Menuju Penemuan Jati Diri

0
665

 

Segala puji dan harapan hanya untuk dan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan semua ciptaan-Nya. Kedamaian, keselamatan dan keberkatan semoga dianugerahkan kepada para utusan-Nya, khususnya Nabi Muhammad Saw., keluarga dan para sahabatnya.

Hadirin yang berbahagia,

Saya selalu saja ingin mengatakan bahwa para utusan Tuhan dihadirkan untuk melepaskan, mengeluarkan dan membebaskan manusia dari situasi dunia gelap menuju dunia bercahaya: “Li Tukhriju al-Nas min al-Zhulmat ila al-Nur”.  Ayat ini indah sekali. Ia menggunakan gaya bahasa metaforis. Gelap bukanlah ruang tanpa cahaya, bukan tanpa rembulan atau matahari. Keduanya terus beredar dan berpendar sepanjang masa sejak diciptakan. Tetapi ia bermakna ketidakmengertian  (kebodohan) dan ketidaktahuan (pengetahuan) bagai berada dalam ruang tanpa cahaya. Manusia dalam ruang gelap tak bisa melihat apa-apa, berjalan serba meraba-raba, dan tak mengerti apa-apa yang ada di sekitarnya. Boleh jadi mereka tersesat dan terperosok ke dalam jurang yang dalam, dan terpeleset dari puncak tebing yang tinggi. Dalam situasi dunia manusia seperti ini Tuhan selalu menurunkan Kasih-Nya. Dia menurunkan “cahaya”. Ia, dalam ayat ini, bukanlah matahari atau rembulan ketika purnama. Ia adalah Ilmu dan pengetahuan tentang kebenaran, kebaikan dan keindahan.

Sangatlah mencengangkan, ketika Tuhan, melalui Jibril, meminta Muhammad putra satu-satunya Abdullah dan Aminah, untuk membaca: “Iqra”, padahal Nabi tak bisa membaca dan menulis. Bahkan ketika perintah membaca itu disampaikan kepada Jibril, Malaikat ini tak membawa catatan apapun.  Tetapi membaca adalah memahami atau mengerti sesuatu dalam semesta. Pengetahuan adalah fondasi utama peradaban manusia.  Tuhan telah menciptakan segala-gala yang diperlukan bagi kehidupan manusia. Tetapi segala hal itu adalah benda-benda yang tidak bicara sendiri. Segalanya adalah simbol yang dalam dirinya mengandung makna-makna yang berguna bagi manusia. Maka ia harus dipahami dan dimengerti. Ketika manusia-manusia hadir, mengada, berelasi, dan mengarungi hidup bersama, maka satu atas yang lain haruslah saling mengenal, mengerti dan memahami. Mengenal tidak sekedar mengetahui nama, alamat dan asal-usul keturunannya atau tempat tinggal dan pekerjaannya, tetapi lebih dari itu adalah mengerti bahwa “aku adalah kau, dan kau adalah aku serta saling memberi makna”. Apa yang ada di dalam diriku juga ada dalam dirimu. Apa yang aku rasakah adalah yang engkau rasakan. Demikian sebaliknya. Bila engkau menderia aku juga menderita, bila engkau ceria, aku juga sumringah.

Orang yang tak mengenal dan tak paham yang lain, liyan, ia acap  dan mudah marah bahkan membencinya. Sebuah kata bijak menyebut : “al-Insan A’da-u ma Jahilu”, manusia membenci liyan, karena ia tidak mengerti dan tak paham tentang dia”. Maka para nabi dan para bijak-bestari, alih-alih membalasanya ketika mereka dilukai. Mereka justeru  mendoakan : “Tuhan, ampuni mereka, karena mereka tidak mengerti. Bukakan mereka jalan”. Betapa agung dan mulianya mereka.

Saya selalu terpukau pada ayat Tuhan ini : “Wahai Manusia, Aku ciptakan kalian, laki-laki dan perempuan, dan Aku jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Aku berharap kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling terhormat di antara kalian dalam pandangan-Ku adalah yang paling bertaqwa”. Mengenal dalam ayat ini diungkapkan dengan “arif”, bukan “alim” atau yang lainnya, meski keduanya bisa berarti sama “mengetahui” atau “mengenal”. Tetapi kata “arif” memiliki makna lebih dalam, menukik sampai ke dalam inti manusia: hatinya. Dalam bahasa kita sering dikatakan kebijaksanaan. Dengan begitu, manusia diminta Tuhan untuk menjadi orang-orang yang bijaksana. Dalam banyak referensi, bijaksana, memiliki makna yang luas. Ia bisa berwujud tindakan yang adil, jujur, bersahaja, tulus kepada siapapun makhluk Tuhan, mengasihi dan menyayangi orang yang menderita dan yang tak beruntung, dan tidak melakukan yang sebaliknya dari semua itu.

Saya juga selalu ingin mengatakan bahwa agama yang dibawa para utusan Tuhan adalah Islam. Kata ini memiliki makna genuine: kepasrahan kepada Tuhan, kedamaian dan keselamatan. Nabi Muhammad mengatakan : “ orang Islam adalah orang yang kehadirannya membuat orang lain aman dan nyaman”. Kedua kata ini tidak hanya mengandung makna fisikal, melainkan lebih dari itu adalah secara intelektual dan spiritual. Fisik, akal dan hati adalah anugerah maha besar yang diberikan Tuhan kepada manusia yang membuatnya ia diberi mandate Khalifah Allah fi al-Ardh, pembawa amanat Tuhan di muka bumi.

Manusia mengemban tugas besar kemanusiaan, mengelola ruang dan waktu secara bersama dan untuk kesejahteraan bersama. Semua orang dengan latarbelakang kehidupan apapun memiliki tiga alat ini. Oleh karena itu ia harus bisa tumbuh, berdaun, berkembang dan berbuah.

Sudah berapa kali saya menyampaikan kepada para sahabat, bahwa agama diturunkan melalui para utusan-Nya untuk kepentingan manusia bukan untuk Tuhan. Frase ini sering disalahpahami sejumlah orang. Tetapi para ulama telah lama menyatakan hal ini. Misalnya Izz al-Din Ibn Abd al-Salam, bergelar Sultan para Ulama, mengatakan :
التَّكَالِيْفُ كُلُّهَا رَاجِعَةٌ اِلَى مَصَالحِ  الْعِبَادِ فِى دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ. وَاللهُ غَنِيٌّ عَنْ عِبَادَةِ
الْكُلِّ لَا تَنْفَعُهَ طَاعَةُ الطَّائِعِيْنَ وَلَا تَضُرُّهُ مَعْصِيَةُ الْعَاصِيْنَ.
“ Semua tugas yang diberikan Tuhan adalah untuk kepentingan manusia di dunia dan di akhirat. Tuhan tidak membutuhkannya.  Ketaatan mereka tidak memberi-Nya manfaat apa-apa, dan kedurhakaan mereka tidak mengakibatkan kerugian bagi-Nya”.

Maka seyogyanya manusia menjalankan semua tugas dan amanat Tuhan itu dalam rangka kemanusiaan. Betapa indahnya jika manusia mencurahkan seluruh pekerjaannya sepanjang hidup untuk mewujudkan kebenaran, kebaikan dan keindahan itu.

Hadirin yang berbahagia,

Fahmina yang kita cintai telah berusia 12 tahun. Perjalanan sampai pada usia ini tentu tidaklah mudah dan tidak mulus. Untuk 13 tahun yang telah pergi, saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada teman-teman, para pengurus bersama keluarga masing-masing, para aktifis, sahabat-sahabat di organisasi jaringan, warga masyarakat dan siapa saja yang menaruh hati pada Fahmina, atas perhatian, ketekunan, kesungguhan, bantuan, pertolongan dan do’a yang baik baginya. Saya sungguh-sungguh bangga atas kerja keras semua pengurus dan para pelaksana harian lembaga dan yayasan ini. Semoga Tuhan selalu memberkati semua dan membalas semua kebaikan mereka.

Hadirin yang berbahagia,

Seperti disampaikan banyak orang bijak, perjuangan untuk membebaskan manusia dari penderitaan dan membagi kebahagiaan kepada sebanyak-banyak orang haruslah tidak boleh berhenti dan tidak boleh mengalami kondisi stagnan, diam di tempat, melainkan harus maju dan bergerak ke depan dan diselenggarakan menurut konteks yang berubah dan berganti. Perubahan dan pembaruan adalah sesuatu yang niscaya dalam kehidupan di alam semesta. Ketika situasi alam berubah, maka mau atau tidak mau, kita dituntut untuk berubah dan memperbarui diri agar menjadi lebih baik. Untuk itu kita harus membuka hati dan pikiran (Infitah) seluas-luasnya bagi segenap pikiran yang baik dan relevan dari siapapun, di tempat manapun dan dari zaman kapanpun. Sikap eksklusif (In-ghilaq) dan enggan mengapresiasi pikiran yang baik dan bermanfaat (Ashlah) dari orang lain, siapapun dia, hanya karena semata-mata mempertahankan tradisi atau warisan yang sebenarnya sudah tidak lagi relevan dan karena dia orang lain, akan melahirkan masyarakat yang tidak produktif, semakin tertinggal dan teralienasi dari keniscayaan dinamika sejarah. Pada sisi yang lain kita juga tidak boleh mengabaikan dan meninggalkan tradisi dan warisan kita hanya karena ia produk lama. Sebaliknya kita perlu menggali dan mengenali tradisi dan warisan kita untuk menemukan kearifan-kearifan yang tersembunyi di sana dalam rangka kerja-kerja kemanusiaan kita hari ini dan mendatang.

Maka adalah amatlah bijak, jika kita bisa membiasakan diri untuk mendengarkan orang lain dan mengajaknya bicara dengan sikap persaudaraan yang hangat untuk sebuah kemajuan dan kesejahteraan bersama. Lebih dari segalanya adalah kita harus bisa memperlihatkan sikap keteladan kita. Ahmad Amin, penulis sejarah peradaban Islam terkemuka, mengatakan : “Keteladanan memiliki pengaruh besar bagi kehidupan manusia. Setiap perbaikan yang terjadi pada individu atau masyarakat lebih banyak didasari oleh model teladan”.

Hadirin yang terhormat,

Untuk mendapatkan harapan-harapan kita di atas, tentu banyak hal yang harus kita tempuh dan kita kerjakan.  Kita memerlukan kerja-kerja lapangan dan melakukan riset-riset yang serius dan terus menerus sedemikian rupa sehingga kita dapat menemukan apa yang sesungguhnya terjadi dan dirasakan oleh manusia dalam kehidupan kita kini dan di sini. Pusat pendidikan dan pengetahuan yang telah kita dirikan hendaknya menjadi laboratorium dan tempat kita mengaji, mengkaji, meneliti dan menemukan semua itu. Jika kita kemudian menemukan realitas-realitas atau fakta-fakta baru, maka ia akan menjadi dasar kita untuk merumuskan teori-teori dan langkah-langkah yang diperlukan bagi pencapai harapan-harapan dan visi kita .
Terhadap beberapa hal yang kita perlukan di atas, saya ingin mengutip pandangan Naguib Mahfouz, pemenang Nobel Sastra dari Mesir. Ia mengatakan :
وَاْلعِلْمُ الْحَقِيْقِىُّ يُفْرِضُ أَخْلَاقِيَّاتٍ فِى عَصْرِ تَدَهْوُرِ اْلاَخْلاَقِ . فَهُوَ مِثاَلٌ فِى حُبِّ الْحَقِيْقَةِ وَالنَّزَاهَةِ  فِى الْحُكْمِ , وَالرَّهْبَانِيَّةِ فِى اْلعَمَلِ وَالتَّعَاوُنِ فِى اْلبَحْثِ وَالْاِسْتِعْدَادِ التِّلْقَائِى لِلنَّظْرَة اَلْاِ نْسَانِيّةِ الشَّامِلَةِ. (نجيب محفوظ , ثرثرة فوق النيل ص 109).
“Pengetahuan yang benar memberikan system social yang beretika di zaman ketika moral mulai hancur. Ia bisa direpresentasikan melalui cinta pada kejujuran, kebijakan public yang ramah, ketulusan dalam bekerja, kerjasama dalam riset dan kesiapan untuk menerima pandangan kemanusiaan universal”. (Naguib Mahfouz, Tsartsarah fi al-Nil).

Hadirin yang berbahagia,

Saya sangat berharap pertemuan kita dalam dua hari ini, akan menemukan gagasan-gagasan inovatif, kreatif dan menyegarkan untuk masa depan kita yang masih panjang, berliku-liku dan sarat tantangan. Saya sangat percaya orang-orang yang hadir di sini adalah mereka yang telah memiliki pengalaman yang panjang dan mendalam dalam berbagai proses dan pergulatan intelektual, social dan budaya. Mudah-mudahan kebersamaan kita yang hangat hari ini akan menghasilkan kerangka bangunan institusi perjuangan kemanusiaan kita yang kokoh dan bermanfaat, sekaligus menjadinya sebagai jati dirinya lembaga yang kita cintai ini.   

Melalui forum yang berharga ini saya ingin mengakhiri khutbah ini dengan menyampaikan pesan yang saya terima dari guru ngaji saya ketika saya masih senang bermain-main di latar pesantren :
لَقَدْ غَرَسُوا حَتَّى أَكَلْنَا وَإِنَّنَا    لَنَغَرِسُ حَتَّى يَأْكُلَ النَّاُس بَعْدَنَا

“Kemarin Ibu-bapak kita telah menanam, hingga kita bisa menikmati buahnya. Kini kita harus menanam, agar anak-anak kita menikmati buah tanaman kita”.

Keberhasilan kita, sangat tergantung pada kesungguhan kerja dan rasa optimism kita. Ketika langkah kakimu mengarah ke jalan buntu, janganlah cemas dan berhenti. Carilah jalan lain. Perjalanan menuju puncak harapan selalu terbentang dan mimpi-mimpi terbuka untuk mewujud. Teruslah berjalan menuju harapan-harapanmu. Setiap diri dibimbing menuju untuk apa ia diciptakan.

Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas segala kekeliruannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Cirebon, 22 Januari 2013
Husein Muhammad
(Disampaikan pada Rapat Tahunan Yayasan Fahmina, 25-25 Januari 2013, Kampus Swasembada, Cirebon).