kawinmasalSetelah disebut-sebut sebagai salah satu desa dengan pelaku nikah siri terbanyak, akhirnya Desa Sinarancang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon mampu mewujudkan harapan masyarakatnya. Yaitu dengan menikahkan pasangan yang telah menikah secara agama, namun belum memiliki buku nikah atau belum tercatat di catatan sipil. Acara nikah gratis itu dilaksanakan bertepatan dengan acara pesta tani atau biasa disebut “Mapag Sri”.

Pesta tani “Mapag Sri” merupakan kegiatan rutin dilaksanakan tiap tahun di saat musim rendeng (hujan), hal itu dilakukan lantaran meneruskan peninggalan adat nenek moyang. Inti dari kegiatan pesta panen adalah syukuran bagi warga petani. Upacara adat “Mapag Sri” atau sedekah bumi yang secara turun temurun dilakukan oleh warga petani, merupakan ajang temu silaturahmi. Maka di tempat inilah mereka saling berbagi rasa, sebagai ungkapan rasa syukur melakukan doa bersama meminta berkah dari Tuhan.

“Nikah gratis hanyalah salah satu rangkaian acara dalam “Mapag Sri” kali ini, karena kebetulan sekali kami mendapat bantuan dari bapak Bupati Kabupaten Cirebon. Apalagi selama ini kami memang berencana menggelar nikah gratis. Hanya saja terbentur masalah biaya, jadi baru kali ini bisa diwujudkan,” papar Caca Efendi, Kepala Desa Sinarancang, ketika ditemui Fahmina di sela acara “Mapag Sri” pada Minggu (6/6).

Caca mengaku prihatin dengan kondisi warganya yang masih belum memiliki buku nikah. Apalagi ratusan warga tersebut sudah memiliki anak yang juga harus meneruskan pendidikannya. Sehingga nikah gratis akan sangat membantu memudahkan warga untuk mendapatkan buku nikah. “Namun untuk sementara masih simbolis dulu, karena dari KUA Kecamatan Mundu tidak secara langsung menyerahkan buku nikahnya. Pada akhirnya warga yang akan mengurusnya sendiri,” ujarnya.

Caca menambahkan, yang terdata untuk mendapatkan buku nikah secara gratis hanya 40 KK, selebihnya sekitar 225 KK belum tercatat. Hal tersbut dikarenakan dana yang ada hanya cukup untuk 40 KK. Selain nikah gratis, dalam “Mapag Sri” kali ini juga digelar sunatan masal untuk masyarakat kurang mampu. Sementara pada acara puncaknya, warga seperti biasa disuguhkan hiburan wayang kulit. (a5)