Kamis, 12 September 2019

Muharam, Penetapan Kalender Hijriyah

Baca Juga

Oleh: Abdul Rosyidi

Hari itu Abu Musa al-Asy’ari mengusulkan kepada Umar bin Khattab untuk membuat kalender yang akan digunakan umat Islam. Amirul Mukminin kemudian mengajak para sahabat berdiskusi menentukan kalender tersebut.

Setelah berdiskusi, Umar menetapkan tahun pertama penanggalan berdasarkan pada peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekah ke Madinah. Meski ada yang mengusulkan ditetapkan saat tahun kelahiran Nabi saja. Ada pula yang mengatakan sebaiknya ditetapkan pada tahun Muhammad diangkat jadi Nabi.

Ada banyak lagi peristiwa besar seperti kemenangan gilang gemilang pada saat Perang Badar. Juga perjalanan agung Nabi, Isra Mi’raj.

Tapi sepertinya peristiwa Hijrah amat bermakna di dalam dada Umar. Baginya, hijrah adalah titik yang paling menentukan bagi perjalanan ajaran-ajaran Tuhan yang dibawakan Muhammad.

Ada banyak rasa sakit, tetesan darah, kucuran keringat, derasnya air mata dan kesakitan umat Islam. Tapi semuanya menjadi berbeda saat mereka berbondong-bondong hijrah ke Madinah.

Fiks, sistem kalender yang ditetapkan Umar kemudian disebut Hijriyah.

Umar juga menetapkan awal bulan pada setiap tahunnya adalah Muharam. Bukan di bulan lainnya. Orang Arab Kuno mengawali tahun dengan nama bulan al-Mu’tamir yang sejajar dengan Safar.

Tapi Umar mempunyai pendapat berbeda. Dalam pertimbangan Umar, pada bulan Muharam semua umat Islam sudah berada di daerah masing-masing setelah melaksanakan ibadah haji.

***

Sistem penanggalan Hijriyah berbeda dengan sistem Masehi yang bersandar pada perjalanan matahari. Kedua sistem penanggalan ini ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Kita umat Islam di Indonesia menggunakan keduanya. Bahkan di Jawa ada juga yang masih menggunakan penanggalan Jawa dengan hitungan bulan mengikuti Hijriyah ditambah dengan istilah hari pasaran seperti Pon, Pahing, Wage, Kliwon, Legi.

Ketiga sistem kalender ini dipakai dan sama-sama diyakini memberikan efek bagi kehidupan kita. Masehi berguna untuk perubahan musim juga amat menentukan dalam perhitungan waktu shalat.

Sistem penanggalan ini menjadi sangat penting karena digunakan secara resmi oleh negara.

Tapi untuk ritual keagamaan, yang banyak digunakan justru kalender Hijriyah. Seperti pelaksanaan puasa Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha dan peringatan hari-hari besar Islam dan lainnya.

Sedangkan kalender Jawa yang pertama kali ditetapkan Sultan Agung banyak dikaitkan dengan primbon, tentang hari baik dan buruk, dan untuk membaca peruntungan.

Saya tidak banyak mengerti kalender Jawa, tapi yang pasti pada hari-hari tertentu –seperti Jumat Kliwon– orang percaya bahwa kekuatan mistiknya lebih kuat dibanding hari lainnya. Mungkin ada yang bisa menjelaskan?

Apapun itu, tidak ada kalender yang lebih islami/tidak islami satu dibanding lainnya. Semuanya sama saja. Digunakan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan manusia.[]

Abdul Rosyidi
Purnama Kaliwadas, 1 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Dakwah Budaya; Belajar Kepada Para Wali

Oleh: Abdul RosyidiPada saat Syarif Hidayatullah mendarat di Cirebon, pertama kali dia menemui Uwaknya, Pangeran Walangsungsang. Oleh Walangsungsang, Sunan Gunung Jati disarankan untuk tidak...

Enam Alasan Mengapa Presiden Harus Tolak UU KPK Jika Tidak Ingin KPK Mati

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASudahkah Anda baca usulan revisi DPR terhadap UU KPK? Sudahkah Anda menemukan jawaban mengapa semua fraksi DPR tergesa-gesa menyetujui revisi...

Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak DPR RI Segera Sahkan RUU P-KS Sebelum Masa Jabatan Berakhir

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah masuk dalam Prolegnas sejak 26 Januari 2016. DPR RI juga telah membentuk Panja untuk pembasan RUU...

Manusia Sebagai Makhluk Seksual

Oleh: Dr. Hc. KH. husein MuhammadManusia di samping makhluk berpikir ia juga adalah makhluk biologis-seksual seperti juga binatang. Tuhan memberinya naluri-naluri dan hasrat-hasrat seksual...

Populer

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Dakwah Budaya; Belajar Kepada Para Wali

Oleh: Abdul RosyidiPada saat Syarif Hidayatullah mendarat di Cirebon, pertama kali dia menemui Uwaknya, Pangeran Walangsungsang. Oleh Walangsungsang, Sunan...

Enam Alasan Mengapa Presiden Harus Tolak UU KPK Jika Tidak Ingin KPK Mati

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASudahkah Anda baca usulan revisi DPR terhadap UU KPK? Sudahkah Anda menemukan jawaban mengapa semua...

Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak DPR RI Segera Sahkan RUU P-KS Sebelum Masa Jabatan Berakhir

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah masuk dalam Prolegnas sejak 26 Januari 2016. DPR RI juga telah...

Manusia Sebagai Makhluk Seksual

Oleh: Dr. Hc. KH. husein MuhammadManusia di samping makhluk berpikir ia juga adalah makhluk biologis-seksual seperti juga binatang. Tuhan...

Perjumpaan dan Etika

Oleh: Abdul RosyidiIni masih tentang ‘Ruang Perjumpaan’. Emmanuel Levinas, filsuf kontemporer Perancis percaya bahwa etika bukanlah sesuatu yang abstrak,...

Teori Interdependensi dan Mubadalah

Oleh: Abdul Rosyidi Satu yang paling menarik dan berbeda dari paparan KH Faqihuddin Abdul Kodir saat Bengkel Mubadalah di Malaysia...

Artikel Lainnya