Wajah Islam Nusantara dari Pojok Pesantren (ist-zen)

Oleh: Hilyatul Aulia

(Mahasantri Ma`had Aly Kebon Jambu Ciwaringin Cirebon)

Isu radikalisme sedang marak saat ini, dimana salah satu tujuannya yaitu untuk membentuk negara Islam. Terorisme menjadi salah satu kasus terbesar yang terjadi belakangan ini mengingat beberapa lalu Indonesia sempat diguncangkan dengan kasus Mako Brimob dan pengeboman massal di Jawa Timur. Alangkah kejamnya teror yang mereka lakukan dengan mengatasnamakan Islam dan menyebut aksi mereka sebagai aksi jihad. Mengapa? Karena tentu telah kita ketahui bersama bahwa Rasulullah saw tidak pernah melakukan ataupun mengajarkan kekerasan kepada umatnya. Lalu apakah sikap radikalisme dan aksi terorisme dapat dikatakan sebagai sikap yang Islami?

Akan lebih baik jika upaya pengislaman suatu negara berawal dari kehidupan yang paling sederhana yaitu membentuk individu yang Islami. Upayanya antara lain mengamalkan dan mengajarkan akhlak Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melakukan kesunahan-kesunahan yang beliau lakukan seperti mengawali segala hal yang baik dengan anggota tubuh bagian kanan, tolong menolong kepada sesama, toleransi, sedekah dan lain sebagainya akan menunjukkan bahwa Islam amat sangat indah. Dengan melakukan hal kecil seperti itu, tanpa dimaksudkan untuk membentuk negara Islam pun masyarakat akan menjadi Islam dengan sendirinya. Dibandingkan dengan melakukan hal-hal besar bersifat radikal yang justru akan menyulut kemarahan dari berbagai pihak dan menciptakan permusuhan yang justru akan menghapus citra Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam.

Bangsa Indonesia yang tidak pernah mengklaim dirinya sebagai negara Islam, malah menjadi negara dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia. Fakta ini tentu tidak lepas dari jasa Wali Sanga yang telah menyuguhkan keislaman di tanah Nusantara. Para wali bukan mengajarkan Islam, namun menyuguhkan Islam, artinya mengamalkan akhlak Rasulullah saw. yang sangat indah yang kemudian menjadi teladan dan ditiru oleh masyarakat Nusntara. Para wali tidak pernah berambisi untuk membentuk Nusantara menjadi negara Islam, mereka justru sangat menghargai kearifan lokal yang mendarah daging dalam benak masyarakat dan menjadikan itu sebagi media untuk berdakwah. Alhasil dengan keramah-tamahan masyarakat Nusantara dan kebijaksanaan Wali Sanga, Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia tanpa melalui jalur peperangan seperti yang dilakukan oleh para sahabat di wilayah Islam yang lain.

Mengapa Islam masuk ke Indonesia tanpa melalui peperangan seperti di negara lain? Hal ini dilatarbelakangi oleh watak masyarakat Nusantara yang ramah. Sikap toleransi dan gotong royong yang tinggi menjadi media dakwah para wali untuk mengislamkan penduduk Nusantara sehingga Islam yang membawa nilai-nilai kemaslahatan dapat dengan mudah diterima di tanah Nusantara. Sehingga Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam benar-benar diwujudkan di bumi Nusantara.

Nusantara tidak tergiur kepada surga yang digambarkan dalam alquran berupa sungai-sungai yang mengalir dan pohon-pohon yang berbuah rindang, seperti yang didakwahkan oleh para sahabat di negara yang tandus dan gersang. Tentu bumi Nusantara telah memiki itu semua. Surga adalah kehidupan yang damai dimana tidak ada kericuhan dan kekerasan di dalamnya, itulah yang terjadi di Nusantara, sehingga tidak berlebihan jika Nusantara dikatakan sebagai sepotong surga yang ada di dunia dengan kekayaan alam yang melimpah dan masyarakatnya yang hidup damai sejahtera. Adapaun kericuhan-kericuhan yang datang belakangan ini tidak lain dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar, salah satunya dari kelompok yang berambisi untuk membentuk sebuah negara Islam.

Mereka yang berambisi untuk membangun negara Islam di bumi Nusantara adalah mereka yang tidak pernah mengenal sejarah Nusantara. Mereka yang tidak pernah mengenal bagaimana Pancasial dibentuk. Betapa leluhur kita dengan berdarah-darah memperjuangkan keutuhan NKRI dari kungkungan penjajahan dengan mengeratkan tali persatuan antar ras, suku dan agama. Di dalamnya tentu nilai-nilai toleransi dijunjujung tinggi demi keutuhan NKRI. Lalu kemudian para radikalis datang dengan membawa paham yang ingin menghancurkan kesatuan bangsa Indonesia! Tunggu dulu! Toleransi dan gotong royong telah mendarah daging dalam benak bangsa Indonesia, sehingga bagi Indonesia, terorisme bukanlah isu yang mengatasnamakan satu agama tertentu, namun terorisme adalah isu kemanusiaan yang harus diberantas oleh seluruh bangsa Indonesia.

Mengapa Indosneia hidup rukun dalam keragaman agama? Karena Pancasila telah mempersatukan seluruh agama yang ada di Indonesia dalam sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Mengambil istilah yang dipakai Ulama besar Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i “al-khuruuj min al-khilaf manduub”, keluar dari wilayah konflik adalah sunah, yang beliau lakukan ketika mentolelir hasil ijtihad beliau dengan hasil ijtihad sang guru yang juga seorang ulama besar,  Malik ibn Anas mengenai waktu salat Isya. Imam Syafi’i berkesimpulan bahwa waktu salat isya dimulai sejak langit tidak lagi benwarna merah, namun menurut imam malik, shalat isya baru bisa dilaksankan setelah langit menghitam sepenuhnya. Untuk menghindari konflik antara pendapatnya dan pendapat sang guru, Imam Syafi’i berkesimpulan bahwa salat Isya sunah dilaksanakan saat langit telah mengitam seluruhnya. Imam Syafi’i mencari titik temu antara pendapatnya dengan pendapat sang guru agar tidak terjadi konflik di anatara keduanya.

Hal inilah yang dilakukan bangsa Indonesia dalam hal keragaman beragama. Pancasila mengeluarkan agama-agama yang ada di Indonesia dari ranah konflik dengan mempersatukan mereka dalam satu titik yaitu kebertuhanan yang dibadikan dalam sila pertama Pancasila.

Ini merupakan sekelumit ide tentang Islam Nusantara yang saya simpulkan dari keterangan seorang guru yang mengisi pengajian pasaran Ramadhan di pondok pesantren yang kini menjadi rumah kedua saya. Pesantren lah yang harus tetap menjadi benteng NKRI dengan menyuguhkan Islam rahmat bagi seluruh alam, karena tegaknya keutuhan NKRI tidak pernah lepas dari jasa kaum santri. Pesantren harus bisa menjadi referensi utama tentang wacana Islam Nusantara yang kini menjadi kiblat seluruh negara Islam dan menjadi salah satu destinasi dunia.