Membaca Kartini Sepenggal Kisah dari Indramayu

Oleh: Nur Umar

0
1382

Sosok yang terus di elu-elukan sejak sediakala hingga hari ini, bahkan. Raden Ajeng Kartini, putri tangguh kelahiran 21 April 1879 di Jepara, dari kalangan bangsawan, sehingga gelar RA yang disematkan padanya sebelum menikah merupakan sesuatu yang absah pada saat itu, namun sesudahnya beliau menikah dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo maka berganti menjadi RA (Raden Ayu). Begitulah tradisi Jawa pada masa kolonial. Dan dari beliau perempuan-perempuan tangguh Indonesia lahir, dengan manuver berupa Emansipasi Wanita yang beliau gagas kala itu kini telah dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia. Hingga tak diragukan lagi status kepahlawanan yang di sandang beliau atas jasa-jasanya yang hingga saat ini masih terus terhembus.

Akantetapi, bagaimana nasib Kartini hari ini? Apakah Kartini hanya sebatas seremoni anak-anak sekolahan ketika peringatan milad beliau yang di hiasi kebaya ‘palsu’ dan solekan gincu kapital? Atau menuliskan bait-bait puisi dengan nuansa melankolis? Naif jika Kartini terus direduksi cita-cita perjuangannya dan hanya berahir pada panggung sandiwara ala fashion show, karena perempuan adalah objek, cukup dimengerti bahwa nilai intrinsiknya dipengaruhi oleh gaya berpakaiannya, oleh sebab itu Kartini hanya dipahami sebatas sanggul dan kebaya, yang seenak jidatnya membiarkan dirinya menjadi Kartini demi kemenangan, bukan perjuangan yang menjdai icon beliau. Lalu di mana Kartini hari ini bersembunyi? Dan dengan realitas yamg memperlakukan beliau seperti itu, lantas apakah beliau menangis atau malah menertawakan generasi sesudahnya, lantaran tidak lagi meneruskan tali estafet perjuangannya. Dan peringatan milad beliau hanya sebatas sanggul dan kebaya, itu pun hanya sebagai rambatan dari eksistensi beliau di berbagai lukisan berformat JPG.

Lantas siapakah beliau tanpa gagsan besarnya, tanpa kritisme yang tertanam kuat dalam sanubarinya? Dengan lantang beliau menggugat status quo yang disandang oleh kaum laki-laki saat itu, dari mulai pendidikan hingga realitas sosial kala itu juga. Dan bahwa perempuan hanya di pandang sebagai second sex atau Sosok yang Lain dengan segala pernak-pernik yang di labelkan padanya. Perempuan adalah mahluk kelas dua dalam realitas sosialnya, serta tidak layak disetara dengan laki-laki, sehingga ia (perempuan) hanya mendapatkan posisi kedua dalam pendidikan dan tidak boleh mendapatkan gelar tinggi yang setara dengan laki-laki, hingga prospeknya kemudian ia hanya akan memenuhi tuntutan domestik atau keluarga (dapur, kasur, sumur).

Sehingga apabila terdapat perempuan yang mbalelo dengan apa yang telah dilabelkan padanya itu, maka istilah kualat dirasa tepat sebagai punishment atanya. Dengan menerobos kualat itu maka RA Kartini telah mewakili segenap perempuan yang telah direduksi ststus kemanusiannya. Dengan menyuarakan hak-haknya sebagai seorang manusia yang secara esensial semestinya ia mendapatkannya tanpa di bredel dengan segudang kata kualat yang selalu dijadikan sanksi moral padanya. Hingga pada 17 September 1904 beliau menghembuskan nafas terakhirnya sebagai indikasi bahwa perjuangan atas perempuan belum berakhir, “bagai titik dalam koma” hentak Devide.

Pada saat ini Katini secara esensial masih ada dan hidup, di ruang-ruang kumuh perkotaan hingga pelosok desa. Kartini dalam makna sesungguhnya, bukan jadi-jadian. Sosok seperti Marsinah dan yu Patmi sebagai reinkarnasi Kartini pada hari ini – bukan yang dilombakan tadi, yang dengan gigih memperjuangkan kemanusiaan yang selama ini telah kalut tertelan hegemoni kapitalisme, menyelinap masuk dan menyeruyak ke setiap lininya, hingga tak ayal perempuan hari ini hanya di jadikan sebagai objek dari kapitalisme itu sendiri. Dari mulai persoalan perdagangan manusia (traficking) hingga persoalan konkritnya TKW yang secara signifikan mengalami berbagai penindasan dari seabreg persoalan berbuntut dominasi kekuasaan. Dan “perlu dicatat, untuk satu hal bahwa profesi besar dari para pelacur, dulunya, adalah para pembantu rumah tangga” tukas Simone de Beauvoir.

Kemudian perempuan dalam “Produktivitasnya begitu destruktif bagi pertumbuhkembangan (Kartini) yang bebas akan kebutuhan dan kemampuan umat manusia, (karena) kedamaian terpelihara berkat suatu ancaman akan terjadinya perang yang terus-menerus, perkembangan (Kartini) tergantung pada kemungkinan-kemungkinan nyata demi meredakan perjuangan bagi adanya eksistensi – individu, nasional dan internasional” tukas H Marcuse dalam Manusia Satu Dimensi-nya. Dan juga perempuan yang tidak bisa lepas atas fungsi utamanya; produksi dan reproduksi yang kadang menjadikan sebuah hambatan atas perempuan itu sendiri dalam pengambilan keputusan dalam hidupnya dan tetap terpelihara dalam dominasi kekuasaan itu sendiri. Bungkam serta sifat apatis itu sendiri yang mendiskreditkan mencuatnya kartini-kartini pada hari ini.

Di rerindangan desa, pun Kartini tetap ada sebagai pendongkrak status mapan laki-laki, seperti mereka yang berprofesi sebagai pekerja kasar (blue-collar) ataupun yang lainnya, seperti buruh tani yang selama ini didominasi oleh kaum perempuan serta pedagang pasar yang sebagian besarnya adalah perempuan, maka refutasi (pembuktian bahwa sesuatu itu tidak benar) atas Kartini yang hilang hilang kini terbantahkan, status quo yang dipertahankan pun perlahan terdegradasi, meski secara budaya perempuan masih tetap di perlakukan sebagai second sex namun geliat-geliat Kartini mendominasi atasnya,‘kutukan’ yang dibebankan kepada perempuan sebagai budak berlangsung, seperti lazim diketahui, dalam kenyataan bahwa ia tidak diperkenankan melakukan apapun; sehingga akan sia-sia jika ia mengajar kediriannya. Dan mayoritas pekerja (buruh perempuan) dieksploitasi. di lain pihak, struktur sosial tidak banyak berubah oleh perubahan kondisi perempuan; dunia ini selalu menjadi milik laki-laki, yang masih mempertahankan bentuk yang telah diterimanya.

Apa yang terjadi pada perempuan-perempuan Indramayu dalam dinamika kekinian, pergulatan dalam dinamika sosial, ekonomi, politik dan budaya. Dalam perjalanannya, perempuan Indramayu masih terkungkung dalam hirarki ekonomi yang tadi, kondisi memaksanya untuk menjadi buruh-hingga TKW untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Akan tetapi dualisme yang kadang di sandangakan kepada mereka yang melakukan pola urbaniasi ataupun migrasi tersebut, seperti stereotype yang disematkan sebab realitas kadang memaksa mereka untuk masuk dalam dunia hitam, mengisi setiap lokasisasi yang terdapat di berbagai tempat, dan implikasi yang kini di dapatkan adalah mereka yang telah mendapatkan stigmatisasi tersebut, sebagai perempuan gampangan, RCTI (Rangda Cilik Turunan Indramayu) atau katakata yang lainnya, yang menganding konotasi negatif atas perempuan Indramayu tersebut, maka pada prakondisi yang demikian upaya pembuktian adalah upaya konkrit yang harus dilakukan oleh perempuan Indramayu sebagai sikap reaksioner terhadap stigma tersebut.

Dengan potensi yang begitu besar, maka sudah sepatutnya Indramayu bisa menjadi preseden atas emansipasi dalam era moernitas ini, apalagi dengan bupatinya seorang perempuan, sudah barangtentu bisa lebih merasakan fenomena (jika bukan tragedi) yang tengah menghinggapi perempuan-perempuan tangguh asal Indramayu tersebut, seperti persoalan Rusmini TKW asal Sukadana, semestinya pemerintah cekatan akan hal ini, bukan hanya harga diri seorang Rusmini semata, namun kabupaten pun terkena imbas akan stereo type-nya.

Oleh karenanya, Kartini Indramayu bukalah mereka yang tampil modis dengan kebaya jadi-jadiannya, atau dengan solekan kapitalis-nya, akan tetapi Kartini Indramayu hari ini adalah mereka yang mati-matian membela hak-haknya dalam rangka mencukupi kebutuhan hidupnya. Maka nilai-nilai Kartini lahir dari rahim ketertindasan, bukan muncul dari congkaknya tradisi angkuh perempuan hetaira yang menjadi Kartini sehari. Dan dalam salah satu kesempatan, dulu, RA Kartini berpesan “Janganlah mengeluhkan hal-hal yang buruk datang dalam hidupmu. Tuhan tidak pernah memberikannya, kamu sendirilah yang membiarkannya datang.”