Kyai NU Cirebon Rapatkan Barisan

0
640

CIREBON. Gerah dengan maraknya berbagai persoalan terkait kegamaan yang terjadi belakangan ini, sejumlah kyai sepuh NU Cirebon bermaksud melaksakan sarasehan yang akan dilaksanakan pada Minggu, 25 Mei 2008 di Pesantren Kempek Gempol Cirebon. Kegiatan ini menurut, panitia pelaksana, dimaksudkan sebagai media silaturahim kyai NU Cirebon.

 

Pada kesempatan ini, kyai-kyai juga akan mendiskusikan masalah-masalah realitas keagamaan yang terjadi belakangan ini, dimana antar pemeluk agama sudah saling memusyrikan dan mengkafirkan. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mengingatkan baik kepada para kyai maupun masayarakat dan jama’ah NU, bahwa NU sebagai organisasi sosial-keagamaan telah menerima dan berkomitmen untuk mempertahankan Pancasila, UUD 1945 dan NKRI sebagai tujuan akhir dari perjuangan umat Islam Indonesia.

 

Kalau kita lihat dalam sejarahnya, secara keagamaan, NU lahir atas respon dari rencana Raja Ibnu Saud yang hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Mekah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bi’dah. Gagasan kaum wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut. Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren membuat delegasi yang dinamai Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah untuk berangkat menemui Raja Saud. Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hijaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.

 

Dalam kontkes sekarang, sejarah kebangkitan Ulama (Nahdlatul Ulama), menemukan momentumnya kembali. Gerakan kaum Wahabi kini bukan hanya di Arab Saudi tapi sudah masuk ke Indonesia bahkan ke Cirebon. Mereka masuk dan melakukan aktivitas sampai ke kantong-kantong NU. Dengan berbagai cara, mereka melakukan aktivitas dan mengharamkan (memusyrikan) segala amalan yang selama ini dilakukan kalangan pesantren dan ulama. Dengan dalih agama, gerakan pemurniaan yang mereka lakukan, dilakukan dengan tindak kekerasan. Bahkan, tidak sedikit jama’ah NU yang sudah mulai masuk dan terlibat dengan gerakan wahabi ini. Dalam konteks keagamaan dan kebangsaan, gerakan wahabi ini, perlu diwaspadai karena berpotensi menghancurkan sendi-sendi tradisi kegamaan warga NU -yang sudah lama dimiliki oleh masyarakat Islam Indonesia- dan sendi-sendi kebangsaan yang selama ini menjadi kesepakatan bangsa Indoensia. Dengan dalih khilafah Islamiyah, mereka terus berjuang merongrong ketatanegaraan Indonesia. [MR]