Buku Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif dengan judul “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan” sungguh-sungguh amat memukau sekaligus menggairahkan. Refleksi-refleksinya semakin meneguhkannya sebagai intelektual muslim garda paling depan. Buya, begitu beliau biasa dipanggil, adalah salah satu tokoh yang tak pernah berhenti berkontempelasi dan memikirkan kemajuan bagi berjuta-juta manusia bukan hanya Indonesia, tetapi juga bangsa-bangsa muslim lain. Secara factual sampai hari ini mereka masih dirundung nestapa dan kebingungan demi menjumpai dirinya telah berada dalam negara bangsa.

Refleksinya atas realitas keindonesiaan dan kemanusiaan yang diungkapkan dalam buku ini demikian mendalam, luas, dan anggun. Dengan gaya bahasanya yang lugas, tajam, kritikal tetapi juga indah dan enak, Buya tengah memperlihatkan kegelisahan yang panjang atas fenomena keterbelakangan, kemiskinan dan ketidakberdayaan bangsa-bangsa muslim selama berabad-abad. Biang utamanya adalah kemandegan nalar religius yang sudah demikian panjang. Selama berabad-abad nalar ini berhenti dan dipertahankan secara ketat dalam konstruksi masa lalu yang kelam di sana di Arabia. Dialektika intelektual tak berjalan. Kritik dan kritik atas kritik dianggap tabu dan melawan sakralitas teks. Individu-individu yang dianggap memiliki otoritas teks juga ikut disakralkan. Teks-teks, bukan hanya kitab suci dan sunnah Nabi, tetapi juga produk-produk pikiran manusia diposisikan sebagai sentral kekuasaan yang mengontrol tingkah laku individu, social dan kebudayaan. Sentralitas teks memang tak jadi masalah. Bahkan untuk teks-teks al Qur’an dan al Sunnah justeru adalah otoritas yang niscaya. Yang menjadi soal adalah ketika teks-teks tersebut dihilangkan sejarahnya, ketika maknanya yang maha kaya direduksi menjadi tunggal dan diabsolutkan, ketika pikiran-pikiran kontekstual diuniversalkan dan ketika zaman yang berubah diabaikan. Konstruksi ini direproduksi secara terus menerus dari generasi ke generasi dengan cara yang demikian intensif, massif dan sistemik. Teks-teks yang kehilangan sejarahnya itu dibaca berputar-putar bagai dalam sikuit kemelut. Tak pelak, jika kemudian mereka tak mampu lagi menghadapi perubahan maha dahsyat dari arus modernisme yang terus merangsek dan melumpuhkan sampai hari ini. Pandangan dan sikap yang muncul kemudian adalah emosional dan ambigu; menolak modernisme sekaligus menikmatinya.

Buya semakin gelisah ketika belakangan kekerasan dan pelanggaran atas hak-hak manusia muncul secara fenomenal justeru oleh sebagian umat Islam sendiri yang sok paling mengerti, paling jagoan dan paling suci, tetapi sejatinya adalah manusia-manusia yang paling tak paham, inferior dan paranoid. Memori kita masih kuat mancatat kata-kata Buya yang gagah dan mengesankan tentang mereka ini sebagai “Preman-preman Berjubah”. Mereka selalu memperlihatkan arogansinya sambil berlindung di bawah nama otoritas Maha Takterkalahkan : Tuhan. Ibnu al Banna al Sirqisthi menulis :

Wa Kaffaru wa Zandaqu wa Badda’u
Idza Da’ahum al Labib al Awra’u
Mereka mengkafirkan, menzindikkan dan membidahkan
Bila diajak cerdik-cendikia yang arif

Menghapus Dikhotomisasi dan Passing Over

 

Tetapi Buya tidak berhenti pada pandangan-pandangannya yang cerdas, kritikal dan menohok atas fenomena yang menyedihkan di atas. Sebagai warga negara bangsa dan muslim, Buya ingin menyumbang solusi atasnya. Meski dalam suasana prihatin, Buya tetap ingin menunjukkan optimismenya yang tinggi bahwa Indonesia dan bangsa-bangsa muslim lain bisa keluar dari sirkuit kemelut itu. Untuk kepentingan ini, dengan penguasaannya yang paripurna atas sejarah, Buya melacak dan menjelajah sejarah Nusantara dan sejarah peradaban bangsa-bangsa muslim dengan cara yang  amat memikat dan merangsang minat. “Tidak konvensional”, ujar Dr. Ahnar Gonggong. Menggunakan sejarah sebagai basis analisis atas masalah adalah cara paling strategis dan kokoh bagi rekonstruksi bangunan kebudayaan yang telah bangkrut. Sejarah adalah pilar pengetahuan dan tempat berpijak bagi solusi atas problem-problem kemanusiaan. kini dan mendatang. “Laqad Kana fi Qashashihim ‘Ibrah li Ulil Albab”(sungguh, kisah-kisah mereka menjadi pelajaran bagi para cerdik-cendekia), kata al Qur’an. Di luar itu Buya juga mereferens pada sumber-sumber otoritatif Islam, pikiran-pikiran cerdas para sarjana terkemuka, karifan-kearifan perenial yang mencerahkan, tak peduli dari mana saja datangnya. “Khudz al hikmah min ayyi wi’a-in kharajat” (ambillah pengetahuan par excellent dari sumber manapun).

Berbekal sumber-sumber informasi yang dibacanya dengan kritis dan selektif itu, Buya tampil dengan sebuah jalan keluar atas krisis-krisis di atas. Ini dipatrikannya pada judul bukunya ini: “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”. Buya seakan-akan ingin mengatakan : “Jika kita, bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa muslim di dunia, ingin keluar dari nestapa, menjadi cerdas, maju, berkeadilan, sejahtera, serta dapat menatap masa depan yang cerah, maka jangan dikhotomikan “Islam dan Pancasila”, “Islam dan Demokrasi”, “Islam dan Hak Asasi Manusia”, “Islam dan Pluralisme”, “Nasionalisme dan Internasionalisme”, “Tradisionalisme dan Modernisme”, dan seterusnya. Sepanjang eksistensi dan partikular-partikular kebudayaan, peradaban dan sistem kenegaraan menjunjung tinggi martabat manusia dan kemanusiaan, ditegakkan di atas hak-hak asasi manusia, demokrasi dan keadilan, maka itulah jalan Islam”. Basis teologis Buya sangat jelas : Tauhid. Dengan begitu Buya boleh jadi ingin berkata : “Atas nama Tuhan Yang Maha Esa, kita harus melakukan rekonstruksi kebudayaan dan peradaban berdasarkan prinsip-prinsip kemanusiaan itu”. Di atas dasar fundamental ini, kita harus membebaskan diri dari “berhala-berhala” struktural dan kultural. Kita harus menghapus “Situasi Nihilisme Historis” (Jahiliyah). “Kita harus berhenti mengatakan : “cukuplah untuk kami apa yang kami dapatkan dari bapak-bapak kami dahulu”. “Jangan perlakukan tradisi masa lalu sebagai beku dan statis, tetapi sebagai titik-masuk untuk melancarkan kritik dan melampauinya (passing over)”.

Akan tetapi bila eksistensi dan partikular-partikular tersebut masih timpan dan tidakadil, maka  “mari kita selesaikan dengan akal intelektual dan kearifan nurani, bukan dengan “dengkul” dan “otot”, atau kita berdiskusi secara sehat dan santun, bukan dengan menghasut dan membunuh karakter, atau kita berdebat secara lebih beradab dan lebih etis, bukan dengan menghunus pedang dan membakar”. Itulah, paling tidak, jargon-jargon yang bisa saya refleksikan dari tawaran solutif Buya. 

Suara Buya  sejalan dengan suara kaum parennial. Sayyed Hosen Nasr, misalnya, pernah bilang:“Esensi Islam adalah Keesaan Tuhan, universalitas kemanusiaan, kebenaran dan kemutlakan untuk tunduk hanya kepada kehendak Tuhan, pemenuhan segala tanggungjawab manusia dan penghormatan kepada seluruh makhluk hidup. Esensi Islam menggugah kita untuk bangun dari mimpi yang melalaikan, mengingat kembali siapa diri kita, mengapa kita ada di sini (dunia) dan untuk mengenal serta menghargai agama-agama yang lain”.

Ia sejalan dengan suara kaum spiritual yang mengatakan bahwa “tidak ada persaudaraan sejati kecuali persaudaraan yang di dalamnya menghimpun semua prinsip kemanusiaan universal. Tidak ada manusia paripurna kecuali manusia yang pikirannya melampaui sekat-sekat geografis, manusia yang menyatu dalam kemanusiaannya dalam seluruh zaman: lampau, kini dan nanti”.

Optimisme Buya : Para Ghuraba 

 

Meski galau, Buya tetap optimis menatap masa depan Islam. Buya menulis :”Saya optimis bahwa suara “Langit” dapat dan harus dibawa turun ke bumi, karena memang diperuntukkan untuk kepentingan bumi. Seluruh peradaban yang hendak dibangun harus mengacu pada doktrin Langit ini. Jika tidak, maka akan sia-sialah kita dengan mulut komat-kamit berbicara derajat ketinggian dan keunggulan Islam. Pesan keunggulan Islam ini wajib dibawa ke bumi kenyataan, tidak hanya dikhutbahkan di mimbar-mimbar masjid dan di pengajian-pengajian”.(h. 165).

Kata-kata Buya terasa menyentuh sekaligus menohok secara telak. Tetapi memang begitulah. Seluruh suara Langit diperuntuk bagi manusia, bukan untuk Tuhan, karena Dia tak butuh apa-apa dan siapa-siapa. Ketaatan hamba-hamba-Nya tak akan menambah keagungan-Nya, dan kedurhakaan mereka tak bisa mereduksi kekuasaan-Nya. Seluruh Titah-Nya diturunkan dalam rangka mewujudkan tatanan kehidupan yang merahmati semua ciptaan-Nya di bumi siapapun dia. 

Hari ini sejumlah generasi muda muslim yang brilian dan bersemangat telah lahir. Kepada merekalah Buya menaruh harap gagasan-gagasan profetik, suara Langit untuk manusia di bumi, akan dapat diwujudkan di kemudian hari. Seperti halnya Buya dan Gus Dur mereka adalah kaum “Ghuraba”, orang-orang asing, para pengembara. Sebagaimana umumnya “orang asing”, mereka acap dicurigai bahkan menjadi korban tuduhan-tuduhan manipulatif. Mereka sering teralienasi dari komunitasnya karena pikiran-pikiran mereka telah mengganggu kemapanan otoritas dan kenyamanan tradisi. Tetapi mereka akan tetap eksis sepanjang sejarah. Jalal al Din al Suyuthi bersaksi : “Tidak ada tokoh besar pada setiap zaman kecuali dicacimaki orang-orang bodoh. Orang-orang terhormat selalu diuji oleh orang-orang berhati rendah”. 

Para Ghuraba selalu hadir pada setiap situasi Nihilisme Sejarah untuk mendakwahkan ide Tauhid. Merekalah para pengembara dan kaum Hunafa, orang-orang yang berhati lurus yang selalu hadir untuk memberangus praktik-praktik kekuasan yang despotik, tiranik dan membodohi rakyat jelata dengan berlindung di bawah ketiak berhala-berhala yang disebutnya sebagai tuhan-tuhan. Pada saat yang sama mereka hadir untuk menancapkan kembali pilar-pilar kemanusiaan yang hilang atau diberangus. Gagasan utama mereka adalah tentang Kemahaesaan Tuhan kepada siapa semua yang ada di muka bumi harus menyerah dan menundukkan diri. Ide-ide itu tak pelak mengguncang dan merontokkan setiap otoritas politik, ekonomi dan kebudayaan yang diciptakan untuk kepentingan dan kenikmatan duniawi bagi dirinya sendiri.

Masih tentang mereka, GM menulis secara memukau : “Tiap masa selalu ada orang yang mengembara dan membuka kembali pintu ke gurun pasir tempat Musa –yang tak diperkenankan melihat wajah Tuhan- mencoba menebak kehendak-Nya terus menerus. Di sana tanda-tanda tetap merupakan tanda-tanda, bukan kebenaran itu sendiri. Di sana banyak hal belum selesai”.

Tetapi dengarlah apa kata Nabi kaum muslimin : “Bada-a al Islam Ghariban wa Saya’udu Ghariban kama Bada-a. Fa Thuba li al Ghuraba” (Islam hadir bagai orang asing. Ia akan kembali asing seperti awal. Maka berbahagialah wahai orang-orang asing).

Hari ini para Ghuraba telah hadir. Selamat Datang.
Hari ini para Hunafa telah hadir. Selamat Datang.
Dunia menyambut kalian dengan riang. Selamat Datang
Suara-suara gemuruh di langit mengucapkan; Selamat Datang

Lupa Feminisme

 

Sayang sekali Buya kelupaan bicara panjang soal feminisme. Meski telah menyebut nama Fatimah Mernisi, muslimah yang jagoan feminisme, namun Buya tak menyinggung pikiran-pikirannya yang cemerlang tentang feminisme itu. Konon tidaklah sempurna, jika diskursus feminisme tidak dilibatkan dalam perbincangan demokrasi, hak-hak asasi manusia dan pluralisme. Memang yang sering lupa soal ini bukan hanya Buya.

Lihat, betapa kaum perempuan di banyak tempat, bukan hanya masih teralienasi dari panggung sejarah kemanusiaan, tetapi malahan menjadi korban struktur peradaban yang patriarkhis. Diskriminasi, marginalisasi dan kekerasan masih terus menghantui dan memerangkap mereka dari segala penjuru dan dari banyak ideologi dan system social  patriarkhis. Dalam banyak hal tafsir-tafsir manusia atas agama, ikut serta mengokohkannya. Dengarkan nyanyian memilukan ini:

Inna al Nisa Syayathin Khuliqna Lana.
Na’udzu Billah min Syarr al Syayathin”
(Perempuan adalah setan-setan yang diciptakan untuk kami.
Dan kami mohon lindungan Tuhan dari setan-setan itu).

Para pembaca al Qur’an yang cerdas, pasti akan dapat melihat bahwa dibanding bicara soal partikular-partikular politik, ekonomi dan kebudayaan, kitab suci itu jauh lebih bersemangat bicara soal partikular-partikular perempuan. Berlembar-lembar Tuhan membicarakan dan mendampingi mereka untuk lepas dari tercengkeram dan sorot mata peradaban yang misoginis dan seksis berabad-abad. Al Qur’an seakan-akan hadir justeru hanya untuk membongkar praktik peradaban diskriminatif jenis ini. Cukuplah bagi kita untuk mendengarkan kesaksian Umar bin Khattab mengenai realitas ini dan respon Al Qur’an : “Kunna, fi al Jahiliyyah La Na’udd al Nisa Syay-a. Fa Lamma Dzakarahunna Allah, ‘Arafna Anna Lahunna Huquqan Min Ghair an Nudkhilaha”(Kami, pada zaman yang gelap, tidak menganggap apapun kaum perempuan. Tetapi ketika Tuhan menyebut mereka, kami (baru) tahu, bahwa mereka punya hak-hak otonom, tanpa kami boleh mengintervensi). Dan ketika menjelang pulang, Nabi yang mulia itu, dengan suara terputus-putus, berpesan :”Allah, Allah, fi al Nisa, Fa Innahunna Amanat ‘Indakum wa Istahlaltum Furujahunna bi Kalimah Allah”.

Demikianlah, meski ada yang kelupaan, buku ini memang luar biasa dan ditulis dengan hati yang cemburu oleh sarjana muslim yang cerdas, berintegritas, tetapi bersahaja. Seperti kata Prof. Azyumardi, buku ini memang merupakan karya Masterpiece sang cendekiawan terkemuka Indonesia dan guru bangsa. Karena itu ia, memang, wajib dibaca oleh setiap mereka yang merindukan kemajuan, kedamaian dan keadilan. Seharusnya buku ini sudah sejak dulu dihadirkan. Mabruk.

 


Disampaikan pada lauching buku “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan”, 04 Juni 2009, PP Muhammadiah, Menteng, Jakarta.