Penganiayaan aktivis; Teror untuk Demokrasi

0
601

 

Setelah bom Molotov yang dilempar ke Kantor Majalah TEMPO, giliran seorang penggiat antikorupsi dari Indonesia Corruption Watch dianiaya hingga luka parah. Lengkaplah terror terhadap demokrasi di negeri ini.

Namanya terror, tentu tak ada yang jelas. Namun, public mulai mereka-reka benang merah dari terror yang berimpitan waktunya itu. “Tempo di bom setelah menulis rekening gendut perwira Polri dan Tama dibacok setelah melaporkan kasus rekening Polri ini ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),” kata Danang Widoyoko, Koordinator Indonesian Corruption Watch (ICW), di Jakarta, Kamis (8/7)

Koordinator Komite untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) Usman Hamid menambahkan, “Peristiwa ini terlalu dekat dengan bom Molotov di Kantor TEMPO. Karena itu, kami ingin proses hukum membuktikan siapa pelakunya dan investigasi harus melibatkan elemen sipil. Ini adalah terror lanjutan terhadap demokrasi, sama dengan pembunuhan aktivis Kontras, Munir,” tuturnya.

Melawan Teror

Pendiri ICW Taten Masduki menegaskan, gerakan antikorupsi tak takut dengan terror ini. “Tujuan terror adalah untuk mencipta rasa takut. Namun saya tegaskan, kami tidak takut,” ujarnya. Ia menjamin, ICW dan juga gerakan antikorupsi lain akan terus melawan. “Ini malah akan menguatkan gerakan antikorupsi,” katanya.

Daya perlawanan itu pun jelas tergambar dari Tama. Ditemui di Rumah Sakit Asri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Tama yang baru saja mengalami peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya terlihat tegar. Pria yang baru bergabung dengan ICW setahun lalu ini tetap melayani pertanyaan orang yang datang menjenguk.

Sambil duduk di tempat tidur, dengan kepala yang dibebat perban dan lengan disuntik selang infus. Tama dengan lancer bercerita tentang peristiwa yang menimpanya.

Kamis dini hari itu, ia memboncengkan Muammar Khaddafi, rekan mitra ICW dari Sulawesi Tenggara, menuju kantor ICW. Mereka baru saja selesai menonton bareng pertandingan sepak bola Piala Dunia antara Jerman dan Spanyol di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Setiba di Jalan Duren Tiga Raya, dua sepeda motor memepetnya, sementara di belakang mereka mobil Toyota Avansa menempel ketat. “Mereka berempat, mengendarai dua sepeda motor. Masing-masing dua orang satu sepeda motor,” kisah Tama. Sepeda motor di sisi kanan memotong jalan dan menyebabkan sepeda motor Tama oleng. “Saya jatuh setelah ditabrak sepeda motor kedua,” katanya.

Tama dan Khaddafi terpental ke jalan. Namun, teror itu baru awal. Salah seorang dari pengendara motor itu tiba-tiba mendatangi Tama yang tersungkur di jalan tana daya. “Dia memukuli kepala saya. Saya hanya bisa melindungi diri dengan tangan. Saya tidak tahu mereka melukai saya menggunakan apa. Saya tidak melihat,” papar Tama.

Khaddafi menambahkan, “saya melihat lelaki itu mengeluarkan benda semacam pisau dari dalam jaket. Kejadiannya begitu cepat, lalu ia bergegas pergi.”

Khaddafi yang berada di sekitar 10 meter dari Tama sama sekali tak disentuh pelaku. “Sepertinya pelaku memang mengincar Tama sebagai sasaran penganiayaan,” kata Khaddafi.

Tama Memang Diincar

Selasa lalu, Tama sempat menyampaikan ke kawan-kawannya, dia dikuntit dan diteror beberapa orang. “Beberapa hari sebelumnya saya ditelepon orang ngakunya dari Kompas, namanya Roni, dengan logat bicara seperti orang Medan. Bilangnya mau joint investigasi bareng ICW. Ngotot banget pengen ketemuan. Saya bilang ke kantor saja. Namun dia enggak mau. Makanya ketemu di luar. Aneh, biasanya wartawan datang saja ke kantor,” ungkap Tama.

Koordinator Divisi Hukum dan Pemantauan Peradilan ICW Febri Diansyah memastikan, di Kompas di Jakarta tidak ada wartawan bernama Roni. Aktivis di ICW, khususnya Tama, semakin curiga ada sesuatu yang tak beres. “Setiap kali dia menelepon, suaranya berbeda-beda. Tiba-tiba Senin ia menelepon lagi, bilang sudah ada di luar ICW. Saya bilang masuk saja, tetapi dia enggak mau. Bilangnya gak enak sama wartawan lain. Waktu itu ICW sedang ada konferensi pers soal sistem online SMA. Dia enggak tahunya nungguin di tukang bakso,” tutur Tama.

Tama malam itu pulang bareng aktivis ICW lainnya, Febri Hendri. “Nah, kita diikutin, tuh, yang satu pakai motor Satria dan satu lagi pakai Thunder. Nah, depan Kalibata Mall, saya pisah dengan Febri. Ia lurus, saya muter balik. Pas muter balik itu saya dengar dari belakang ada yang teriak: ikutin yang motor hitam,” kata Tama. Dia pun balik ke kantor dan menginap di sana.

Febri menambahkan, hari hari berikutnya, Kantor ICW dipantau sejumlah orang bersepeda motor. Mereka hilir mudik seharian.

Usman mengatakan, jika terror untuk menghabisi Munir dilakukan dengan senyap, terror terhadap Tama sebenarnya dilakukan secara jalanan. “Wilayah Jakarta Selatan bukan daerah rawan. Seharusnya dalam hitungan hari pelaku bisa ditangkap. Jika tidak, kecurigaan public terhadap polisi akan makin menguat,” ujarnya.

Peristiwa terror ini memang menjadi tantangan besar bagi polisi yang mengklaim sukses melacak sejumlah gembong teroris di negeri ini.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan Komisaris Nurdi Satriaji mengatakan, “Saya tidak mau menyimpulkan kaitan peristiwa ini. Silahkan mengartikan sendiri. Yang jelas pelaku bukan dari kepolisian. Bodoh jika polisi melakukan hal ini.”

Nurdi bertekad membongkar kasus ini sampai tuntas. Kasus in erat kaitannya dengan citra kepolisian. Seakan-akan memang ada pihak yang memanfaatkan situasi.  (Ahmad Arif dan Andy Riza Hidayat/Kompas Cetak, edisi 9 Juli 2010)