Perbedaan Itu Niscaya Perdamaian Itu Kemuliaan

0
1494
Doa Bersama dari perwakilan Muslim Syiah, Pesantren, Bahai, Sunda Wiwitan dalam pembukaan Pentas Budaya Jambore Anak Muda.

Fahmina.or.id, Kuningan. Perbedaan itu niscaya perdamaian itu kemuliaan, demikian potongan bait sajak yang dibacakan Hasyim pemuda Syiah dalam pentas budaya jambore anak muda yang digelar oleh Fahmina Institute, dalam program Respect and Dialoge (READY) di Bumi Perkemahaan Sidomba, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. Sabtu, (14/5/2016).

Ia berharap perbedaan yang ada dapat menjadikan modal sosial untuk hidup lebih berwarna. “Kekerasan yang terjadi akibat perbedaan sangat disayangkan, dengan perbedaan justeru menjadikan kita kaya karena perbedaan itu niscaya jalan tuk mempertemukannya adalah dialog,” katanya saat ditemui redaksi setelah acara.

Dalam pementasan budaya itu, menampilkan berbagai tarian tradisional yang mewakili kebudayaan yang beragam seperti Tari Buyung dari Sunda Wiwitan Cigugur Kuningan, Tari Topeng Rumyang dari Sanggar Tari Sekar Pandan Keraton Kacirebonan, Barongasan dan Kreasi Topeng Barong dari Perguruan Seni Beladiri Kelabang Cirebon, serta Marawis Cakrabuana dari Komutias Alang-Alang dengan pesan perdamaian dalam setiap liriknya.

Jambore yang bertajuk “Saling Menghargai dan Membuka Dialog untuk Kehidupan Bersama” ini, berlangsung selama tiga hari, sejak Kamis-Sabtu (12-14) Mei 2016. Kegiatan ini melibatkan 100 pemuda dari pelajar dan mahasiswa se-wilayah Cirebon dari berbagai latar belakang yang beragam.

Menurut Direktur Famina, Rosidin, mengatakan jambore yang mlibatkan anak muda ini diharapkan dapat memberikan pelajaran yang berharga sekaligus menyadari pentingnya arti kebersamaan dalam setiap ruang kehidupan walau dengan kelompok maupun orang yang berebeda.

“Dalam kegiatan ini  kami pertemukan anak muda dari beberapa wilayah dengan latar belakang etnis, agama dan kebudayaan yang berebda, hal ini penting dilakukan agar anak muda ini terbiasa untuk menerima perebedaan itu serta ,menjujung prinsip kemanusiaan untuk  kebersamaan dan dapat berdialog satu sama lain,” ungkapnya saat membuka acara tersebut pada Kamis (12/5).

Selama tiga hari itu, peserta diajak untuk berdialog dalam rangka membangun kesadaran bawa setiap warga negara memiliki hak kewarganegaraannya yang layak, apapun agama dan keyakinannya. Serta bagaimana membangun iklim damai melalui kampanye kreatif khas anak muda.

Penangggung jawab acara, Alifatul Arifiati, mengatkan ada enam kelompok kampanye kreatif yang dipresentasikan dalam kegiatan itu, yang selanjutnya akan dipilih tiga kelompok terbaik untuk diikut sertakan dalam Jambore tingkat nasional.

“Ada enam kelompok kampanye kreatif yang kesemuanya memiliki keunikan tersendiri namun hanya tiga tebaik yang akan ikut dalam jambore nasional. Kampanye kreatif ini akan menjadi bahan bersama dalam menyampaikan perdamaian dan pentingnya dialog bersama dengan cara-cara kreatif anak muda,” terangnya.

Tiga diantarannya yaitu Komunitas Alang-Alang yang menampilkan kampanye kreatif melalui Marawis dan mading (majalah dinding), Komunitas Ahmadiyah berkampanye melalui seni Mural dan Grafiti serta Website Pemuda Untuk Cinta Damai dengan link http://youth4love.com/ yang digagas oleh Rudi bersama tim. (ZA)