Migrasi Perempuan Dorong Perubahan Nilai

0
627

tki-migrasiYOGYAKARTA, KOMPAS.com–Migrasi perempuan ke luar negeri sebagai tenaga kerja membawa berbagai perubahan pada tataran nilai-nilai budaya yang ada di dalam kalangan masyarakat, kata seorang antropolog.

“Migrasi perempuan ke luar negeri sebagai tenaga kerja telah membawa berbagai perubahan baik pada diri perempuan migran tersebut, maupun pada pasangan, dan masyarakat umumnya,” kata antropolog dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Setiadi di Yogyakarta, Rabu.

Ia mengatakan bagi perempuan migran, migrasi ke luar negeri untuk bekerja dipandang sebagai salah satu sarana mobilitas sosial yang efektif.

“Melalui migrasi, mereka membangun impian dan ingin dipandang sebagai orang sukses. Oleh karena itu, segala upaya akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut meskipun harus meninggalkan nilai-nilai keluarga dan masyarakat,” katanya.

Menurut dia kondisi tersebut telah meningkatkan rasa percaya diri perempuan dan posisi tawar menawar mereka dalam keluarga dan rumah tangga.

“Secara individual, perempuan migran merasakan lebih memiliki otonomi dalam kehidupan dibandingkan dengan sebelum mereka pergi untuk bekerja ke luar negeri,” katanya.

Bahkan, menurut dia, beberapa keluarga migran mengalami perubahan-perubahan nilai yang cukup fundamental, misalnya penempatan posisi sosial suami tidak lagi sebagai sosok penting dalam keluarga.

“Hasil penelitian yang saya lakukan terhadap kehidupan pribadi, rumah tangga, dan masyarakat pada perempuan migran yang kembali ke daerah menunjukkan adanya keterkaitan erat antara akumulasi material dengan kondisi sosio-psikologis perempuan migran dalam rumah tangga mereka,” katanya.

Setiadi mengatakan dinamika otonomi perempuan migran dalam berbagai tingkatan sosial dapat terjadi seiring dengan pergeseran-pergeseran pemaknaan sebagian besar masyarakat terkait dengan kedudukan materi dalam proses relasi sosial.

“Pergeseran yang dimaksud adalah kuatnya orientasi nilai material pada masyarakat sehingga menjadi nilai budaya yang cukup kuat, yang mendasari pola tindakan anggota-anggota keluarga migran,” katanya.[] Sumber: Kompas.Com