Mengejar Kekuasaan dalam Pilkada

0
867

Pentingnya Pemilu Kepada Daerah (Pilkada) secara langsung membuat semua daerah harus mempersiapkan diri mereka sebaik-baiknya, serta berusaha bagaimana agar momen penting itu berlangsung secara demokratis dan berkualitas. Sehingga benar-benar mendapatkan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang dapat membawa kemajuan bagi daerah sekaligus memberdayakan masyarakat daerahnya. Selain itu salah satu tujuan diselenggarakannya Pilkada secara langsung, ini juga dapat memberikan pendidikan politik bagi masyarakat di daerah. Terutama  daerah di mana nantinya mereka menjadi lebih berpengalaman, serta turut berpartisipasi dalam kegiatan politik.

Pilkada langsung sebagai pembelajaran politik mencakup tiga aspek, yaitu; Meningkatkan kesadaran politik masyarakat lokal; Mengorganisir masyarakat ke dalam suatu aktivitas politik yang memberikan peluang lebih besar pada setiap orang untuk berpartisipasi; dan Memperluas akses masyarakat lokal untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka. Selain itu hal terpenting dari Pilkada ini adalah sebuah sarana demokratisasi di tingkat lokal, yang dapat menegakkan kedaulatan rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Calon terpilih akan kuat legitimasinya karena dipilih langsung oleh rakyat, sehingga tercipta stabilitas politik dalam pemerintahan daerah.

Namun sayangnya proses Pilkada hari ini kurang mencerminkan tiga aspek di atas. Yang muncul adalah situasi politik lokal yang diwarnai kejar-mengejar mendapatkan kekuasaan semata, tanpa mempertimbangkan kapasitas diri untuk mengelola problem daerah yang seabreg. Karena realitasnya, para calon malah sibuk dengan berbagai propagandanya, agar dikenal luas nama dan raut muka dengan memampang gambarnya di tempat public. Tidak heran jika ada yang menyebutkan bahwa yang terjadi hari ini adalah politik selebritas, yang kembali kepada diri sendiri, bukan politik untuk merubah keadaan yang akan kembali kepada publik dengan berbagai harapannya.

Hilangnya Rasa Malu

Kalau kita kaitkan dengan pikiran Shindunata yang tertuang dalam tulisan tentang politik rai gedheg, poin penting dari tulisan tersebut adalah menjelaskan tentang hilangnya rasa malu. Kata malu dalam bahasa Jawa artinya isin, wirang. Sementara kata Doyan dalam bahasa Jawa artinya suka dan ngiler artinya meneteskan air liur dari mulutnya ketika orang sedang tidur.

Kekuasaan dari dulu hingga sekarang membuat orang ngiler. Orang yang dibahunya sudah penuh dengan tanda bintang empat sekalipun, seakan belum cukup tanda bintang itu menempel di bahunya, itulah orang yang sudah berkuasa lebih dari satu kali seperti orang yang sudah tidur lelap sampai keluar air liur dari lidahnya. Toh air liurnya sedang menetes, tetap masih ngiler akan kekuasaan. Betapa nafsu akan kekuasaan tak kenal batas. Selalu membuat orang ngiler dan terus ngiler. Itulah gambaran situasi di depan mata kita saat ini. Di mana para pemimpin kita yang sudah bercokol lama sampai lumutan, tetap saja masih suka ngiler. Seakan dia yang lebih pantas untuk terus berkuasa dan berusaha mendapatkan kekuasaan yang lebih atas lagi. Walaupun sudah berkuasa lama, sebenarnya tidak tampak perubahan yang dirasakan oleh rakyatnya, yaitu tadi seolah-olah sudah berprestasi. Padahal yang tampak adalah dia semakin kaya dan berkuasa bagai raja yang hanya tahu memungut upeti tanpa merubah nasib rakyatnya yang miskin, bodoh dan serba kesusahan.

Orang yang sudah ngiler lama ini, nampaknya ingin tetap berkuasa, walaupun tidak secara langsung, namun dengan cara memunculkan generasi. Tetapi generasi yang harus muncul adalah dari keluarganya bukan yang lain. Seperti raja sepuh yang ingin tetap punya pengaruh, maka setelah lengser sekalipun, sekuat daya upaya dengan memaksakan diri harus muncul dari keluarganya. Ini persis seperti dinasti kerajaan yang sedang menyusun dan memperkuat tembok pengaruh kekuasaannya, seolah yang lain tidak layak untuk berkuasa selain diri dan keluarganya, walaupun ada ksatria yang tangguh dan berwibawa dari dirinya.

Lebih menjijikan lagi, iler kekuasaan yang menetes itu juga masih diperebutkan orang-orang lain. Mungkin orang-orang yang menadahi iler itu adalah bawahan atau begundal dari penguasa yang suka ngiler itu. Seakan dengan merasakan iler-nya, mereka juga ditetesi kekuasaan yang dimiliki atasannya. Di belakang penguasa yang suka ngiler, itu biasanya dikelilingi perempuan-perempuan cantik, tentu perempuan-perempuan yang suka iler. Itulah sebuah wajah rai gedheg.

Dengan lidahnya yang panjang menjulur dan meneteskan iler, wajah itu sungguh tampak sebagai wajah yang tidak punya rasa malu lagi. Adakah itu adalah wajah sesungguhnya dari wajah-wajah pemimpin yang sekarang sedang berebut kekuasaan tertinggi di wilayah III Cirebon dan Jawa Barat?

Narsistik

Karakter lain dari rai gedheg adalah penjilat. Ariswan Adhitama dalam karyanya “Mr. Lolipop dan Penjilat”. Kekuasaan itu manis, enak diemut, seperti permen lolipop. Tak heran bila menjelang pergantian kekuasaan, termasuk bupati dan gubernur, politikus atau partai-partai berebut untuk menjilat kekuasaan. Mereka bagaikan robot-robot kecil yang mengerubungi robot besar, yang memiliki lolipop yang paling besar pula. Alangkah enaknya, jika mereka boleh ikut menjilat lolipop yang manis itu.

Politik kita, seperti yang terjadi hari ini, bukanlah politik yang menawarkan program, melainkan yang menjual wajah. Wajah para politikus menghiasi apa saja, dari dinding-dinding, pohon-pohon, kaca-kaca angkutan umum sampai tiang listrik. Wajah para pemimpin dan politikus menyerbu ke mana pun, ke kampung-kampung, kegiatan-kegiatan masyarakat, sampai ke rumah-rumah pribadi. Mereka begitu yakin akan wajahnya, seakan dengan wajahnya mereka bisa meyakinkan rakyat untuk memilih mereka. Mereka sungguh narsistik, dan dalam arti itu mereka adalah rai gedheg.

Wajah yang terpampang di mana-mana sebagai calon pemimpin rakyat, sungguh wajah yang menarik dan seperti pantulan dari kearifan dan kebijaksanaan? Bukan! Wajah yang kita lihat bukanlah wajah mereka yang asli. Di mana-mana kita melihat mereka tampil dengan menawan, tapi sesungguhnya mereka adalah buruk rupa dan buta. Buruk rupa dan kebutaan itu adalah pantulan dari hati mereka yang buta dan tidak tahu akan masalah dan penderitaan rakyatnya. Mulai dari susah mendapatkan pekerjaan di daerah sendiri, susah mendapatkan perlindungan sebagai tenaga kerja atau buruh migran di negeri orang, hingga meningkatnya korban perdagangan orang atau trafiking serta perenggutan hak-hak lainnya.

Lebih parah lagi wajah yang tampan dan menawan itu sebenarnya hanya sekedar topeng belaka. Wajah-wajah yang seram dan buas haus akan mangsa itu tersembunyi dan hampir tak terdeteksi. Ketrampilan untuk menyembunyikan diri itulah keahlian mereka yang ber-rai gedheg. Kita sering tertipu oleh mereka, hingga kita tak pernah sampai melihat wajah mereka yang asli.

Semua orang sebenarnya berpotensi untuk menjadi rai gedheg. Namun, penguasa atau pemimpin tampaknya adalah kelompok manusia yang paling berpotensi untuk menjadi rai gedheg. Sehingga betapa pun ia berusaha menyembunyikan wajah yang sesungguhnya, toh tampak juga kebobrokannya.

Dalam kesemrawutan politik saat ini, alat-alat yang tidak semestinya digunakan, praktik kekuasaan yang sedang dilakoninya seakan berbicara pada kita tentang pemimpin yang suka menggunting, mencatut dan menggaruk uang rakyat, menyetrika dan menggilas mereka yang lemah dan tak berdaya, menggertak dan menakut-nakuti rakyatnya. Dia adalah penguasa yang sombong, seperti ayam jantan yang suka sesumbar dengan kokokkannya. Dan di bajunya terselip uang kertas ratusan, sebagai tanda bahwa ia kaya dan suka menumpuk harta, juga tanda bahwa ia bisa menghamburkan uangnya untuk membeli apa saja, termasuk suara untuk mendukungnya.

Melihat gambaran nyata dari para calon penguasa, rai gedheg kelihatan juga ekspresi orang yang tak tahu diri, bingung, kacau dan tak menentu pendiriannya. Pada dasarnya, orang demikian adalah orang yang tak mempunyai prinsip. Karena tak berprinsip, ia pun dengan mudah melanggar aturan.

Rakyat Harus Kritis

Kita harus kritis, jangan percaya dengan janji-janji penguasa atau calon penguasa. Kita harus terus mengingatkan mereka, agar mereka tidak membunuh masa depan kita, karena jika mereka berjanji dan berjanji lalu terus tidak banyak ditepati, maka sebenarnya mereka sedang membunuh masa depan kita. Oleh karena itu, kritis terhadap mereka yang sedang mengobral janji sangat penting. Dan harus berani menganggap janji mereka hanyalah pagi tempe sore tahu. Artinya sama saja tidak ada yang berubah.

Demokratisasi secara konseptual menurut Kenneth Minogue (2000) merupakan proses di mana rezim-rezim otoriter beralih menjadi rezim-rezim demokratis. Proses transisi menuju demokratis dalam Pilkada kali ini menjadi fenomena kuat, apakah demokratisasi berjalan sesuai dengan substansinya atau lagi-lagi terjebak pada “slogan-slogan dan verbalisme,” kampanye yang tak mampu menangkap aspirasi dan kepercayaan rakyat pemilih.

Kemauan dan kerelaan para pemimpin terpilih untuk secara cepat atau lambat melepaskan dominasi mental priayi ataupun otoriter. Pada platform inilah proses demokratisasi akan menemukan “ruang gerak”-nya secara dinamis, namun hal ini tidak ada yang bisa menjamin sepenuhnya karena berbagai realitas dan fenomena sosial, budaya, ekonomi, dan politik rakyat saling terkait dan saling memengaruhi. Pada tataran ini, Pilkada secara langsung akan menjadi satu momentum berharga bagi rakyat dalam memilih pemimpinnya, sekaligus tantangan dan ujian bagi proses pendidikan politik rakyat.

Maraknya elite birokrasi yang bermasalah di daerah, rendahya penegakan kepastian hukum, rendahnya kualitas pelayanan publik, minimnya penciptaan lapangan kerja, tingginya angka pengangguran yang riil, rendahnya kualitas kesadaran, serta keteladanan dan kedewasaan para elite politik akan menjadi muatan yang tidak bisa dipisahkan dari pelaksanaan Pilkada secara langsung dan sekaligus menjadi indikator bagaimana memberi makna demokratisasi bagi rakyat pemilih, sehingga kualitas dan kepercayaan rakyat pada para pemimpin terpilih menjadi kunci keberhasilan. Sejauh mana demokratisasi ini betul-betul memberi manfaat dan makna bagi kehidupan yang lebih baik, bukan pada tataran utopia dan slogan saat kampanye semata, di mana akhirnya rakyat menjadi penonton pasif dan dimarginalisasikan.

*Penulis adalah pengamat politik Cirebon dan salah satu Aktifis Jaringan Masyarakat Anti-Trafiking (Jimat) Cirebon.