Oase Hikmah di Belantara Masalah (zen)

Oleh: Zahra Amin

Resensi Buku

Judul:Pendar Pendar Kebijaksanaan
Karya terbaru KH. HUSEIN MUHAMMAD

Ukuran: 15×21 cm
Tebal: XVI+312 halaman
Kertas: Bookpaper kualitas oke
Penerbit: Fahmina Institute
Tahun: 2018

Siapa yang tidak mengenal Buya KH. Husein Muhammad?. Kyai yang berjuluk pejuang gerakan gender dan feminisme kelahiran Cirebon ini, konsisten menyuarakan isu kemanusiaan, kesetaraan, kesalingan,  dan Islam ramah lagi menyenangkan. Ketika hari ini ladang dakwah tak lagi berada di ruang-ruang pengajian, seminar, workshop dan lokakarya, namun juga menyelinap diantara sudut-sudut terbuka maupun tertutup media sosial.

Peluang ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Buya, panggilan akrab beliau, untuk menebarkan pesan damai, tanpa kekerasan, caci maki dan penghinaan. Yang memang harus kita akui, beberapa tahun belakangan ini, sejak era media sosial menjadi life style hampir milyaran manusia di muka bumi yang terhubung melalui jejaring internet, terpapar hoax, ujaran kebencian yang hampir setiap hari bertebaran tak terelakkan.

Dan saya, diantara sekian banyak orang yang berteman dengan Buya di Facebook, merasa beruntung menemukan hal positif yang bisa dipetik dari penggunaan aktif media sosial. Membaca dengan selesai setiap tulisan yang beliau buat. Kadang pula ikut membagikan agar orang lain yang tidak berteman dengan Beliau bisa ikut membaca. Di tengah arus informasi yang membanjiri kita dengan beragam konten, tulisan Buya Husein menjadi oase hikmah dibelantara masalah. Menyejukkan hati, dan memberi sudut pandang baru tentang beragama yang benar, tak kaku, tidak saklek dan tidak baku. Tapi lentur, membumi, mengakar, dan menyatu menjadi laku hidup sehari-hari.

Kita seolah diajak Buya, melalui tulisannya itu berjalan-jalan menyusuri pemikiran Buya yang padat dan kaya makna. Sesekali menyentil realitas sosial yang kini menjadi bias di masyarakat. Seperti tentang poligami yang beliau angkat dengan kisah Imam Abu Hanifah Membela Perempuan. Mengkritik praktik Poligami dengan contoh cerita lama namun tetap relevan dan aktual. Sedangkan Pada halaman lain, sebagai perempuan saya merasa diistimewakan dengan tulisan-tulisan Buya, semisal Tuhan Merespon Suara Perempuan, Siti Aisyah yang Maskulin, dan Ibnu Rusyd Tentang Perempuan. Artinya, saya merasa menjadi lebih percaya diri, jika perempuan setara dengan lelaki tanpa koma dan tapi.

Lalu dibagian yang lain, kita dibuat termenung dengan tulisan reflektif Buya, mengutip syair-syair indah penyair klasik nan bijakbestari.

Dari cinta kita berasal

Dari cinta kita terlahir

Dibawah naungan cinta kita menyusuri jalan

Dan demi cinta kita akan pulang

Kalimat yang sarat makna itu tak hanya satu, namun bertebaran hingga di halaman terakhir buku terbaru yang beliau tulis yang berjudul Pendar-Pendar Kebijaksanaan. Buku setebal 312 halaman ini membuat kita sebagai makhluk yang fana merenungi perjalanan hidup ini, berkontemplasi, menyentuh nurani, hingga tanpa sadar meneteskan air mata, menyesali dengan apa yang sudah terjadi, lalu berjanji pada diri sendiri untuk berubah dan tak mau mengulangi, meski entah kapan suatu kali janji itu diingkari lagi.

Selain itu tentu masih banyak lagi yang bisa kita serap dari mutiara hikmah buku Pendar-Pendar Kebijaksanaan karya Buya Husein. Tak puas jika hanya membaca satu tulisan, karena setiap tema yang diangkat dalam buku itu tak hanya bicara isu kontekstual yang sedang dibicarakan hangat hari ini, tetapi juga mengajarkan kita satu hal tentang proses kehidupan yang akan terus bergulir tanpa henti. Pilihannya kembali pada diri kita, akan tetap bebal dan acuh tak mau perduli, atau turut ambil bagian menjadi orang yang memiliki kesadaran sebagai manusia yang memanusiakan manusia lainnya.