Cerpen: PELITA KEMUNING (Bag. 1)

Oleh: neneng Alfiyah

0
1868
Sumber Gambar: w-dog.net

Hujan dan malam kerap kali dikawinkan oleh Kemuning, menyosokkannya sebagai ruang tempatnya berhening dan berfikir. Waktu paling tepat baginya berwisata menyelancari imaji-imaji. Menuangkan dan mencurahkan seribu satu macam kisah, pada carikan-carikan kertas dengan tarian penanya. Membumbungkan seribu satu aksara menjadi cerita. Satu atau dua cangkir kopi pun menjadi teman setianya. Begitu sepanjang malamnya yang ia lalui. Tapi, tidak untuk malam ini. Kemuning yang tengah terdiam, duduk mencakung di tepi sudut kamarnya. Kali ini sunyi dan sepi telah benar-benar menjelaskan dirinya sebagai suatu kegelisahan. Kemuning seakan diajak setia mengikuti riwayat perjalanan jarum jam yang berputar mengelilingi angka demi angka pada arloji di kamarnya. Sesampai tak sengaja memuaikan lamunannya terbang mengawang, mengantarkannya pada sebuah ingatan yang pernah terjadi kala itu,

*******

“Ning, sedang apa kamu? Ayo ikut Ibu pulang.”

Sembari menarik tangan Kemuning, tanpa pamit beranjak pergi meninggalkan teman-teman menuju pulang, pada saat itu dirinya sedang makan siang di sebuah resto dekat kampus bersama Benazir, Maria dan Marcoes. Mereka adalah salah tiga dari teman Kemuning dalam satu organisasi kepemudaan yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan. Mereka berempat sedang membicarakan rencana pengadaan bakti sosial untuk korban bencana banjir yang terjadi di Indramayu. Memang, Kemuning terlibat aktif di wilayah pergerakan dan keorganisasian pemuda yang positif.

“Sudah berapa kali Ibu katakan? Kamu tidak boleh lagi bergaul dengan mereka. Mengerti? Mereka itu beda keyakinan dengan kita. Bisa-bisa kamu malah terbawa sama mereka. Ibu khawatir, Nak.”

Tukasnya dengan nada tegas seraya membuka cadar kerudung pada penutup wajahnya. Kebetulan Ibu Kemuning merupakan seorang yang agak tertutup terhadap orang-orang disekitar tempat tinggalnya, ia pun cukup protek terhadap anak semata wayangnya ini dalam hal pergaulan. Ia sangat melarang Kemuning untuk bergaul dengan yang berbeda keyakinan darinya. Sedangkan Kemuning, adalah gadis supel yang mudah bergaul dengan siapa saja.

Ayahnya yang telah wafat sejak empat tahun lalu saat Kemuning duduk di bangku kuliah smester pertama, tak menjadikannya pribadi yang lemah dan pantang menyerah dalam meraih apa yang diinginkannya. Hanya saja, satu hal yang membuatnya sering down, manakala Ibunya tak mendukung apa yang dilakukan dirinya. Saat pemikiran Ibunya tak juga sejalan dengannya.

Sesaat setelah mendengar pernyataan Ibunya tersebut, Kemuning hanya dapat menghela nafas panjang dan berkata,

“Bu, cepat atau lambat Ibu pasti bisa mengerti, apa yang dilakukan Kemuning ini samasekali bukan termasuk menodai agama. Kemuning hanya ingin fas ta bikul khoirot, Bu. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Ingin berusaha berbuat baik kepada siapapun tanpa latar belakang agama seseorang”.

Tutur Kemuning dengan ratapan lirih, mata yang nanar dan suara yang sedikit parau, sebab berusaha benar menahan tangis yang hampir pecah. Hanya seulas senyum kaku yang akhirnya dapat Kemuning hadirkan di bibir mungilnya itu, kepada Sang Ibu.

Ibu Kemuning mengernyitkan dahi dan tertegun, menatap begitu dalamnya ketajaman mata Kemuning yang membahasakan tentang sebuah keyakinan. Tetiba, handphone Ibu Kemuning berdering, tanda SMS masuk. Setelah dibuka, ternyata ada undangan pengajian syukuran dari Bu Nurul, tetangga desanya.

“Ning, ntar temenin Ibu ke pengajian syukurannya Bu Nurul ya?”

“Kapan, Bu?”

“Selepas waktu Ashar. Sebenarnya Ibu sih lebih suka di rumah saja. Malas ke luar rumah kalau selainnya belanja keperluan dapur atau kebutuhan yang mendesak.”

“Jangan gitu, Bu. Dulu, ayah kan pernah bilang ke Ning. Kita mesti imbang, antara hubungan kita dengan Allah juga hubungan kita dengan sesama manusia, Bu.”   Jelas Kemuning dengan berusaha mengajak Ibunya tersenyum.

*******

Pengajian di rumah Bu Nurul pun berlangsung. Ketika acara berakhir dan tamu undangan pengajian berbondong pulang, Bu Nurul menahan Kemuning dan Ibunya untuk tetap tinggal dan tak dulu pulang.

“Mari nge-teh dulu, Bu Kemuning. Jangan buru-buru pulang.” Sambutnya seraya menyuguhkan teh hangat kepada Kemuning dan Ibunya.

“Makasih Bu Nurul, maaf merepotkan.” Sahut Kemuning.

Sejurus kemudian, datanglah Marcoes  _yang tak lain adalah teman Kemuning_, pemuda Katolik berambut pirang dan berkulit bersih  itu ternyata putra kandung Bu Nurul. Ibu Kemuning terkejut,

“Lho, Bu Nurul, ini anak ibu? Ini temen kamu yang Katolik itu kan, Kemuning? Kok bisa? Kok aku baru tau?” Rasa heran dan penasaran terus menghujani pikiran Ibu Kemuning. Dalam benaknya menggumam,

……… Kok bisa sih, Ibunya Islam tapi anaknya Katolik? Kenapa begitu?

“Ibu, jangan bicara begitu…” Kemuning yang sedikit malu karena kata-kata Ibunya itu, berusaha menenangkan ibunya.

“Iya, Bu Kemuning. Ini Marcoes, anak saya. Saya memang seorang muslim sama seperti Bu Kemuning. Suami saya Katholik. Saya memberi kebebasan kepada anak saya untuk menganut agama sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya. Dan anak saya ternyata memilih untuk ikut bersama suami saya. Saya tidak bisa memaksakan apa yang telah menjadi pilihannya. Karena keyakinan seseorang itu memang tidak bisa dipaksakan, meskipun terhadap anak sendiri. Tapi, kami memang sudah terbiasa dengan perbedaan ini, Bu. Perbedaan adalah suatu keniscayaan dan rahmat dari Tuhan.” Jelas Bu Nurul dengan tenang dan senyum mengembang. Sangat bersahabat.   (bersambung…)