Tumpukan gulungan-gulungan tali terbuat dari kepang batang kering eceng gondok berserakan di halaman rumah Kadmin (70) yang sempit di Desa Pegagan Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Gulungan itu menunggu diangkut ke daerah Tegalwangi, Kecamatan Weru, salah satu sentra industri rotan di Kabupaten Cirebon.

Kadmin adalah satu dari 13 pengepul tali eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang ada di Kecamatan Kapetakan. Usahanya membuat tali yang biasa disebut eceng kepang oleh warga sekitar dimulai sekitar 13 tahun lalu, yaitu 1995. Saat itu ada pengusaha dari Jawa Tengah yang mencari bahan baku eceng gondok untuk dijadikan tali.

Kerajinan tali dari eceng gondok semakin banyak dikerjakan warga Kapetakan, dan yang menjadi motor penggeraknya adalah ibu-ibu rumah tangga. Mereka membuatnya sambil mengasuh anak di rumah. Setidaknya, kata Kadmin, setiap pengepul mendapat pasokan dari 40-50 perajin eceng kepang. Jika ada 13 pengepul, sekurang-kurangnya ada 500 orang yang bekerja di industri rumahan ini.

Itu belum termasuk orang yang mencari dan menjemur bahan baku eceng gondok, seperti Kasan (35), warga Desa Dukuh, Kecamatan Kapetakan, Cirebon, serta pengepul bahan baku eceng gondok yang kering. Apabila eceng gondok di Kapetakan habis, pada musim kemarau, Kasan pun mencari bahan baku di luar Cirebon, seperti Jakarta dan Banten. “Setelah dijemur 5-7 hari, bahan baru dijual kepada perajin atau pengepul seharga Rp 2.000 per kg,” ujar Kasan.

Upah yang didapatkan perajin setelah berhasil menjalin dengan rapi batang-batang eceng gondok kering Rp 2.000 per kg untuk jenis kepang gilig (bulat) dan Rp 3.000 per kg untuk kepang gepeng. Jika dibentangkan, 1 kg tali eceng gondok mencapai 5 meter. Menurut Westi (35), perajin eceng kepang, setiap perajin bisa membuat 10 kg atau sekitar 50 meter tali eceng gondok dalam sehari. Itu berarti penghasilannya Rp 20.000 per hari.

“Kalau tidak sedang panen, pasti di rumah-rumah banyak yang membuat eceng kepang. Berhubung sekarang sawah panen, yang bikin sedikit. Dalam seminggu saya bisa kirim 8-10 kuintal. Sekarang mungkin hanya 5 kuintal,” kata Westi, yang juga putri Kadmin, yang menjual tali eceng kepang seharga Rp 10.000-Rp 12.000 per kg ke pabrik mebel rotan. Belum dikelola Besarnya potensi industri kerajinan rakyat di Kapatekan, kata Kadmin, belum dikelola Pemerintah Kabupaten Cirebon dengan baik. Bahkan, sampai sekarang belum pernah ada petugas dinas yang menyurvei atau menanyakan kebutuhan perajin eceng kepang. Alih-alih memberi modal, kemudahan pembuatan izin usaha perdagangan pun tidak pernah ada.
Perajin berharap, Pemkab memfasilitasinya dengan menyediakan gudang penyimpanan atau membuat pabrik yang berbahan baku tali eceng gondok. Kebutuhan moda angkut untuk mengirim tali dari pengepul ke pabrik diharapkan juga bisa disediakan. Selanjutnya adalah bantuan promosi produk mengingat kualitas tali eceng gondok dari Kapetakan paling bagus di pasaran karena lebih rapi dan kuat.

 

Sumber: Kompas.com