Menggerakkan Yang Kecil

0
722

Sesekali terdengar gelak tawa, memecah siang yang mendung. Posisi duduk mereka yang ”indisipliner” tidak mengganggu kekhusuan pada satu ”titik kecil”, juga tidak mengurangi kesopanan sebuah forum.

”Yang saya kerjakan dengan teman-teman di desa merupakan hal yang sederhana, kecil, mudah, dan murah. Yang susah itu niatnya. Bagaimana tidak, yang kami kerjaankan kecil saja. Tapi, hasilnya ingin bermakna dan bermanfaat bagi banyak orang. Susahkan?” demikian ”titik kecil” yang berwujud seorang lelaki pendek dan kurus mulai bercerita.

Kerumunan anak-anak muda yang laki-lakinya berkopyah dan perempuannya berkerudung terus memperhatikan lelaki tadi. Saya yakin, di antara mereka masih ada yang memikirkan ”niat susah” dan ”pekerjaan kecil” yang baru saja dilontarkan sang pencerita yang juga berkopyah.

”BMT bermula dari patungan duit, saya dan haji Iwan. Semuanya berjumlah dua puluh lima juta perak. Duit itu kami gunakan untuk membeli BMT yang bangkrut,” lanjut sang pencerita dengan pelan. Anak-anak muda menengklengkan telinganya untuk bisa mendengar dengan baik.Ahmad Tohari

”Untuk menggerakkan BMT yang kami namai dengan Al-Amin, berbekal sertifitkat rumah saya dan haji Iwan, kami ngutang duit 100 juta rupiah pada Bank Muamalat,” jelas lelaki pendek, kali ini sambil menuliskan angka-angka di kertas plano yang ada di samping kanannya.

”Pelan-pelan kami bekerja, pelan-pelan kami dipercaya. BMT yang berdiri pada tahun 2001, sudah memiliki aset tiga milyar pada tahun 2005. Ratusan masyarakat kecil telah menikmati kerja-kerja kecil kami,” ujar sang pencerita, kali ini dengan suara meninggi, sambil menuliskan ”tiga milyar” dengan besar, hampir memenuhi selembar plano.

Kisah di atas dilontarkan pada sebuah forum yang digelar, 6 Februari 2008, PP. Kempek Cirebon, Jawa Barat. Sahibul hajat, PC Lakpesdam NU Kab. Cirebon, menggelar forum tersebut dalam rangka memperingati hari lahir Nahdlatul Ulama ke-82 tahun.

Sang pencerita yang bertubuh kecil dan pendek, berusia sekitar 60-an tahun, adalah seorang novelis kenamaan negeri miskin ini. Ia adalah Ahmad Tohari. Dalam jagat kesusastraan negeri ini, siapa yang tidak mengenalnya?

”BMT Kang Tohari ini tidak kalah indah dan bermaknanya dengan Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk,” komentar anak muda di sebelah saya. Kisah teladan lainnya, kerja-kerja kecil nan bermakna dan bermanfaat, saya jumpai di sebuah majalah.

Di Prajegan, Bondowoso, Jawa Timur, ada kerumunan ibu-ibu berjumlah 200 orang. Mereka tergabung dalam majlis taklim al-Maksumy. Umumnya mereka adalah tulang punggung ekonomi keluarga. Profesi mereka, antara lain, pedagang kecil dan buruh tani.

Awalnya pada th. 2004, banyak anggota majelis itu yang membutuhkan dana untuk modal usaha. Mereka lantas pinjam ke pihak tertentu dengan bunga besar. Belum lagi, pinjaman baru bisa turun jika ada agunan. Padahal mereka tidak punya apapun untuk dijaminkan. Kalau pinjam ke koperasi atau lembaga keuangan, mereka harus menjadi anggota terlebih dahulu dan dikenai biaya administrasi.

Keluhan demi keluhan akhirnya sampai ke telinga Ruqayyah. “Bermula dari niat kami membantu anggota Majelis Taklim al-Maksumy, walaupun tidak banyak,” ujar Ruqayyah, pemimpin majlis taklim.  

Dengan uang pribadi sebesar Rp 10 juta, Ruqayyah meminjami anggotanya sejak empat tahun lalu. Jumlah pinjaman tidak besar, mengingat modal yang terbatas dan skala usaha anggota majelisnya yang juga kecil. Awalnya, paling banyak Rp 500 ribu. Jika mengembalikan pinjaman tepat waktu, selambatnya selambatnya 10 bulan, dia boleh meminjam lagi Rp 1 juta. Pengembalian dibayar mencicil, pada pertemuan pengajian seminggu dua kali. Besar cicilan terserah peminjam. Ada yang Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, bahkan Rp 5 ribu. Bahkan peminjam yang kebanyakan pedagang bahan makanan pokok, ini tidak dikenai kelebihan sepeser pun.

“Pinjam Rp 1 juta, ya kembalinya Rp 1 juta. Niatnya memang betul-betul untuk meringankan mereka,” ujar Ruqayyah. Kepercayaan dan ikatan  emosional dengan jemaah pengajian, adalah jaminannya. Prosedurnya juga tidak formal. “Saya yakin mereka tidak akan lari,” katanya. Namun kendala tetap ada. Misalnya, ada yang lebih 10 bulan belum mengembalikan pinjaman. “Itu beberapa orang saja, karena memang tidak punya,” imbuh ibu seorang putra ini.
Sebelum uang pinjaman dikucurkan, dilakukan survei kecil agar tepat sasaran. “Mereka itu kan tidak punya sumber penghasilan lain,” kata Ruqayyah.

Kini Ruqayyah gembira melihat peningkatan usaha anggota majelisnya. Indikatornya, jumlah peminjam kian menurun. “Atau setidaknya usaha mereka masih bertahan. Karena kalau pinjam ke rentenir, usahanya pasti akan merosot,” ujarnya. Selain meminjami, Ruqayyah juga menganjurkan anggotanya menabung. Di setiap pertemuan, mereka menyimpan seadanya, mulai dari Rp 500 hingga Rp 10 ribu.

Kisah di atas diselipkan oleh The WAHID Institute di majalah Tempo, 28 Januari – 3 Februari 2008. Oleh para akademisi ilmus sosial dan politik, BMT Al-Amin yang dibidani oleh Ahmad Tohari dan Haji Iwan, dan Hajjah Ruqayyah melalui majlis taklimnya, merupakan bentuk dan kreatifitas “masyarakat sipil” untuk menghindar dari ketergantungan pada negara. Masyarakat sipil bangun sendiri dari ketidakberdayaan. Mereka berkumpul, berkelompok biar fokus, berembug, bersama-sama menggerakkan media sosial seperti majlis taklim, untuk memecahkan problem hidup sendiri. Kalau ada yang mau membantu diterima dengan tangan terbuka, meskipun datang dari negara. Kalau butuh bantuan, tidak sungkan-sungkan bercerita, meskipun pada negara.

Yang kecil-kecil, yang berada di sekitar kita, yang kita kenal dengan akrab, sudah musti digerakkan dengan segenap kemampuan. Kita tidak bisa berharap kepada negara, mereka sedang sibuk sekali. Ada korupsi yang musti dibasmi, para aparat penegak hukum yang bobrok, ada jembatan dan jalan rusak yang mesti dibangun lagi, banyak sekolah roboh yang musti juga dipikirkan, transportasi yang tidak layak, dan segudang kewajiban lainnya yang masih terbengkalai. Kasihan sekali mereka.

Kita, masyarakat sipil, sudah musti bergerak bersama, memecahkan problem kehidupan, meningkatkan taraf hidup, mewujudkan kesejahteraan ekonomi dan kemandirian berpolitik. Ahmad Tohari, Haji Iwan, dan Ibu Hajjah Ruqayyah sudah memulai, sudah melangkah pelan-pelan. Tetangganya dan masyarakat sekelilingnya, sudah mendapatkan berkah dari kerjaan kecil-kecil itu. Mungkin, mereka tidak paham betul apa itu konsep masyarakat sipil, masyarakat kewargaan, masyakarat madani. Mereka tidak mendiskusikan apa definisi istilah-istilah dengan gegap gempita. Menamainya sebagai gerakan masyarakat sipil pun tidak. Mereka menamainya dengan majlis taklim dan BMT. Tapi, mereka, tiga orang desa itu, telah memelopori gerakan masyakarat sipil, mewujudkan kesejahteraan sendiri secara baik dan kompak.

Kita, yang menamakan dan tahu apa itu masyarakat sipil, kapan memulai? Bila sudah memulai, ya alhamdulillah!


Penulis adalah rakyat kecil dari Losari Cirebon yang sekarang aktif dan tinggal di Jakarta