Peringatan Hari Santri Nasional: Santriwati Se-Kabupaten Cirebon Gelar Bahstul Kutub

0
1394

Fahmina.or.id, Cirebon. Puluhan santri perempuan se-wilayah Kab. Cirebon antusias mengikuti kegiatan Bahtsul Kutub yang diselenggarakan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dan Ikatan Keluarga Asrama-Asrama Pondok Buntet Pesantren (IKAPB), di Pesantren Al Hidayah Buntet. Pada hari Jum`at (16/10). Kegiatan ini sekaligus menandai peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober mendatang. Hal itu di katakan Aida Ketua IPPNU Kab. Cirebon “Melalui Departemen Komunikasi dan Kepesantrenan, kami bekerjasama santriwati se-kabupaten Cirebon mengadakan acara Bahstul Kitab, sekaligus menyambut hari Santri Nasional,” kata Aida, di sela-sela acara.

Ia menambahkan bahwa didalam kepengurusan organisasinya, kebanyakan dari mereka berstatus santri, sehingga acara ini penting untuk menambah kemampuan dalam memahami isi kitab serta lebih mencintai keilmuan pesantren. Dalam kesempatan itu santriwati membedah kitab al Ghayah wa al Tqrib karya Abi Syujaa.

Masing-masing perwakilan santri itu diantaranya dari Pesantren Buntet, Pesantren Babakan Ciwaringin, Pesantren Kempek dan Pesantren Gedongan. Kegiatan ini juga sebagai pemantik bagi pesantren-pesantren lain yang ada di Cirebon dalam upaya mengadakan kegiatan yang sama. Menurut Ustadzah Dedeh, pada umumnya santri perempuan membutuhkan ruang untuk berdiskusi, maka dengan diadakannya forum ini sangat membantu menyalurkan aspirasi itu, sekaligus mengasah kemampuan santri membaca kitab kuning yang semakin hari berkurang di kalangan santri sendiri.

“Di Buntet sendiri sudah berjalan sejak  tahun 2006 silam, hal ini buah dari usaha kami para santriwati untuk bisa mengaktualisasikan diri dan mengembangkan kemampuan membaca dan memahami isi kitab kuning,” ungkap anggota IKAPB itu.

Dengan tampilnya santriwati dalam setiap kegiatan di pesantren diharapkan menjadi modal dasar bagi perkembangan geliat intelektualitas santri perempuan. Karena masih banyak yang meragukan kemampuan santri perempuan dalam membaca dan membedah kitab, dengan usaha ini diharapkan mampu mencetak ulama-ulama perempuan. “Harapannya perempuan lebih  bisa mengembangkan ilmu dari pesantren, bisa mucul bibit ulama perempuan serta bisa dikembangkan dimasyarakat,” pungkasnya. (ZA)