Sabtu, 12 Oktober 2019

Mengelola Limbah Menjadi Nilai Tambah

Baca Juga

Dasma Adi WijayaDasma Adi Wijaya

Mengelola Limbah Menjadi Nilai Tambah
Oleh Alimah

“….Alam ini tidak pernah berbohong. Yang tidak butuh adalah manusia. Tetapi ketika alam membutuhkan, manusia akan didesak oleh alam. Karena pada dasarnya manusia akan melakukan sesuatu ketika dia dalam kondisi terdesak. Manusia juga akan melakukan sesuatu, ketika dia membutuhkan sesuatu yang menguntungkan dirinya. Ketika dia kepepet, tapi tidak melakukan apapun, maka dia akan rugi….”

Kalimat tersebut muncul di tengah penuturan Dasma Adi Wijaya (54), ketika berkisah perihal jatuh bangunnya mengelola sampah menjadi kompos. Baginya, jatuh bangun bukan semata memutar otak bagaimana cara mengambil dan memanfaatkan sesuatu yang terbuang. Melainkan, jatuh bangun meyakinkan masyarakat akan pentingnya memelihara potensi alam. Sesuatu itu adalah sampah, kotoran, atau sisa peradaban yang dinilai tak menarik dari sisi manapun. Namun sosok yang akrab disapa Dasma ini memiliki cara pandang yang cukup bijak dari orang kebanyakan.

Warga Desa Tambi Lor, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu ini sudah belasan tahun menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memanfaatkan sampah menjadi kompos. Kompos adalah pupuk yang dibuat dari sampah organik. Kompos berguna untuk memperbaiki struktur tanah, zat makanan yang diperlukan tumbuhan akan tersedia. Mikroba yang ada dalam kompos akan membantu penyerapan zat makanan yang dibutuhkan tanaman. Tanah akan menjadi lebih gembur. Tanaman yang dipupuk dengan kompos akan tumbuh lebih baik. Hasilnya bunga-bunga berkembang, halaman menjadi asri dan teduh. Hawa menjadi segar karena oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan.

Berawal dari keprihatinannya pada potensi alam yang kian terabaikan di negeri ini, Dasma tertuntut untuk memanfaatkan sampah. Tepatnya 1986-1987, dia masih menjadi sukarelawan di Dispertan Indramayu, mencoba banting setir dari dagang sayuran di Pa­sar Jatibarang, ke usaha pengelolaan sampah. Saat itu, niatnya memanfaatkan sampah menjadi kompos belum begitu kuat. Alhasil, rintangan kecilpun belum bisa terlampaui. Tidak lama kemudian, dia memutuskan merangkul adiknya, Sunadi (44), yang saat itu lebih dikenal sebagai si pembuat onar. Bila kampungnya terlibat tawuran, Sunadi selalu berada di garis depan menghunus senjata dan menyerang warga kampung lain yang menjadi seterunya.

“Dari situ saya mencoba memberikan pemahaman bahwa jangan melihat sampah sebagai uang atau bukan, tapi lihatlah sebagai sesuatu yang bisa menghasilkan uang,” kenang Dasma ketika diwawancarai Blakasuta di kediamannya, pada Sabtu, (7/3/09) lalu.

“Sampah organik, secara alami akan mengalami proses daur ulang, dan itu tidak bisa dibiarkan. Karena akibatnya akan mengalami pencemaran lingkungan, maka harus ditangani. Selain itu juga mengganggu ruang estetika dan lain-lain. Apalagi kita di Indramayu ini kebanyakan pertanian, juga perlu dijaga dari pencemaran, baik organik maupun non organik.”

Optimis, Kompos akan Semakin Dibutuhkan  

Dari kegelisahan itu, Dasma bertekad mengelola tumpukan sampah di pasar yang terbuang percuma. Belum lagi, di Indramayu banyak limbah sekam padi dan kotoran ternak. Rasanya sangat sayang, jika semua terbuang begitu saja. Bersama Sunandi, dia mengawali pengelolaan sampah di atas sebidang tanah di bekas gudang lantai jemur di Jalan Raya Jatibarang-Karangampel. Berbekal pengetahuan terbatas soal pembuatan kompos, mereka memulai usaha. Dari semula hanya 5 kuintal per tahun, hingga tahun 2005 produksi komposnya mencapai 200 ton.

Sejumlah karyawan yang tergabung dalam kelompok usaha tani “Buana Bakti”, di antaranya bertugas menyortir sampah organik dan  non organik, pengumpul sekam, limbah pabrik tahu, serta pencari kotoran ternak. Dalam proses pembuatannya, sampah organik dicampur dan diaduk dengan sekam bakar, limbah pabrik tahu, dan kotoran ternak. Dari sampah menjadi kompos dan kompos bokasi butuh waktu sampai 7 minggu.

Awalnya, produk kompos Dasma dan Sunadi diujicobakan ke tanaman hias. Lama-lama ke tanaman padi, ternyata hasilnya sangat bagus. “Kami memasok kompos bukan hanya ke sejumlah desa untuk demplot. Sawah yang memakai kompos kami, kualitas berasnya juga lebih bagus dan lebih pulen,” ujar lelaki lulusan S1 Budidaya Pertanian Unswagati Cirebon ini.

Dalam perkembangannya, Sunadi dan Dasma juga memproduksi kompos yang kualitasnya lebih bagus, yakni kompos bokasi. Kompos bokasi dibuat setelah berhasil menciptakan mesin pengayak sampah sendiri yang dibuat dengan memanfaatkan besi-besi rongsokan. Kini dia menjual kompos produknya senilai 10.000 rupiah per 10 kg. Selain itu, dia juga menciptakan alat yang berfungsi untuk membuat kompos. Alat itu dinamakannya komposter. Komposter ciptaannya ini dijual senilai 250.000 rupiah per komposter. Namun, komposter ini khusus untuk menanggulangi sampah rumah tangga, bukan untuk sampah di tempat pembuangan sampah (TPS).  

“Dulu awalnya kami mengalami kesulitan mempromosikan produk kami. Tapi kami tetap optimis, kalau kompos dan kompos bokasi merupakan pupuk masa depan. Tren pupuk kimia dari pabrik akan menurun, alternatifnya ialah kompos, yang sepenuhnya ramah lingkungan dan tidak menimbulkan efek pada lingkungan,” ungkap dia.

Dalam memenuhi gaji karyawannya, selama ini Dasma beternak puluhan kambing dan sapi. Baginya, ternak-ternak itu laiknya tabungan yang siap digunakan kapanpun, untuk mencukupi gaji karyawannya. Dia memang sengaja tidak melakukan peminjaman ataupun penyimpanan di bank setempat, karena dia mengaku trauma berurusan dengan bank.

Sekarang aktifitasnya tidak sebatas petani dan peternak saja, tapi juga aktif menjadi narasumber dalam pelatihan-pelatihan. “Saya selalu terbuka dan senang sekali bisa memberikan motivasi kepada generasi muda khususnya. Bahwa kita ini hidup tidak ada yang gratis, hanya orang yang tidak tahu diri saja, yang maunya gratis. Kalau orang hanya mau mengambil, tanpa mau memberikan sesuatu dari apa yang dia terima, maka hidupnya akan mengambang. Kita harus memberikan imbalan dari apa yang kita terima. Kalau orang terlalu banyak mengambil tanpa memberikan imbalan, maka dia ngambang dan hidupnya tidak akan balancing (seimbang),” tegas dia. (a5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak sama sekali ! Justru yang...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme pertama-tama bukan bicara soal persamaan,...

Populer

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 1)

Oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda, Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, CirebonPerkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya,...

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Artikel Lainnya