Makna Mawaddah dalam Pernikahan

Oleh: Dr (Hc) KH. Husein Muhammad

Kata mawaddah sering dimaknai sama dengan “mahabbah”. Yakni cinta. Tetapi sesungguhnya bisa tidak sama essensinya. Ada banyak kata yang mengindikasikan makna cinta, seperti “al-Isyq”, rindu, atau “al-hawa”, (hasrat) dan lain-lain. Orang Arab mengatakan :

المحبة هي غليان القلب وثورانه عند لقاء المحبوب،
Mahabbah adalah deburan atau gejolak hati saat bertemu dengan yang dicintai.

Ada lagi yang mengatakan :

فالحبّ هوًى في القلب، غاية ما يريده لقاء المحبوب والأنس به.

Mahabbah adalah hasrat dalam hati untuk bertemu “mahbub”, (yang dicinta), dan bermesraan dengannya.

Konon dalam kata “mahabbah” (cinta) terkandung makna kekaguman, pesona, keindahan, rindu, rasa bahagia dan “sejuta” rasa yang lain. Cinta selalu merupakan kata yang menyimpan misteri yang hanya dimengerti oleh yang mengalaminya.

Para ahli cinta menyebut ada banyak jenis cinta. Saya ibgin menyebut tiga saja yaitu “Al-Hubb al-‘Udzri”, atau sering disebut “Cinta Platonis”. Ini lebih bermakna kekaguman, keterpesonaan dan ketertarikan karena pribadi dan pikiran-pikiran seseorang.
Dua, “al-Hubb al-Jinsy” atau cinta erotis, kesenangan tubuh laki-laki terhadap tubuh perempuan dan sebaliknya. Tiga, al-Hubb al-Anany, cinta kepada diri sendiri.

Lalu apa makna “Mawaddah” dan bedanya dengan “Mahabbah”?. Menjawab ini tidaklah mudah, bahkan selalu melahirkan kontroversi.

Ada orang yang membedakan kedua kata itu. Ia mengatakan :

يُعتبر الحب من الصفات النفسيّة العاطفيّة القلبيّة، بينما تُعتبر المودّة من الصفات العمليّة وهي أثرٌ سلوكيٌّ متفرّع من الحبّ،

Al-Hubb, cinta adalah sifat dari jiwa yang lembut yang ada di dalam hati. Sementara “Al-Mawaddah” adalah ekspresi dari cinta yang bersifat praktis. Jadi mawaddah bersifat tindakan lahiriah yang lahir dari cinta.

Dengan begitu boleh jadi makna “Mawaddah” lebih mendekati arti kesenangan dan ketertarikan fisik, atau gairah seksual yang bersumber dari hubb/cinta.