Perdagangan Manusia; Hikayat Wiralodra, Geliat Bongas…

0
802

Mayoritas warga Bongas buta huruf, atau maksimal lulusan sekolah dasar. ”Di sini, tamat SLTP sudah cukup tinggi,” kata Nono, pembina masyarakat setempat.

Selain tidak ada biaya, untuk mencapai SLTP terdekat, mereka setidaknya harus mengayuh sepeda selama hampir dua jam, melewati jalan berlubang tak ubahnya sungai kering.

Mau tak mau situasi ini membawa mereka mengambil jalan pintas, dalam perdagangan manusia. Salah satu pelaku mengatakan, ia mendapat imbalan minimal Rp 100.000 untuk tiap anak ”terjual”. Karena itu, tak jarang ia mendapatkan penghasilan di atas Rp 2 juta per bulan. ”Jauh lebih besar jika saya bertani,” ujarnya.

Hal itu bisa dimengerti. Sawah hijau yang terbentang luas tak lagi milik mereka. Sebagian besar dari mereka hanya buruh tani.

Konon, ia sama sekali tidak kesulitan mencari mangsa. Pekerjaan itu ia lakukan sepengetahuan orangtua si anak. ”Waktu itu malah saya merasa membantu menyalurkan mereka untuk mendapatkan pekerjaan,” ujarnya. Tak heran di tempat itu ada pula keluarga yang menjalani profesi sama secara turun-temurun. Dalam arti, profesi ibu kemudian diteruskan anak perempuannya.

Wiralodra

Bagaimanapun ”nasib” Bongas tak bisa dilepaskan dari legenda setempat. Hikayat yang beredar dari mulut ke mulut menuturkan, alkisah Raden Wiralodra, putra ketiga Tumenggung Gagak Singalodra yang bermukim di daerah Banyuurip, Bagelen, Jateng, terpanggil untuk mencari dan mengembangkan wilayah di sekitar Sungai Cimanuk.

Di bawah kepemimpinan Wiralodra, wilayah itu berkembang pesat. Karena itu, ia ingin memperluas wilayahnya hingga ke Sumedang. Dengan kesaktiannya, Wiralodra lalu mengubah dirinya menjadi seorang perempuan sangat cantik bernama Nyi Endang Dharma Ayu. Melihat kecantikan Darma Ayu, Adipati Sumedang jatuh hati, lalu memperistrinya.

Sebagai mas kawin, Adipati Sumedang bersedia memenuhi segala permintaan Nyi Darma Ayu yang meminta sebidang tanah seluas kulit kerbau. Ketika digelar, kulit itu membentang luas dari Begelen ke Sumedang. Setelah pernikahan, Nyi Darma Ayu kembali menjadi laki-laki.

Nama Endang Dharma Ayu lalu menjadi asal nama Indramayu. Hingga saat ini masyarakat setempat masih percaya pada hikayat tersebut. Konsekuensinya, mereka menggunakan pesona kecantikan untuk memperbaiki nasib.

Namun, menurut Sejarah Indramayu, masalah perbudakan telah muncul sejak abad XVI. Golongan bangsawan dan pedagang besar sering menggunakan budak untuk menjaga rumahnya.

”Akan halnya perbudakan di Indramayu…, berdasarkan pemberitaan yang terjadi di Banten dan Jakarta, dapatlah diambil kesimpulan bahwa sejak abad XVI di Indramayu telah dikenal sistem perbudakan yang oleh Syoberg disebut sebagai out-cast,” demikian disebutkan dalam Sejarah Melayu yang disahkan DPRD Indramayu, Januari 1960.

Terlepas dari semua itu, yang pasti rata-rata warga Bongas tinggal di rumah berdinding bambu dan berlantai tanah. Animo warga untuk mengirimkan anak perempuannya ke luar negeri tumbuh bertubi-tubi begitu melihat anak tetangganya berhasil menyulap rumah reyot orangtuanya menjadi rumah megah dan mewah, sepulang dari luar negeri.

Kondisi ini bahkan membuat sebagian orangtua tidak menghargai pendidikan tinggi, kedudukan, atau pangkat. ”Saya tidak butuh pangkat atau kedudukan tinggi. Itu anak di depan rumah, tidak sekolah tetapi bisa membangun rumah gedong”, kata sang orangtua.

Geliat Bongas

”Itu kesulitan kami mendorong mereka sekolah. Selain jauh, mereka juga menganggap sekolah hanya membuang uang, tidak menghasilkan uang,” kata Nono.

Untuk mengatasi hal itu, tahun 2004 Nono bersama Syarif membuka SLTP terbuka gratis, bekerja sama dengan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan Yayasan Kusuma Buana di Jakarta.

Upaya itu diperkuat dengan penyuluhan terus-menerus. Atau setidaknya kala tidak bisa mencegah keinginan orangtua, mereka berusaha mencarikan pekerjaan dengan prosedur yang sesuai dan identitas asli. Bekerja sama dengan camat setempat, mereka menyelipkan syarat ijazah atau akta kelahiran untuk mengurus kartu tanda penduduk guna menghindari identitas palsu.

Bongas mulai menggeliat. Angka perdagangan anak pun menurun. Dari 17 anak pada tahun 2005, tahun 2007 menjadi 8 anak. Walau begitu, banyak pula rumah bagus yang dibangun dengan dasar keringat sebagai TKI atau TKW legal di Timur Tengah.

Begitu juga rumah Nono yang indah dan asri. ”Ini rumah istri, karena yang mbangun dia, hasil kerja di Taiwan selama tiga tahun,” katanya.[] Sumber: KOMPAS , Jumat, 18 April 2008 | 00:58 WIB