Jumat, 11 Oktober 2019

Sumur Kuno Kelenteng Talang Sarat Sejarah

Baca Juga

Fahmina.or.id. Cirebon. Hampir di setiap bangunan bersejarah baik berupa tempat tinggal berupa bangunan rumah maupun bangunan tempat ibadah memiliki benda yang dikeramatkan. Tentu saja benda yang dikeramatkan memiliki nilai historis dan kegunaannya yang oleh orang-orang di sekitarnya memiliki sesuatu yang istimewa.

Tak terkecuali sumur kuno yang berada di areal Kelenteng Talang Kota Cirebon yang berlokasi di Jl. Talang No 02 Kota Cirebon. Sumur yang dikelilingi pagar bercat merah disertai sepasang ornamen Naga Putih di atas sumur itu, terdapat pula altar penghormatan yang berada di sebelah selatan sumur.

Menurut Pengurus Kelenteng Talang, Chew Kong Giok, sumur ini sudah ada pada abad 14 silam. Sejak pendirian Kelenteng Talang sekitar tahun 1415 M.  Ia menjelaskan pembangunan sumur ini merupakan  kebutuhan pada masa itu akan sumber air, baik untuk proses pembangunana dan kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar Talang. Sementara daerah tersebut merupakan daerah pesisir yang airnya asin atau payau.

Tak sedikit masyarakat menyebut sumur kuno ini sebagai sumur keramat. Air dalam sumur ini dipercaya dapat membantu menjadi media dalam menambah rejeki, jodoh dan kesembuhan.

“Karena sumur itu sumur kuno, budaya lokal masyarakat menganggapnya sebagai sumur keramat dan dipercaya bisa membantu segala masalah manusia,” jelas Ketua Majelis Konghucu Indonesi (Makin) Cirebon, saat dihubungi via seluler, Sabtu (19/2).

Sumur itu bernama Naga Bodas atau Naga Putih. Dengan alasan itu sebagai pengurus kelenteng membuatkan replika naga putih di atas sumur tersebut.

Menurut penuturan Kong Giok, banyak cerita tentang sumur ini. Konon sumur ini sumbernya tersambung dengan sumur yang ada di Keraton Kasepuhan. Selain itu juga terhubung dengan sumur Badung yang berada di areal SD di kawasan Jl. Lemahwunngkuk serta sumur di Keraton Kanoman. Bahkan seseorang ada yang menerima wangsit (pesan) bahwa sumur itu dibuat oleh Sunan Kalijaga.

“Karena banyak versi tentang kisah sumur ini, maka pengrus berusaha merawat  dan menjaganya sebagai kearifan budaya lokal,” ungkap Tedy nama lain Chew Kong Giok.

Chew Kong Giok mengaku, pemugaran sumur pada tahun 2007 juga dipicu akan keprihatinan akan minimnya kesadaran masyarkat untuk menjaga kebersihan dan kelestarian benda bersejarah.

“Pemuagaran sumur kuno ini bukanlah untuk dikultuskan atau di upacara khususkan. Saya biarkan sewajarnya saja sebagiamna keyakinan dan kepercayaan masyarakat. Saya hanya menjaga dan memeliharanya,” pungkasnya. [] (ZA)

(Baca Artikel terkait: Menilik Tionghoa Muslim Cirebon )

Pesta harmoni dalam Perbedaan

Setama: Merajut Bhineka dalam Bingkai NKRI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak sama sekali ! Justru yang...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme pertama-tama bukan bicara soal persamaan,...

Populer

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 1)

Oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda, Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, CirebonPerkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya,...

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Artikel Lainnya