Nurul Huda Ma`arif (sumber: Foto Pribadi Nurul Huda)
Nurul Huda Ma`arif (SumberFoto Pribadi Nurul H)

Kebebasan Berekspresi semakin menjadi perhatian masyarakat tanpa kecuali untuk menyuarakan, menuliskan, menyebarluaskan, gagasan-gagasan positif dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Teknologi dan komunikasi di era digital saat ini pun memberi ruang tersendiri untuk para generasi milenial dalam menghadapi perkembangan zaman. Berita dan peristiwa yang terjadi dibelahan dunia lain akan dengan mudah kita akses (baca) langsung dihari yang sama hanya dengan hitungan detik saja.

Penyebarluasan informasi melalui beragam media seperti koran, buku, televisi, radio, dan juga media sosial lain menjadi pilihan banyak orang untuk dapat mengabarkan fakta yang terjadi sebenarnya sesuai tujuan yang diharapkan. Namun, munculnya fenomena hoaks dan ujaran kebencian saat ini menjadi ancaman bagi kebinekaan Indonesia. Konten-konten di ruang publik yang bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) khususnya di media sosial tanpa disadari oleh pembuat dan penebar menjadi dampak konflik bagi yang lain.

Sebagai pemuka agama era millenial penting untuk memahami perkembangan teknologi yang semakin canggih dengan hal-hal kekinian. Kecenderungan orang yang semakin terbuka dalam menyampaikan pendapat dan mengekspresikan perasaannya melalui media sosial menjadi motivasi tersendiri untuk para tokoh agama menggunakan gadget. Di pesantren (dunia nyata) seorang kiai bisa menyampaikan ilmu langsung di depan para santri sesuai dengan jumlah yang hadir saat itu, maka melalui media sosial pandangan keagamaan dapat dilihat, dibaca, bahkan didengar langsung oleh seluruh dunia.

Figur Kiai Idola Zaman Now

Adalah Kiai Nurul Huda Maarif, tokoh muda Banten yang giat menebar virus perdamaian guna menangkal hoaks dan siaran kebencian. Buah pemikirannya yang dituangkan melalui berbagai media menjadi cambuk untuk tokoh-tokoh lain agar dapat melakukan hal yang sama sepertinya demi menghadirkan wajah islam yang ramah dan penuh kedamaian. Kesehariannya sebagai pendidik pondok pesantren QothrotulFalah di Kabupaten Lebak, Banten, begitu menginspirasi para santri yang melihat langsung bagaimana kiai kelahiran Batang, Jawa Tengah ini bertutur dan berlaku.

Tulisannya hampir setiap hari muncul di media cetak baik lokal maupun nasional, seolah tiada hari tanpa menulis. Terbukti dengan banyak hasil karya yang lahir buah pemikirannya selama ini, yang terbaru telah sukses diterbitkan oleh Mizan Bandung yang berjudul “Islam Mengasihi, Bukan Membenci”.  Sebuah karya yang mendapat apresiasi luar biasa dari Kemenag Banten dengan kategori guru produktif pantas disematkan sebagai penghargaan kepada kiai yang pernah menimba ilmu di Pesantren Dar al Tauhid Cirebon.

Tidak hanya berhenti sampai di situ, figur Kiai humoris dan sersan (serius namun santai) itu rupanya mendapat tempat khusus di hati para remaja dan tokoh pemuda yang merindukan sosok idola masa kini atau generasi sekarang menyebutnya Kiai idola zaman now, yang tidak hanya menguasai teks agama tapi juga berprestasi, rendah hati, dan pandai dalam menempatkan diri dalam berbagai situasi. Ditemui diberbagai kesempatan, Kiai Nurul, begitu sapaan akrab para santri di pesantren, sering melibatkan tokoh muda untuk ikut berperan aktif dalam kegiatan diskusi.

Kiai Nurul beserta istri Nyai Dede Saadah telah dikaruniai dua orang anak perempuan bernama Nilna Dina Hanifa dan Raya Geyl Mumtazah yang sering menjadi inspirasi dalam berkarya. Kecintaannya terhadap menulis dilakukan dengan sepenuh hati sehingga memberikan manfaat kebaikan yang akan mengabadi sepanjang zaman. Untuknya, menyiarkan perdamaian yang dimulai dari Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak, Banten. Bersama para santri diharapkan dapat menggema sampai ke penjuru dunia. Karena, disamping menulis di media massa dan cetak lainnya, Kiai Nurul juga tidak jarang melakukan kampanye damai melalui udara (radio).

Religious Leaders for Peace Agen

Bersama tokoh agama lainnya gerakan menyebar virus perdamaian dan menjunjung nilai toleransi juga keberagaman dilakukan melalui media visual (televisi). Karena disadari bahwa kebencian yang merebak di media sosial saat ini harus dibendung sedini mungkin dengan cara-cara kreatif yang dapat membangun kesadaran masyarakat dalam bijak bersosial media. Seperti yang sering dilakukan oleh Kiai Nurul dengan memposting ungkapan dan kutipan teks bertulis bagaimana menghargai perbedaan dan menebar damai.

(Baca juga : 7 nalar Moderat)

Kiai bergelar Doktor lulusan ilmu tafsir hadis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini sangat aktif menggunggah quote pendek tulisannya dan quote tokoh berpandangan moderat di sosial media. Unggahannya itu seolah menjadi rutinitas wajib keseharian di alam maya. Sehingga tidak sedikit yang menunggu, bahkan penasaran dengan postingannya setiap hari. Kiranya, pantas jika kiai muda berprestasi ini dijuluki sebagai religious leaders for peace agen.

Dalam menangkal hoaks dan ujaran kebencian, al Qur’an merespon dengan turunnya ayat dari surat al-Hujurat (49): 6 ““Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa suatu berita, maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal.”

Artinya ayat tersebut cukup menjadi rambu-rambu untuk tidak menebarkan berita sebelum melakukan klarifikasi atas berita yang diterima. Apalagi jika yang diinformasikan tidak membawa nilai-nilai positif, maka harus dilakukan tabayun untuk memastikan kebenarannya agar tidak menjadi berita bohong, kebencian, adu domba, dan berujung kepentingan politik atau kekuasaan.

“Jika Rasulullah SAW saja yang selalu dalam bimbingan Allah SWT “nyaris” terhasut berita bohong dalam satu kisahnya tentang Bani Musthaliq karena orang tidak bertanggungjawab. Karenanya, bangsa yang cerdas adalah bangsa yang memiliki budaya klarifikasi atau tabayun”, tulis beliau dalam salah satu kolom website pesantren Qothrotul Falah yang dikelolalnya.

Bersikap lebih awas dan penuh kehati-hatian dalam menerima dan menginformasikan setiap berita akan lebih baik dibandingkan menyebar berita yang belum tentu kebenarannya dan merugikan diri sendiri terlebih orang lain. Keragaman budaya, suku, bahasa, agama, ras, di Indonesia bukan hadir tiba-tiba. Nilai-nilai toleransi yang tertanam sejak ribuan tahun lalu tak akan mudah tergoyahkan jika kita bersama-sama   menjaga dan meneguhkan kebangsaan dan kebinekaan Indonesia.

(Baca juga artikel terkait: Membangun Solidaritas Untuk Perdamaian)

BIOGRAFI NURUL HUDA MAARIF

Lahir     : Kabupaten Batang, Jawa Tengah, 29 Januari 1980

Istri      : Dede Saadah

Anak     : 2 Orang

  • Nilna Dina Hanifa
  • Rayya Geyl Moemtaazah

Pendidikan:

  • Madrasah Ibtidaiyah Darunnajah Kemiri Subah, Kabupaten Batang, Jateng
  • Madrasah Tsanawiyah Darussalam Kemiri Subah, Kabupaten Batang, Jateng
  • Madrasah Aliyah Keagamaan Dar Al Tauhid Cirebon, Jabar
  • Jurusan Tafsir Hadis, Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tulisan ini pertamakali diterbitkan di Buletin Blakasuta Vol. 46 Th. 2018