Marzuki Wahid Dilantik Jadi Rektor ISIF, Perguruan Tinggi dengan Paradigma Islam Transformatif

0
65

Oleh: Ismail Marzuki

Yayasan Fahmina, belum lama ini menyelenggarakan pelantikan Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) periode 2021-2024, KH Marzuki Wahid, melalui zoom meeting. Dalam kesempatan itu, sekaligus melantik para wakil rektor, para kepala biro, para dekan, para ketua program studi, direktur lembaga, dan direktur pusat di lingkungan ISIF.

Pelantikan yang dilakukan secara online dan dipimpin oleh Hijroatul Maghfiroh dihadiri oleh sekitar 160-an peserta dari berbagai negara dan provinsi. Di antaranya dihadiri oleh Prof. Dr. Greg Fealy dari The Australian National University (ANU) Canberra Australia, Husna yang menjadi pekerja migran di Hongkong, KH. Muhammad Ahsin Mahrus dari Staf Kedutaan Syiria, Romo Onufrios (Tendean) dari Vatikan, Dr. Rumadi Ahmad dari Lakpesdam PBNU Jakarta, dosen dari IAIN Salatiga, UIN Walisongo Semarang, Komunitas Enggran Ledokombo Jember, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, dan Andy Yentriyani (Komisioner Komnas Perempuan), dan lain-lain.

Selain itu, juga dihadiri oleh banyak umat beragama. Tidak hanya kalangan Muslim yang hadir dalam acara pelantikan itu, namun sejumlah pendeta, tokoh masyarakat AKUR Sunda Wiwitan Cigugur Kuningan, Jamaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Romo Kristen Ortodoks, tokoh Buddha, dan kalangan Syi’ah.

Pelantikan ini juga diramaikan dengan parade pembacaan puisi oleh sahabat-sahabat Fahmina, sastrawati Cirebon Nissa Rengganis dan sastrawan Pesantren Gus Ubay Baiquni, alunan kidung oleh Kang Akbaruddin Sucipto, dan tiktok Gojlokan Cerbonan oleh alumni ISIF, Kang Sobih Adnan dan Kang Devida.

Ketua Yayasan Fahmina, KH Dr. Husein Muhammad, ISIF ingin mewujudkan cita-citanya sebagai perguruan tinggi Islam terdepan dalam riset Islam, gender, dan transformasi sosial, dan menjadi referensi akademik terkait Islam Indonesia yang toleran, adil, serta menghargai kebhinekaan dan tradisi lokal.

“Gebrakan pertama dipilih oleh rektor baru dengan pendekatan kelembagaan dan pengembangan pusat studi,” katanya.

Gebrakan itu, lanjut dia, untuk menunjang perwujudan cita-cita Yayasan Fahmina. Yakni terwujudnya peradaban manusia yang bermartabat dan berkeadilan berbasis kesadaran kritis tradisi pesantren. Pendidikan, kata dia, adalah media terpenting untuk mewujudkan peradaban yang dicita-citakan Yayasan Fahmina.

“Institut Studi Islam Fahmina sendiri didirikan oleh Fahmina-institute pada 1 September 2007 atas permintaan masyarakat yang disampaikan pada resepsi Ulang Tahun Fahmina ketujuh tahun 2007 di Cirebon,” katanya.

Sementara itu, Rektor ISIF, KH. Marzuki Wahid, menjelaskan, ada dua tujuan ISIF didirikan. Pertama, menghasilkan sarjana Islam yang berintegritas, berperspektif kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, kebhinekaan, dan kearifan lokal dalam pengetahuan holistik keislaman yang transformatif.

Kedua, lanjut dia, menghasilkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan keislaman yang menjawab tantangan zaman dan bermanfaat bagi kemajuan dan kemaslahatan kehidupan masyarakat yang bermartabat dan berkeadilan.

“Ada pun paradigma keilmuan ISIF adalah ‘Islam Transformatif’, yakni Islam yang membebaskan dan mengubah kehidupan sosial secara adil, maslahat, dan humanis, dengan cara mendialogkan terus menerus antara teks-teks klasik keislaman dengan dinamika sosial yang terus berubah,” ujarnya.

Dalam proses pendidikan, lanjut Marzuki, ISIF menganut paradigma pendidikan kritis yang membebaskan, melalui metode dialogis, partisipatif, belajar dari realitas, dan mengaitkan teori dengan praktik dan transformasi sosial.

ISIF sekarang ini memiliki 3 fakultas dan 6 program studi, yakni Fakultas Tarbiyah dengan Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Syari’ah dengan Program Studi Hukum Keluarga Islam (al-Ahwal asy-Syakhshiyah) dan Program Studi Ekonomi Syari’ah, serta Fakultas Ushuluddin dengan Program Studi Ilmu al-Quran dan Tafsir, Program Studi Filsafat Islam, dan Program Studi Akhkak Tasawuf.

“Dalam usianya yang ke-14 tahun, ISIF telah menghasilkan ratusan sarjana Islam, puluhan karya-karya keislaman yang berperspektif kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan gender, dan menjadi rujukan para peneliti dan akademisi, serta transformasi sosial di sejumlah desa yang menjadi dampingannya di Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan,” katanya. []

Tulisan ini sebelumnya dimuat di kabarcirebon.com