Memelihara Lebih Penting Daripada Mengatasi

0
582

Akhir-akhir ini studi perdamaian menggejala didunia riset. Pilihan situasi damai menjadi riset penting, karena studi situasi konflik tidak sepenuhnya menjadi pelajaran penting untuk meredam, dan sepertinya pilihan situasi damai menjadi arah baru untuk memberi pelajaran-pelajaran baik tentang bagaimana kelompok masyarakat saling menghargai satu sama lain. Peace keeping atau peace building sudah menjadi pilihan utama daripada peace making, artinya memelihara damai lebih baik, daripada membuat damai. Dalam peace building ada cerita-cerita baik tentang saling mengerti dan saling bekerjasama yang ditonjolkan. Sikap toleransi atar sesama sudah menjadi tema yang terus-menerus dimunculkan. itulah salahsatu yang muncul dalam diskusi bulan PELITA pada hari Kamis, tanggal 28 Agustus 2014 di Aula Bunda Maria kemarin,dengan dua orang narasumber Ihsan Ali FAuzi dan Jacky Manuputi serta dimoderatori Rosidin dari Fahmina. 

Lebih lanjut pernyataan bahwa memelihara damai lebih baik daripada melakukan sesuatu setelah pecah konflik menjadi kalimat kunci dari dua narasumber. Oleh karena itu Jacky Manuputi narasumber dalam diskusi tersebut, dengan terang bahwa mencari sebanyak-banyaknya proses pertemanan berdasarkan kesamaan dari sisi kemanusiaan, memperbanyak group-group dan melingkan group-group tersebut. Memanaj persamaan dengan mendekati semua kelompok yang berbeda untuk menemukan kesamaan yang bisa merekatkan. Sementara itu, Ihasan Ali Fauzi narasumber kedua, menguatkan bahwa perbanyak pergaulan, memperbanyak informasi, saling percaya dan saling menyapa merupakan bagian dari memelihara damai. Kata toleransi itu berarti menahan ketidaksetujuan, ketidaksukaan kepada yang lain dan diarahkan pada menghormati perbedaan atau menengggang rasa. 

Diskusi ini diikuti lebih dari 200 orang yang melibatkan dari komunitas muda lintas keyakinan dan daerah. Diskusi ini dimeriahkan dengan nonton bareng film tentang contoh-contoh toleransi. Lebih dari tiga jam acara berlangsung sejak pukul 16.00-21.00 antusias peserta cukup tinggi, bahkan kegembiraan dalam perjumpaan dengan yang berbeda terlihat jelas dari wajah-wajah belia muda-mudi yang hadir. Bahkan setelah selesai acara tidak langsung bubar begitu saja, tapi berlanjut dengan cakap-cakap riang layaknya teman lama yang baru jumpa. Suasana itu tampak tidak ada yang menjaga jarak walaupun mereka berbeda keyakinan. lebih dari 5 orang bertanya dan memberi pernyataan-pernyataan tentang kerinduan terus-menerus untuk situasi damai dan saling menjaga. oleh karena itu dua narasumber mendorong tokoh agama agar menghadirkan dalam misi-misi perdamaian dan memfungsikan tafsir dan pemahaman agama yang damai, bukan kebencian, bukan ketidaksuakaan, apalagi kekerasan.(RS)