Peer Consultant, Menjawab Kebutuhan Informasi dan Konsultasi untuk Remaja

0
679

 

Anggapan bahwa remaja tidak bertanggung jawab dan gampang terbawa arus tersebut, seringkali menempatkan remaja sebagai usia yang belum waktunya tahu banyak hal, belum waktunya mengerti banyak hal, dan belum waktunya dipercaya sebagai manusia yang utuh, manusia yang telah dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri.

Karenanya, seringkali kita menyaksikan remaja yang mengorganisir dirinya bersama teman-teman seusianya, membuktikan “ya, aku ada”, atau “ini kami, remaja”, untuk sekedar membuktikan bahwa remaja juga bisa seperti orang dewasa, punya banyak teman, dapat melakukan apa yang orang dewasa lakukan. Pada dasarnya, setiap orang, berapapun usianya, apapun jabatannya, memang butuh eksistensi, butuh pengakuan, pun dengan remaja.

Bagi remaja yang mampu dan memiliki akses untuk membuktikan eksistensinya, mereka akan menyalurkan bakat dan minatnya, baik sendiri maupun dengan teman-temannya. Lalu, bagaimana dengan remaja yang tidak memiliki semua itu?

Salah satu kebutuhan remaja yang paling rentan tetapi tidak memiliki informasi dan fasilitas yang memadai adalah informasi dan layanan terkait kesehatan reproduksi dan seksualitas. Tidak ada satupun manusia di bumi ini yang tidak mengalami siklus reproduksi, laki-laki, perempuan, transgender, atau jenis kelamin apapun. Remaja mengalami dari mulai menstruasi, payudara membesar, mempunyai ketertarikan seksual, mimpi basah, suara membesar, dan lainnya. Ini biasanya disebut dengan masa pubertas.

Selama masa pubertas tersebut, banyak sekali pesoalan-persoalan yang mungkin dialami oleh remaja, seperti kebingungan menghadapi menstruasi pertama kali, merasa bersalah ketika pertama kali mimpi basah, merasa berdosa ketika hasrat seksual muncul, dan banyak lagi. Masalahnya, kebanyakan remaja tidak mungkin menceritakan apa yang dialaminya tersebut kepada orang tuanya, saudaranya, apalagi neneknya, bahkan sekedar untuk berbagi. Berbagai alasan mendasarinya, salah satunya malu dan takut, malu karena mereka berasumsi apa yang mereka alami tidak dialami oleh remaja lain, takut karena merasa belum saatnya mereka mengalami hal tersebut. Jadi, tempat terbaik untuk mereka berbagi cerita adalah teman sekolah, teman les, atau teman nongkrong yang pautan usia tidak seberapa jauh dengan mereka (teman sebaya).

Berbagi cerita dengan teman sebaya lebih nyaman karena setidaknya mereka sedang berada pada fase kehidupan yang sama, sehingga pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi pun tidak berbeda jauh. Sayangnya, jika mereka sama-sama tidak tahu apa yang tengah mereka alami dan rasakan, maka rentan bagi mereka melakukan hal-hal yang tidak bertanggungjawab bahkan membahayakan. Seperti, mereka merasakan hasrat seksual yang tinggi, karena sama-sama tidak tahu tentang hasrat seksual remaja, mereka memilih internet sebagai tempat bertanya. Jika mereka menuliskan kunci yang tidak tepat untuk browsing, maka terbayangkanlah oleh kita apa yang akan mereka dapatkan. Tak ayal lagi, mereka akan mulai berkenalan dengan video-video porno. Selanjutnya, mereka akan tergelitik untuk mempraktikkan apa yang ada dalam video tersebut, remaja memang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi bukan? Ini sangat dimungkinkan menjadi pintu masuk remaja melakukan seks bebas.

Semua hal diatas, dapat kita cegah sejak dini. Bukan dengan ceramah-ceramah panjang lebar oleh guru ataupun orang tua. Tetapi dengan cara menyediakan informasi dan layanan yang memadai terkait kesehatan reproduksi dan seksualitas. Bagaimana caranya?

Menyediakan informasi kesehatan reproduksi dan seksuaitas seluas-luasnya kepada remaja melalui diskusi-diskusi kecil di sekolah, di pesantren, di pertemuan OSIS, di kajian ROHIS, dan lebih penting lagi adalah memasukkan isu tersebut dalam kurikulum sekolah, sehingga setiap siswa mendapatkan informasi tersebut, tanpa terkecuali. Maksudnya, bukan hanya yang aktif di OSIS, di ROHIS, atau yang nyantri di pesantren.

Layanan kesehatan reproduksi dan seksualitas untuk dapat berupa ruang konseling yang nyaman dan aman bagi remaja, tentu saja dengan konselor yang usia remaja juga, konselor sebaya (peer counselor). Sekolah, pesantren, puskesmas desa, rumah sakit, dapat merekrut para remaja untuk menjadi konselor. Ini jauh lebih efektif ketimbang membuat spanduk-spanduk raksasa yang menggaungkan No Drugs, No Free Sex, dan No… No… yang lain.

Selain menjadi tempat berbagi informasi dan konsultasi bagi sebayanya, peer consultant juga dapat berarti sebagai wadah untuk saling memberdayakan, konselor maupun kliennya. Konselor akan belajar banyak dari klien tentang bagaimana menghadapi klien dengan berbagai gaya dan latar belakangnya sementara bagi klien akan dikuatkan untuk membuat keputusan-keputusan bagi dirinya berdasarkan pandangan-pandangan yang diberikan oleh konselor.

Sekolah, pesantren maupun pemerintah daerah juga dapat memperolah manfaat dari adanya peer consultant ini. Kebutuhan remaja akan informasi dan layanan serta persoalan-persoalan seputar kesehatan reproduksi dan seksualitas yang terjadi dapat dipakai sebagai data. Data tersebutlah yang dijadikan dasar bagi para sekolah, pesantren maupun pemerintah daerah untuk membuat kebijakan yang terkait dengan kesehatan reproduksi dan seksualitas remaja. Dengan demikian, setidaknya remaja telah mendapatkan salah satu hak mereka yang tertuang dalam 12 Hak Kesehatan Reproduksi yang telah disepakati oleh dunia internasional di Kairo tahun 1994, yaitu Hak untuk Mendapatkan Informasi dan Pendidikan (hak ke-6), dan Hak untuk Mendapatkan Pelayanan dan Perlindungan Kesehatan (hak ke-9).

Akhirnya, ketika kita membutuhkan sesuatu, maka kita juga harus mau dan mampu menyuarakan apa yang menjadi kebutuhan kita. Begitupun dengan kebutuhan akan informasi dan layanan kesehatan reproduksi dan seksualitas, kita harus mulai berani mengatakan “ya, kita butuh”. So, speak up guys, no or never!

__________________

Alifatul Arifiati adalah peneliti Yayasan Fahmina Cirebon