indramayu, dan sekitarnya identik dengan kesan seronok dan vulgar. Tak jarang para penyanyi musik ini mengenakan pakaian minim saat beraksi di atas panggung. Meski tidak semua, tapi citra itu terlanjur melekat.

Untuk fenomena satu ini, kita sering menyalahkan para pelaku seni. Saya pun kerap berpikir demikian. Bagaimana tidak marah? Pertunjukkan tarling di zaman ini sudah bertransformasi menjadi ‘organ dangdut’ yang menyodorkan ‘pemandangan’ mencemaskan.

Tapi kadang saya juga berpikir, diakui atau tidak, seni, termasuk tarling adalah cermin masyarakatnya. Bukankah aksi panggung para penyanyi, musik, lirik lagu dan lainnya disesuaikan dengan minat dan permintaan masyarakat? Toh, masyarakat penonton semakin menyukainya. Jadi salah siapa?

Apapun, kalau kita buka kembali lembaran lama, pada tahun 1960-an, tarling tidak sama seperti sekarang. Selain penampilan para seniman lebih sopan, kebanyakan lirik lagunya bercerita tentang kehidupan sehari-hari bahkan berisi nasihat yang mengandung sisi spritualitas dan kemanusiaan masyarakatnya.

Salah satunya lagu “Gambaran Urip” gubahan Yoyo Suwaryo yang dinyanyikan Hj. Dariah di atas, menunjukkan bahwa lirik lagu tarling pernah berbicara tentang pesan-pesan sufistik. Tarling dan sufi, dua terma yang hari ini tak pernah kita lihat berada dalam satu panggung.

Lagu ini berisi nasihat kepada masyarakat pendengarnya tentang cara memahami kehidupan dan dunia yang serba fana. Salah satu liriknya mengabarkan agar masalah hidup tidak perlu dipikirkan terlalu dalam.

Manusia memang mempunyai keinginan dan kehendak tapi pada akhirnya kehendak Tuhan lah yang akan menjadi kenyataan. Ibaratnya, manusia itu seperti wayang yang segala geraknya apa kata dalang.

Awal mula saya menduga bahwa lagu ini terpengaruh Jabariyah, sebuah aliran teologi Islam klasik. Dalam keyakinan Jabariyah, jalan hidup manusia sudah ditentukan dan manusia terpaksa (ijbar) untuk menerimanya. Manusia hanya menerima keadaan tanpa memiliki pilihan dan usaha.

Segala perbuatan manusia sudah ditentukan oleh qadla dan qadar Tuhan yang tertulis di lauh mahfuzh.

Tapi kemudian saya berubah pikiran, lirik tarling itu bukan pengaruh teologi, melainkan tasawuf.

Pertama, saya masih meyakini hanya di dalam humus tasawuf, pohon seni bisa tumbuh dengan subur. Tasawuf tidak membatasi manusia untuk berkesenian. Seni (mungkin dengan sastra) adalah media yang paling mungkin bagi seorang sufi untuk mengatakan ‘sesuatu’ yang tak bisa dijelaskan akal.

Kedua, jika melihat sejarah Islam yang berkembang di Cirebon masa Kesultanan, semakin kuat dugaan saya lirik lagu tersebut lebih merupakan pengaruh ajaran Tarekat Syattariyah. Dalam ajaran Tarekat Syattariyah di Cirebon ada sebuah pesan bahwa “urip iku mung derma wewayangan”.

Hidup hanya (mengikuti) alur cerita wayang. Mungkin dari sinilah inspirasi lahirnya lirik lagu di atas.

Pesan yang sama dengan ungkapan dalam budaya Jawa: “urip mung mampir ngombe”. Hidup hanya mampir untuk minum. Al-Qur’an sendiri mengatakan bahwa hidup adalah permainan dan senda gurau belaka.

***

Bukti penyebaran tarekat ini di Cirebon sangat melimpah, dari mulai naskah, artefak, cerita rakyat, puji-pujian, ajaran-ajaran, dan sebagainya. Salah satunya adalah manuskrip yang ditulis Mbah Muqoyim tentang tarekat ini.

Manuskrip tersebut ditulis di tempat pelariannya di Batang, Jawa Tengah. Dia bai’at Syattariyah kepada Kiai Tolabuddin, Batang.

Mbah Muqoyim adalah seorang mufti di Keraton Kanoman, Cirebon. Sebelum dia memutuskan untuk keluar dari istana dan memilih jalan sunyi tarekat dan membangun kekuatan-pengetahuan masyarakat lewat pesantren.

Sebuah pilihan untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda yang pengaruhnya di keraton semakin kuat.

Tarekat Syattariyah semakin menyebar saat Mbah Muqoyim mendirikan pesantren yang sekarang disebut Pesantren Buntet.

Selanjutnya, Kiai Sholeh Zamzami atau yang biasa disebut Mbah Kiai Sholeh, anak keempat dari Kiai Mutta’ad, cucu-menantu Mbah Muqoyim, membawa Syattariyah ke Benda Kerep, Kota Cirebon.

Mbah Sholeh merupakan mursyid taraket Syattariyah berdasarkan penunjukkan dari kakak iparnya, Kiai Anwarudin Kriyani Al-Malibari atau Ki Buyut Kriyan. Nyai Ruhillah, istri Buyut Kriyan adalah anak sulung Kiai Mutta’ad.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak sama sekali ! Justru yang...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme pertama-tama bukan bicara soal persamaan,...

Populer

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 1)

Oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda, Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, CirebonPerkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya,...

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Artikel Lainnya