Sega JamblangMAKANAN atau kuliner, ternyata bisa menjadi sumber sekaligus bukti sejarah masyarakat di tempat tertentu. Bila ingin menelusuri sejarah, sebenarnya bisa juga dengan melihat dari jenis-jenis makanan khas di daerah tersebut.

Kue Plered di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, bisa menjadi bukti dari apa yang terjadi pada masa lalu di daerah tersebut. Keberadaan industri makanan rumahan yang kini telah berkembang pesat, ternyata tak lepas dari sejarah pendudukan Jepang.

Konon, setelah ribuan bala tentara Dai Nippon mendarat di Pantai Eretan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu 1942, pemerintah militer Jepang tak hanya membangun benteng pertahanan. Jejaring ekonomi dan perdagangan juga disusun. Salah satu yang terbesar di wilayah pantai utara (pantura) ialah di Plered.

Berdatanganlah para petinggi dan warga Jepang ke Plered, yang sebelumnya memang sudah merupakan pusat perdagangan dan jasa. Letak dan posisinya yang strategis, membuat gelombang warga Jepang bermukim di Plered bertambah besar.

Banyaknya pemukim Jepang itu, kemudian mendorong warga pribumi dan Cina membuka usaha jajanan kecil-kecilan. Berbagai jenis makanan yang diproduksi itu, semula ditujukan untuk memenuhi selera orang Jepang.

“Oleh karena itu, jangan heran bila ciri khas makanan olahan dari Plered bentuknya kecil-kecil, manis, dan warna-warni. Itu semua, memang ditujukan untuk memenuhi selera orang Jepang,” kata H. Hendra Sastra (59), Ketua Asosiasi Pengusaha Industri Kecil dan Kerajinan (APIKK) yang juga asli Plered.

Sebut saja otokowok, salah satu makanan atau jajanan khas Plered. Kue manis kering ini sengaja dibuat dalam ukuran kecil, berbentuk bulat, dan warnanya bermacam-macam ada putih, merah, kuning, dan lain-lain.

Ada lagi permen bola. Permen ini seukuran kelereng, warnanya juga beragam dengan rasa manis yang khas. Kue kering rasa gurih dibuat berbentuk stick alias tongkat yang khas Jepang, termasuk kacang atom atau sukro, serta berbagai jenis lain. “Orang Jepang menyukai makanan berukuran kecil dan penuh warna,” kata Hendra.

Selain Jepang, Cina juga memengaruhi produk-produk jajanan Plered. Saat itu, orang-orang Cinalah yang pertama kali bisa memahami selera orang Jepang. “Misalnya untuk kue basah, lemper awalnya dibuat orang-orang Cina. Ciri utamanya berukuran kecil,” katanya.

**

 

KEBIASAAN memberi sajian makanan dalam ukuran kecil tersebut, lama-lama berpengaruh terhadap kemunculan makanan khas warga Plered. Misalnya nasi jamblang, awal mulanya juga terinspirasi tata cara orang Jepang makan.

“Nasi jamblang itu dibungkus dalam daun jati, ukurannya kecil, hanya sekepel (segenggaman tangan orang dewasa-red.). Itu terinsipirasi orang Jepang, hanya kemasannya ala pribumi,” ujar Hendra.

Seiring dengan perjalanan waktu, dari semula hanya melayani orang Jepang, lama-kelamaan kaum pribumi juga menyukai produk-produk jajanan tadi. Karena permintaan bertambah besar, sejak itu jumlah orang yang memproduksi makanan kian bertambah.

Selain makin beragam, volume produksi pun bertambah besar. Sejak itu, muncullah industri rumahan. Sampai sekarang, jumlahnya sudah mencapai ribuan.

Ketika Jepang menyerah kepada sekutu pada 1945 dan orang-orang Jepang pulang ke negaranya, industri makanan rumahan di Plered tetap bertahan. Sampai sekarang, berdasarkan perkiraan kasar jumlahnya mencapai tiga ribu rumah tangga. Jajanan yang diproduksi baik kue kering maupun basah, makin beragam, disesuaikan dengan kemunculan selera baru dan adanya inovasi jenis-jenis makanan. (Agung Nugroho/”PR”)***

 


Sumber : Harian Pikiran Rakyat