Sabtu, 12 Oktober 2019

Pemuda dan Pelajar Diharapkan Tak Termakan Berita Hoax

Baca Juga

Pelajar yang telah memiliki hak pilihnya memiliki peranan penting untuk menyukseskan hajatan lima tahunan yang akan dilaksanakan 17 April mendatang. Namun, pemilihan umum (pemilu) kali ini menjadi tantangan tersendiri, karena hoaks atau berita bohong dan ujaran kebencian semakin marak, terutama di media sosial (medsos).

“(Ini) menjadi perhatian agar para pemuda atau pelajar tidak mudah termakan hoaks dengan cara periksa data dan tidak terjebak oleh judul (provokatif),” kata Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Cirebon, Marzuki Rais ketika menyampaikan materi seminar dan diskusi di SMK Nahdlatul Ulama (NU) Kapetakan, Jumat, 5 April 2019.

Untuk itu, Kang Rais, panggilan akrabnya mengajak pemuda dan pelajar untuk menyukseskan bersama pemilu serentak ini. Sebab, sebagai warga negara pemuda dan pelajar memiliki hak untuk menyalurkan suara sesuai hati nuraninya.

“Siapapun pemenangnya adalah pilihan rakyat, meskipun bukan orang yang kita pilih. Kita harus menghargai pilihan orang lain,” tegasnya

Sementara itu, Ketua Ranting GP Ansor Desa Tangkil-Susukan Kabupaten Cirebon, Muhammad Ibnu Labil mengatakan, kasus intoleransi yang terjadi saat ini tidak sedikit yang melibatkan pemuda. Makanya diskusi ini penting agar tak terjerumus dengan kelompok yang menghalalkan kekerasan, baik fisik maupun psikis.

Lebih lanjut lagi, beberapa cara yang harus dilakukan adalah literasi. Menurutnya, literasi harus digiatkan di kalangan pelajar agar tidak mudah termakan hoaks.

“Pengalaman beroganisasi yang terbuka agar lebih menghargai kebersamaan, serta membangun ide yang inovatif agar memberikan manfaat untuk orang banyak,” katanya.

Untuk diketahui, diskusi dan seminar bertajuk dinamika pelajar di era milenial digelar Fahmina Institute dan SMK NU Kapetakan. Kegiatan itu juga dihadiri Kepala Kecamatan Kapetakan, Carsono dan Kepala SMK NU Kapetakan, Dedi Supriadi, S.Pd. (ZAIN)

Sumber: Mubaadalahnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak sama sekali ! Justru yang...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme pertama-tama bukan bicara soal persamaan,...

Populer

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 1)

Oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda, Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, CirebonPerkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya,...

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Artikel Lainnya