Jumat, 13 September 2019

Obyek Wisata Plangon

Baca Juga

Pagi itu beberapa ekor monyet bergelantungan di atas pohon, bahkan beberapa diantara mereka duduk-duduk dengan santai di lokasi parker kendaraan, seakan-akan ingin mengucapkan selamat datang kepada para pengunjung obyek wisata Plangon.

Tak jauh dari Kota Cirebon, kurang lebih 5 kilometer sebelah barat kota Cirebon, kita bisa singgah di obyek wisata yang berbeda dari obyek-obyek wisata lainnya di kota Cirebon. Obyek wisata ini merupakan perpaduan antara nilai-nilai sejarah, kesejukan alam dan adanya komunitas monyet dengan jumlah lumayan banyak di tempat tersebut. Dengan potensi tersebut, tempat ini sangat layak untuk dijadikan salah satu tujuan wisata di Cirebon.Tepatnya, lokasi ini berada di desa Babakan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon.

Plangon sendiri berasal dari kata tegal klangenan yang berarti sebuah tempat atau bukit untuk menenangkan diri. Alkisah sekitar 4 abad yang silam ada dua orang pangeran yang bernama Pangeran Panjunan dan Pangeran Kajaksan mencari tempat yang tenang untuk memecahkan permasalahan-permasalahan kehidupan yang sedang dihadapi. Akhirnya kedua orang tersebut menemukan sebuah bukit yang terletak di sebelah barat kota Cirebon yang dianggap sebagai tempat yang paling cocok untuk melaksanakan maksud tersebut. Kedua orang pangeran yang konon masih keturunan dari Bagdad naik ke atas bukit. Dalam perjalanan ke atas bukit, kedua Pangeran itu dihadang oleh penjaga hutan Plangon yang bernama Pangeran Arya Jumeneng. Kedua pangeran dari Bagdad itu dapat memenangkan pertarungan, dan akhirnya ketika sampai di atas bukit kedua Pangeran itu membuat tempat peristirahatan, yang akhirnya sampai sekarang menjadi tempat makam kedua Pangeran tersebut.

Memang bagi para pengunjung yang baru berkunjung ke sini, kesan seram memang terasa. Selain karena memang hutannya yang cukup lebat, juga setiap gerak kita akan diikuti oleh monyet-monyet yang terkadang sedikit jahil. Untuk itu, ketika naik bukit , pawang setempat setidaknya menyertai kita untuk membantu jikalau monyet-monyet tersebut menjadi nakal terhadap para pengunjung. Untuk sampai ke puncak bukit Plangon kita harus menaiki banyak tangga , tidak ada yang tahu tentang jumlah tangga tersebut, bahkan pawangnya sendiri. Tapi dengan berjalan santai kita memerlukan waktu setengah jam untuk sampai puncak Plangon.

Memasuki tangga-tangga pertama, puluhan monyet sudah mulai mengikuti kita, ada yang sekedar mengikuti dan ada yang meminta makanan. Untuk itu para pengunjung disarankan membawa makanan, seperti kacang-kacangan, yang akan kita berikan kepada monyet-monyet tersebut. Setelah beberapa puluh tangga, pawang Plangon memberikan penjelasan,”bahwa di hutan ini ada 6 kerajaan monyet, dimana masing-masing wilayah dipimpin oleh satu jawara monyet”. Wilayah satu adalah wilayah paling bawah, yang dipimpin oleh si Jefri, wilayah dua sampai enam adalah semakin ke atas sampai puncak, yang dipimpin oleh masing-masing jawara monyet yaitu, Si Acing, Si Bondol, Si Werman, Si Mandor dan Si Swing.

Tidak ada yang tahu pasti, darimana asal monyet tersebut, apakah memang sudah ada dari dulunya, atau hewan peliharaan Pangeran Panjunan dan Pangeran Kajaksan. Yang jelas, monyet tersebut berada di hutan Plangon dan berkembang biak dengan baik. Tapi memang ada beberapa hal, yang menurut penduduk sekitar adalah aneh. anehnya, ada hari-hari tertentu dimana monyet-monyet tersebut tidak turun ke bawah, tapi terus bersembunyi di pohon. hari-hari tersebut diantaranya jatuh pada tanggal satu muharam. Pernah suatu kali dicoba, disepanjang tangga naik ke puncak ditebarkan ratusan makanan pada tanggal satu Muharram, ternyata tidak ada satupun monyet yang mengambil makanan tersebut. Bandingkan dengan hari-hari lain, jangankan ditaruh ditanah, masih dipegang ditangan saja, makanan yang dibawa bisa diserobot oleh monyet-monyet tersebut.

Akhirnya setelah sampai di puncak bukit, kita bisa melihat makam kedua Pangeran tersebut, dengan tanah sekitar makam yang datar. Bangunan dengan luas kurang lebih 100 meter persegi tersebut, terlihat banyak ditumbuhi lumut karena umurnya yang sudah sangat tua. Makam tersebut terkunci, karena pada hari-hari tertentu saja dibuka. Ditengarai, tanah datar sekitar makam adalah tempat berkumpulnya para murid kedua Pangeran tersebut, dimana Sang Pangeran memberikan wejangan-wejangannya. Sembari melepas lelah, kita bisa duduk-duduk didepan makam, sambil menikmati kesejukan dan keasrian alam sekitar, sambil terus ditemani oleh monyet-monyet yang terus menguntiti kita.


Sumber: milis jalan-jalan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Dakwah Budaya; Belajar Kepada Para Wali

Oleh: Abdul RosyidiPada saat Syarif Hidayatullah mendarat di Cirebon, pertama kali dia menemui Uwaknya, Pangeran Walangsungsang. Oleh Walangsungsang, Sunan Gunung Jati disarankan untuk tidak...

Enam Alasan Mengapa Presiden Harus Tolak UU KPK Jika Tidak Ingin KPK Mati

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASudahkah Anda baca usulan revisi DPR terhadap UU KPK? Sudahkah Anda menemukan jawaban mengapa semua fraksi DPR tergesa-gesa menyetujui revisi...

Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak DPR RI Segera Sahkan RUU P-KS Sebelum Masa Jabatan Berakhir

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah masuk dalam Prolegnas sejak 26 Januari 2016. DPR RI juga telah membentuk Panja untuk pembasan RUU...

Manusia Sebagai Makhluk Seksual

Oleh: Dr. Hc. KH. husein MuhammadManusia di samping makhluk berpikir ia juga adalah makhluk biologis-seksual seperti juga binatang. Tuhan memberinya naluri-naluri dan hasrat-hasrat seksual...

Populer

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Dakwah Budaya; Belajar Kepada Para Wali

Oleh: Abdul RosyidiPada saat Syarif Hidayatullah mendarat di Cirebon, pertama kali dia menemui Uwaknya, Pangeran Walangsungsang. Oleh Walangsungsang, Sunan...

Enam Alasan Mengapa Presiden Harus Tolak UU KPK Jika Tidak Ingin KPK Mati

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASudahkah Anda baca usulan revisi DPR terhadap UU KPK? Sudahkah Anda menemukan jawaban mengapa semua...

Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak DPR RI Segera Sahkan RUU P-KS Sebelum Masa Jabatan Berakhir

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah masuk dalam Prolegnas sejak 26 Januari 2016. DPR RI juga telah...

Manusia Sebagai Makhluk Seksual

Oleh: Dr. Hc. KH. husein MuhammadManusia di samping makhluk berpikir ia juga adalah makhluk biologis-seksual seperti juga binatang. Tuhan...

Perjumpaan dan Etika

Oleh: Abdul RosyidiIni masih tentang ‘Ruang Perjumpaan’. Emmanuel Levinas, filsuf kontemporer Perancis percaya bahwa etika bukanlah sesuatu yang abstrak,...

Teori Interdependensi dan Mubadalah

Oleh: Abdul Rosyidi Satu yang paling menarik dan berbeda dari paparan KH Faqihuddin Abdul Kodir saat Bengkel Mubadalah di Malaysia...

Artikel Lainnya