KRISIS global boleh melanda, perusahaan besar boleh berguguran, dan pasar modern boleh bertumbangan, tapi tidak dengan pasar kue di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon. Pasar tradisional itu bergeming, sama sekali tidak terimbas gelombang dahsyat krisis global.

Bila hendak menuju Kota Cirebon dari Bandung atau Jakarta, melalui pertigaan Palimanan, Anda akan menyaksikan Jln. Raya Plered yang tetap ramai. Kegiatan bongkar muat segala bentuk jajanan, di kiri dan kanan ruas jalan sepanjang lima ratus meter, berlangsung sepanjang hari.

Mobil boks atau truk terbuka memenuhi bahu jalan. Puluhan buruh bongkar muat, sepanjang pagi hingga petang, lalu lalang membawa tumpukan berbagai jenis jajanan.

Kesibukan Pasar Kue Plered yang sering membuat lambat laju arus lalu lintas di Jln. Raya Plered-Palimanan-Bandung, menunjukkan pasar itu tak terpengaruh terpaan krisis global. Sirkulasi uang di pasar itu, seperti dituturkan H. Hendra Sastra (59), Ketua Asosiasi Pengusaha Industri Kecil dan Kerajinan (APIKK), setiap harinya mencapai puluhan miliar rupiah.

“Sejak tahun 1995, Pasar Kue Plered makin ramai. Krisis moneter sebelum reformasi maupun krisis global sekarang tak sedikit pun berpengaruh. Pasar ini tahan, mungkin, karena hanya mengandalkan pasar lokal, bukan ekspor,” ungkapnya.

Pasar Kue Plered memang menjadi magnet yang memiliki daya sedot tinggi. Tak hanya bagi wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan), bahkan telah melebar sampai ke seluruh Pulau Jawa. Untuk jenis kue atau jajanan ringan, pasar yang digerakkan oleh lebih dari seribu pedagang kecil dan menengah itu merupakan yang terbesar.

Berbagai jenis kue kering, kue basah, permen, kerupuk, makanan anak-anak , serta ribuan jenis jajanan ringan lain bertumpuk di pasar tersebut. Boleh jadi, pasar ini merupakan titik sentral dalam lalu lintas berbagai jenis makanan ringan sebelum dipasarkan ke daerah lain.

“Tak hanya kota di Jawa seperti Bandung, Jakarta, Semarang, dan Surabaya, pedagang dari Bali, Madura, Sumatra juga ke Plered membeli makanan ringan untuk dipasarkan ke daerah masing-masing,” tutur Sukana (51), pemungut retribusi di pasar itu.

MESKI terlihat berkembang pesat, Pasar Kue Plered tetap dihadapkan pada sejumlah persoalan. Salah satunya adalah gempuran dari industri makanan skala nasional. Hal itulah yang kemudian membuat ribuan industri makanan rumahan goyah. Hal itu bisa terlihat dari kenyataan yang berlaku di sejumlah desa sentra makanan, seperti Setu Wetan, Setu Kulon, Megu, Weru Lor, Weru Kidul, dan sekitarnya.

Fenomena tersebut mulai terasa sejak memasuki tahun 2000, di mana pabrik-pabrik makanan besar juga meniru apa yang dilakukan para pelaku bisnis rumahan di sana.

Pabrik-pabrik makanan berskala besar, kini, sama-sama mengeluarkan produk dalam kemasan kecil (sachet). Akhirnya, terjadilah perebutan pangsa pasar, kemasan sachet yang dulu dirintis industri rumahan setempat harus bersaing dengan produk pabrik.

Contohnya mi instan yang dikemas dalam bungkusan kecil, kini, pabrik besar juga mengeluarkan produk dan kemasan sama. Demikian juga halnya dengan kue kering, biskuit bermerk dijual dalam kemasan berisi tiga butir kue. Semua itu, dulu, merupakan trade-mark industri makanan rumahan di Plered.

“Sekarang, pabrik-pabrik makanan modern meniru. Terjadilah persaingan yang tak seimbang. Tentu saja, yang terjadi kemudian adalah pelaku industri makanan Plered yang terdesak,” tutur Hendra.
Secara umum, Pasar Kue Plered terus berkembang. Hanya, bedanya, jenis makanan produk pabrik besar lebih dominan dibandingkan dengan jajanan khas yang diproduksi masyarakat Plered secara tradisional dan turun-temurun.

Pasar Kue Plered semula diadakan sebagai tempat memasarkan berbagai produk olahan makanan ringan oleh warga setempat. Dalam perkembangannya, karena pasar itu bertambah besar, produk makanan ringan dari berbagai pabrik besar berdatangan. Oleh karena itu, fungsi awal pasar sebagai tempat memasarkan produk olahan industri makanan rumahan warga setempat berubah menjadi pusat pertemuan produk makanan dari berbagai daerah. Kondisi terakhir ini sangat menguntungkan para pedagang dan grosir. Sebaliknya, itu justru menjadi bak lonceng kematian bagi industri rumahan.
“Bagaimanapun, produk pabrik lebih menarik dalam kemasan. Volume produksi juga lebih massal karena modalnya besar. Industri makanan tradisional terdesak. Meski untuk rasa, industri makanan produksi warga Plered sangat khas, sampai sekarang belum tersaingi,” tuturnya. (Agung Nugroho/”PR”)***

 


Pendapat Mereka:

Perlu “Suntikan”

Carda Sugiarto (53), Ketua Gabungan Perusahaan Industri Kecil Kue

Meski berkembang, ribuan industri rumahan makanan kecil di Plered masih memiliki sejumlah persoalan. Pertama, perizinan. Kami usul ke pemerintah untuk memberi keringanan, baik biaya maupun waktu. Pengurusan izin bisa lebih singkat. Hal lainnya, permodalan. Suntikan modal masih dibutuhkan, terutama untuk industri kecil yang baru tumbuh. Dengan begitu, terbuka peluang untuk berkembang lebih besar. Selain itu, soal pemasaran. Sejauh ini, meski pemasaran sudah sampai ke luar Jawa, masih tetap terbatas. Perlu ada bantuan membuka pasar yang lebih besar. *

Persaingan tidak Sehat

Iing (27), Pedagang Grosiran

Dalam dua tahun terakhir, ada perkembangan baru dalam perdagangan makanan ringan. Persaingan makin ketat karena produk makanan makin beranekaragam dan datang dari berbagai daerah. Industri makanan tradisional mulai terdesak. Omzet penjualan mulai menurun. Yang merepotkan, persaingan cenderung kurang sehat. Cara pintas diambil ialah dengan main banting harga. Ini jelas menguntungkan pemodal besar, pedagang dengan modal kecil menjadi korban. Perlu ada aturan main soal ini. (Agung Nugroho/”PR”)***

 


Sumber: Harian Pikiran Rakyat